Aktivitas Pengiriman Kayu Gelondongan di Aceh Barat Dinilai Mencurigakan
LSM Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat mengungkapkan kekhawatiran terhadap aktivitas pengiriman kayu gelondongan yang terjadi pascabanjir bandang di wilayah tersebut. Menurut lembaga ini, aktivitas tersebut dinilai mencurigakan karena berlangsung saat daerah masih dilanda bencana alam.
Permintaan untuk melakukan penyelidikan disampaikan setelah adanya temuan lapangan terkait pengangkutan kayu secara terbuka dari kawasan hutan Aceh Barat ketika dampak banjir bandang belum pulih sepenuhnya. Koordinator LSM GeRAK Aceh Barat, Edy Syahputra, menegaskan pentingnya tindakan aparat penegak hukum dalam mengusut aktivitas tersebut.
“Kami mendesak aparat penegak hukum untuk segera melakukan penyelidikan terkait maraknya aksi pengiriman kayu gelondongan dari hutan Aceh Barat, saat Aceh masih dilanda bencana alam,” ujar Edy kepada ANTARA di Meulaboh, Sabtu.
Menurut Edy, Aceh Barat merupakan salah satu daerah yang terdampak banjir bandang dengan kerusakan permukiman warga dan sarana umum. Ia menilai pengusutan pengiriman kayu gelondongan sangat penting, mengingat saat ini Aceh Barat termasuk salah satu daerah di Aceh yang dilanda bencana alam banjir bandang.
Ia juga menjelaskan bahwa material kayu juga ikut terbawa saat banjir terjadi. “Faktanya ketika banjir bandang terjadi, sejumlah material selain lumpur juga ikut terbawa arus sungai yang begitu kuat, salah satunya yaitu kayu,” katanya.
Temuan Lapangan dan Dokumentasi
LSM GeRAK Aceh Barat mencatat adanya kayu berukuran besar yang hanyut saat banjir melanda kawasan Tutut, Kecamatan Sungai Mas. Fakta lain yang mereka temukan di lapangan sebagaimana terdokumentasi dan diberitakan di media, terdapat kayu-kayu besar yang ikut hanyut terseret air sungai yang meluap dan menghantam jembatan di Tutut, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat pada Rabu dan Kamis (26-27/11) lalu ketika banjir parah terjadi di Aceh Barat.
Selain itu, dokumentasi lanjutan juga menunjukkan aktivitas pengangkutan kayu setelah bencana. Berdasarkan dokumentasi yang mereka peroleh pada Kamis, 11 Desember 2025 juga terdapat dua unit truk mengangkut kayu gelondongan yang masih basah atau berlumpur.
Edy menjelaskan detail muatan salah satu kendaraan tersebut. “Salah satu truk memuat sekitar tujuh batang kayu dengan perkiraan panjang mencapai lima meter hingga tujuh meter,” katanya.
Dalam dokumentasi foto, tampak setiap batang kayu memiliki penanda tertentu. “Dari dokumentasi foto tersebut, terlihat pada setiap batang kayu tampak menempel lembaran kertas berwarna kuning seperti label tertentu.”
Kayu-kayu itu disebut diangkut secara terbuka di jalur umum. “Edy Syahputra mengatakan kayu-kayu tersebut diangkut secara terang-terangan yang berada dalam lintasan jalan yang berada di kawasan Lancong, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.”
Dorongan Penegakan Hukum dan Dampak Lingkungan
Atas temuan tersebut, GeRAK Aceh Barat meminta aparat penegak hukum dan pemerintah daerah meningkatkan pengawasan. “Oleh karena itu, pihaknya mendesak dan meminta aparat penegak hukum dan pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap aktivitas keluar-masuk kayu dari kawasan hutan, terutama pascabanjir bandang.”
Ia menekankan kewajiban legal dalam pengangkutan hasil hutan. “Setiap pengangkutan kayu wajib disertai dokumen yang sah. Jika ada truk membawa kayu gelondongan tanpa pengawasan, ini patut diduga adanya pelanggaran,” katanya.
Menurut Edy, praktik penebangan dan pengangkutan kayu tanpa kontrol berpotensi memperparah kerusakan lingkungan. “Edy Syahputra mengatakan praktik penebangan dan pengangkutan kayu tanpa kontrol dapat memperburuk kondisi hutan dan meningkatkan risiko bencana serupa di masa mendatang, dan tidak menutup kemungkinan bencana alam banjir bandang akan datang dan menimpa masyarakat di Aceh.”
Secara konteks, wilayah Aceh Barat memiliki kawasan hutan yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan. Pengawasan yang lemah pada masa krisis berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ekosistem dan memperbesar risiko bencana hidrometeorologi di kemudian hari.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












