Perang Iran vs Amerika, Trump Minta Khamenei Mundur

Update Perang Iran vs Amerika

Presiden AS Donald Trump mengunggah di akun Truth Social miliknya sebuah artikel yang menjelaskan pilihan-pilihan yang dimiliki oleh pihaknya terkait masalah Iran, termasuk kemungkinan memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran. Artikel tersebut merujuk pada laporan Just News yang membahas kemungkinan tindakan tersebut jika pembicaraan antara kedua pihak gagal.

Trump menulis: “Kartu truf presiden jika Iran tidak mundur: blokade angkatan laut,” dengan memposting ulang laporan tersebut. Laporan surat kabar menyatakan bahwa jika Iran menolak untuk menerima perjanjian akhir yang ditawarkan oleh Amerika Serikat, Trump mungkin akan melakukan pengeboman terhadap Teheran dan mengembalikannya ke “Zaman Batu” seperti yang telah ia ancam. Atau ia mungkin akan kembali menerapkan strategi sanksi yang berhasil untuk mencekik perekonomian Iran yang sudah lemah, dan meningkatkan tekanan diplomatik terhadap China dan India dengan memutus salah satu pasokan minyak utama mereka.

Perundingan penting antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Pakistan dimaksudkan untuk mengubah gencatan senjata dua minggu agar langgeng atau paling tidak berakhir dengan ‘perdamaian’. Namun perundingan maraton yang berlangsung sekitar 21 jam itu berakhir tanpa kesepakatan antara AS dengan Iran.

Berikut 5 poin penyebab mengapa perundingan tersebut gagal:

1. Kedua Pihak Kaku Tidak Ingin Berkompromi

Alasan utama kegagalan pembicaraan AS-Iran di Islamabad adalah karena kedua pihak tidak bersedia berkompromi atau bergeser dari tuntutan mereka. AS menuntut agar Iran menghentikan pengayaan uranium dan berkomitmen untuk tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir di masa depan. Iran menolak. Mereka menegaskan bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan sipil yang damai.

“Kami tidak dapat mencapai situasi di mana Iran bersedia menerima persyaratan kami,” kata pimpinan delegasi AS yakni Wakil Presiden AS JD Vance. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tuntutan AS tersebut “berlebihan dan tidak masuk akal”.

2. Suasana Tidak Kondusif dan Ancaman Trump

Perundingan perdamaian membutuhkan kepercayaan. Atau setidaknya ketenangan atau rasa tenang. Saat para negosiator dari Iran dan AS berkumpul di Islamabad, tidak ada dua faktor itu. Presiden AS Donald Trump berulang kali mengeluarkan ancaman terhadap Iran dan bahkan mengatakan “seluruh peradaban akan mati malam ini”, tidak meredakan ancamannya bahkan beberapa jam sebelum pembicaraan dimulai.

Saat para pejabat Iran mendarat di Pakistan, Trump memperingatkan bahwa ia akan memperbarui dan mengintensifkan serangan AS jika kesepakatan perdamaian tidak tercapai. Suasana permusuhan tersebut membentuk jalannya perundingan. Iran melihatnya sebagai tekanan, bukan diplomasi.

3. Israel Ikut Menghambat Negosiasi?

Bahkan ketika pembicaraan Iran-AS sedang berlangsung di Pakistan, Israel terus melakukan serangan di Lebanon, wilayah yang dikuasai oleh Hizbullah, kelompok yang selama ini didukung Iran. Iran menginginkan serangan Israel terhadap Lebanon dihentikan sebagai prasyarat untuk perundingan perdamaian. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata bilateral antara AS dan Iran tidak berlaku untuk Iran. Serangan Israel terhadap Lebanon terus berlanjut.

Menteri Pertahanan Pakistan Khwaja Asif memprovokasi Israel dengan sebuah cuitan, yang kemudian dihapusnya, menjelang perundingan. Asif menuduh Israel melakukan “genosida” di Lebanon. Unggahannya yang menyerukan “pemusnahan Israel” menuai reaksi marah dari kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

4. Selat Hormuz Penghalang Kesepakatan

Selat Hormuz, yang sebagian besar telah ditutup Iran sejak 28 Februari, berubah menjadi titik permasalahan utama dalam pembicaraan AS-Iran. Iran sebelumnya telah memasang ranjau di beberapa bagian selat tersebut, yang menghambat pelayaran dan aliran minyak dari Teluk Persia. AS menginginkan Selat Hormuz segera dibuka kembali. AS menganggap ini sebagai hal yang tidak dapat dinegosiasikan, kata Trump berulang kali.

Dia bahkan melontarkan kata-kata kasar di Truth Social, memperingatkan Iran bahwa mereka akan “hidup di neraka” jika mereka tidak membuka Selat tersebut. Namun, Iran melihat Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar. Mereka menginginkan pencabutan sanksi yang dikenakan kepada mereka dan jaminan keamanan sebagai prioritas utama.

5. Faktor Kepercayaan Dua Pihak

Pada akhirnya, kepercayaan adalah penentu terbesar dalam perundingan perdamaian di Islamabad. Bertahun-tahun permusuhan membuat kedua belah pihak meragukan niat satu sama lain. Bahkan sebelum perundingan, negosiator Iran yakni Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, “Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak saling percaya”. Pola pikir itu adalah beban dari Iran yang dibawa oleh para negosiator selama 21 jam pembicaraan.

Kegagalan perundingan di Islamabad membuat gencatan senjata semakin rapuh.

Gusun Fawaida

Gusun Fawaida merupakan seorang Penulis yang fokus pada isu lingkungan kerja, produktivitas, dan human interest. Ia senang mengamati perilaku manusia, membaca buku self-improvement, dan minum kopi sambil menulis ide. Motto: “Tulislah untuk memberi dampak.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *