Samarinda – Kembali terjadi insiden kecelakaan di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sebuah tongkang kembali menabrak pilar Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), Kota Samarinda, pada Minggu (25/1/2026) pukul 05.00 Wita. Peristiwa ini menjadi tambahan dalam daftar panjang kecelakaan serupa yang terjadi dalam waktu kurang dari sebulan terakhir.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, kejadian bermula saat tugboat (TB) Atlantic Star 23 menabrak buoy tambat yang digunakan oleh TB Marina 1631. Saat itu, TB Marina 1631 sedang menggandeng tongkang BG Marine Power 3066 di jalur Sungai Mahakam. Senggolan tersebut menyebabkan tali tambat putus dan membuat tongkang kehilangan kendali.
Di sekitar lokasi kejadian juga terdapat TB Karyastar 67 yang sedang menarik tongkang BG Bintang Timur 03. Padatnya lalu lintas sungai di kawasan tersebut diduga memperburuk situasi hingga berujung pada kecelakaan.
Seorang warga Sengkotek, Idi (52), yang bekerja di sungai, mengaku mengetahui kejadian tersebut dari radio jalur kapal. Dari informasi yang diterimanya, disebutkan bahwa terjadi insiden putusnya tali buoy dan tongkang larut akibat ditabrak kapal lain. Ia langsung bangun dan mengambil perahu untuk memastikan kondisi di lokasi kejadian.
Saat tiba di sekitar Jembatan Mahakam Ulu, Idi melihat satu buah tongkang berada persis di fender jembatan tanpa kapal penarik. Menurutnya, tali penarik tongkang putus akibat tabrakan sebelumnya. “Kapal yang menabrak itu sempat menghidupkan mesin, tapi tali towing justru terbelit di baling-baling kapal,” katanya.
Akibat kondisi tersebut, perwira kapal dievakuasi menggunakan perahu dan dipindahkan ke tongkang untuk berlabuh jangkar. Namun, derasnya arus Sungai Mahakam membuat jangkar tidak mampu menahan beban tongkang. “Tongkang kembali larut dan akhirnya menghantam tiang jembatan,” jelas Idi.
Ia menambahkan, berdasarkan keterangan nakhoda dan kapten kapal, insiden tabrakan awal terjadi sekitar pukul 05.00 Wita saat TB Atlantic Star 23 turun melintas di jalur sungai. Idi menyebut kejadian ini bukan yang pertama. Dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan, insiden tongkang menabrak Jembatan Mahakam Ulu telah terjadi sebanyak 3 kali, sebelumnya 2 kali terjadi pada 23 Desember 2025 dan 4 Januari 2026.
“Belum ada sebulan sudah tiga kali kejadian. Kami yang tinggal di pesisir sungai sekarang merasa takut setiap melihat kapal melintas,” ujarnya. Ia berharap kejadian serupa tidak terus berulang karena selain mengancam keselamatan warga, juga berpotensi merusak infrastruktur vital kota.
Idi juga menyoroti persoalan jarak tambatan tongkang di sekitar jembatan. Menurutnya, sesuai aturan Dinas Perhubungan, jarak tambatan dari jembatan seharusnya mencapai 1.200 meter. Namun di lapangan, banyak tongkang yang berada jauh di bawah batas aman tersebut. “Karena arus sungai kuat, sering kali tongkang larut. Ada yang jaraknya hanya sekitar 300 sampai 400 meter dari jembatan, jelas tidak sesuai aturan,” katanya.
Ia menduga buoy atau bui-bui tambatan tersebut tidak dikelola oleh masyarakat dan tidak memiliki izin resmi, melainkan dikelola oleh pihak-pihak tertentu.
Sementara itu, Ipda Rifqhi Sactio, Pamapta 1 Polresta Samarinda, membenarkan adanya insiden kecelakaan air tersebut. Pihak kepolisian menerima laporan dari warga sekitar pukul 05.00 Wita. “Dapat kami benarkan telah terjadi kecelakaan air, di mana sebuah tongkang kembali menabrak pilar Jembatan Mahakam Ulu, Kota Samarinda,” ujar Rifqhi.
Menurut Rifqhi, tongkang yang menabrak jembatan adalah Marine Power 3066 yang ditarik oleh TB Marina 1631. Setelah menerima laporan, jajaran Polairud Polresta Samarinda langsung menuju lokasi untuk melakukan pendampingan, pengamanan, serta proses evakuasi. “Terkait anak buah kapal (ABK), saat ini sudah diamankan dan masih menjalani interogasi oleh Polairud Polresta Samarinda,” katanya.
Ia menambahkan, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses pendalaman. Polisi telah meminta keterangan dari sejumlah ABK, termasuk juru mudi, serta saksi-saksi yang melihat langsung kejadian tersebut. “Terkait dugaan awal penyebab kejadian, kami belum bisa menyampaikan karena masih dilakukan penyelidikan lebih lanjut,” pungkasnya.











