Pengiriman Senjata China ke Iran Dituduh oleh Intelijen AS
Intelijen Amerika Serikat (AS) menyebutkan bahwa China sedang bersiap mengirimkan sistem pertahanan udara mereka kepada Iran. Hal ini dianggap sebagai tindakan provokatif, terlebih karena Beijing sebelumnya telah mengklaim bahwa mereka berperan dalam menginisiasi kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Menurut informasi intelijen tersebut, China akan mengirimkan bantuan persenjataan kepada Iran dalam beberapa pekan mendatang, seiring dengan adanya gencatan senjata antara AS dan Iran. Mereka juga menilai kemungkinan besar Iran akan memanfaatkan situasi ini untuk mengisi kembali sistem persenjataannya dengan bantuan mitra-mitranya.
Selain itu, ada indikasi bahwa China akan menggunakan negara ketiga sebagai perantara dalam pengiriman senjata tersebut, agar asal sebenarnya tidak mudah diketahui.
Peringatan dari Presiden Trump
Presiden Donald Trump merespons dugaan pengiriman senjata tersebut dengan mengingatkan China bahwa jika mereka benar-benar melakukannya, maka China akan menghadapi konsekuensi yang serius. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara yang dilansir oleh Reuters pada Minggu (12/4/2026).
Dalam konferensi pers yang diadakan pada Senin (6/4/2026), Trump juga menyatakan bahwa jet tempur F-15 yang ditembak jatuh di atas Iran pekan lalu mungkin terkena rudal bahu genggam. Iran sendiri mengklaim telah menggunakan sistem pertahanan udara yang baru, namun belum jelas apakah sistem tersebut berasal dari China.
Sumber-sumber lain mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan China menjual teknologi dwiguna kepada Iran. Teknologi ini memungkinkan Teheran terus membangun senjata dan meningkatkan sistem navigasinya.
Hubungan China dengan Iran dan Rusia
Trump diperkirakan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping bulan depan di Beijing. Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pembicaraan tingkat tinggi telah berlangsung antara AS dan China selama negosiasi gencatan senjata Iran berlangsung.
Beijing disebut tidak melihat nilai strategis dari dukungan secara terbuka terhadap konflik. Sebaliknya, mereka mencoba memposisikan diri sebagai teman yang berkelanjutan bagi Iran sambil tetap netral agar dapat mempertahankan penyangkalan setelah perang berakhir.
Sumber-sumber mengatakan bahwa China juga berargumen bahwa sistem pertahanan udara mereka bersifat defensif dan bukan ofensif, sehingga berbeda dari dukungan yang diberikan Rusia. Moskow telah memberikan dukungan kepada rezim Iran sepanjang perang dalam bentuk berbagi intelijen yang membantu Iran menargetkan pasukan dan aset AS di Timur Tengah.
Iran telah lama menjalin hubungan militer dan ekonomi dengan China dan Rusia. Mereka juga banyak membantu Rusia dalam perangnya di Ukraina melalui penyediaan drone Shahed dan menjual sebagian besar minyak yang dikenai sanksi kepada China.
Penyangkalan dari Pihak China
Seorang juru bicara Kedutaan Besar China di Washington menyangkal tuduhan bahwa China menyediakan senjata kepada pihak mana pun yang terlibat dalam konflik. Mereka menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar dan menegaskan bahwa China tidak pernah menyediakan senjata kepada siapa pun.
“Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China secara konsisten memenuhi kewajiban internasionalnya. Kami mendesak pihak AS untuk menahan diri dari membuat tuduhan tanpa dasar, membuat hubungan yang tidak berdasar, dan terlibat dalam sensasionalisme,” tambah juru bicara tersebut.
China juga menegaskan bahwa sejak perang AS-Israel dan Iran dimulai, Beijing telah berupaya keras untuk membantu mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri konflik. Mereka berharap pihak-pihak terkait dapat melakukan lebih banyak lagi untuk meredakan ketegangan.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












