Penyebab Kenaikan Harga Plastik di Sumut dan Dampaknya pada Pelaku Usaha
Kenaikan harga plastik yang terjadi di berbagai wilayah, termasuk Sumatra Utara (Sumut), telah menjadi perhatian serius bagi para pedagang. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag ESDM) Sumut, Charles Situmorang.
Charles menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik bukan hanya terjadi di Sumut, tetapi juga secara nasional. Faktor utamanya adalah ketergantungan terhadap bahan impor yang mengalami kendala. Ia menegaskan bahwa pemerintah sedang melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan harga plastik ke tingkat sebelumnya.
“Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu penyebab utama. Plastik yang biasanya menggunakan bahan dasar petrokimia, maka ketika harga minyak naik, biaya produksi plastik ikut meningkat. Selain itu, gangguan pasokan bahan baku seperti nafta dan resin juga turut memengaruhi,” jelas Charles.
Selain faktor ekonomi global, konflik antara Iran dan Israel juga memberikan dampak signifikan. Konflik ini menghambat distribusi dari Timur Tengah, sumber utama impor Indonesia. Charles menilai bahwa industri dalam negeri masih belum kuat dan sangat rentan terhadap gejolak global.
“Disrupsi logistik global, spekulasi, serta penyesuaian harga yang cepat terjadi di pasar. Biaya pengiriman yang meningkat dan keterlambatan suplai membuat stok di pasar semakin sempit. Akibatnya, pelaku usaha terpaksa menaikkan harga untuk antisipasi kelangkaan dan kenaikan lanjutan,” tambahnya.
Upaya Pemerintah untuk Mengatasi Kenaikan Harga Plastik
Charles menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan beberapa langkah untuk mengatasi masalah ini. Berikut adalah beberapa upaya yang dilakukan:
- Jangka pendek: Diversifikasi impor bahan baku dari negara-negara seperti India dan Afrika, pemberian insentif pajak (PPN/PPH UMKM), serta stabilisasi distribusi.
- Jangka menengah: Memperkuat industri petrokimia domestik dan membangun buffer stock resin plastik.
- Jangka panjang: Mendorong substitusi kemasan dengan alternatif seperti bioplastik dan produk reusable, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Charles juga menyampaikan bahwa Dinas PerindagESDM Provinsi Sumut akan terus mengedukasi masyarakat untuk menggunakan tas belanja sendiri. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga plastik mulai terjadi sejak kenaikan harga minyak dunia akibat konflik antara AS dan Iran. Meski saat ini tidak terjadi kelangkaan, namun harga terus meningkat.
Dampak pada Pedagang dan Masyarakat
Banyak pedagang di Kota Medan mengeluhkan kenaikan harga plastik yang cukup signifikan. Beberapa jenis plastik, seperti plastik kresek, HD, dan OPP, mengalami kenaikan hingga 80 persen.
Dani (35), seorang pedagang bakso bakar di Jalan Abdullah Lubis, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik membuatnya harus bertahan dengan keuntungan yang semakin tipis. “Semua naik, mulai dari plastik kecil sampai pembungkus bumbu pun naik. Ya saya pasrah saja dengan untung tipis,” ujar Dani.
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga sudah berlangsung hampir sebulan. Meski demikian, Dani tetap mempertahankan harga jual agar tidak mengecewakan pelanggan. “Sebenarnya sudah mulai mencekik, semua naik, bukan hanya plastik, daging ayam pun naik,” jelasnya.
Hal serupa dirasakan oleh Rial (57), pedagang buah yang telah berjualan selama sekitar 20 tahun. Ia mengungkapkan bahwa harga plastik mengalami kenaikan cukup signifikan, dari sebelumnya sekitar Rp30 ribu menjadi Rp50 ribuan per kilogram. “Rata-rata naik. Dari harga Rp30 ribu sekarang jadi Rp50 ribuan sekilonya,” ujar Rial.












