Pendakwah Gus Elham Yahya Viral Karena Aksi Cium Anak di Panggung Pengajian
Sebuah video yang menampilkan pendakwah muda, Gus Elham Yahya, mencium anak-anak perempuan di panggung pengajian telah membuatnya viral di media sosial. Kejadian ini memicu berbagai reaksi dari warganet dan tokoh agama. Meski awalnya tidak diperhatikan, tindakan tersebut kini menjadi sorotan utama dan mengundang kecaman luas.
Gus Elham, yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al Ikhlas 2 di Desa Kaliboto, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, lahir pada 8 Juli 2001 dan kini berusia 24 tahun. Dikenal dengan gaya dakwah yang santai dan ringan, ia berhasil menarik perhatian kalangan muda karena pembawaannya yang kekinian dan mudah didekati.
Namun, aksi yang dilakukannya dalam video tersebut menimbulkan kontroversi. Video yang beredar menyebutkan bahwa Gus Elham mencium anak-anak perempuan di tengah acara pengajian. Hal ini menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat dan menuai kritik keras dari berbagai pihak.
Permohonan Maaf dan Komitmen untuk Perbaikan
Setelah kejadian tersebut, Gus Elham akhirnya memberikan pernyataan resmi. Ia menyampaikan permohonan maaf terbuka atas apa yang telah ia lakukan. “Dengan penuh kerendahan hati, saya Muhammad Ilham Yahya Al Maliki secara pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas beredarnya video yang menimbulkan kegaduhan,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa tindakannya di atas panggung merupakan sebuah kekhilafan. “Saya mengakui bahwa hal tersebut merupakan kekhilafan dan kesalahan saya pribadi,” katanya. Meski begitu, ia berkomitmen untuk memperbaiki diri dan menjadikannya sebagai pelajaran.
Gus Elham juga memberikan klarifikasi terkait video yang beredar. Ia menjelaskan bahwa video yang menjadi sumber masalah adalah video lama. “Perlu kami sampaikan video yang beredar merupakan video lama dan telah kami hapus dari seluruh media sosial resmi kami,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa anak-anak dalam video berada dalam pengawasan orang tua masing-masing saat acara berlangsung. “Dan perlu disampaikan juga bahwa anak-anak dalam video viral tersebut adalah mereka yang dalam pengawasan orang tuanya yang mengikuti rutinan Pengajian saya. Namun demikian saya tetap memohon maaf atas hal tersebut,” ujarnya.
Meskipun demikian, ia tetap mengakui bahwa tindakan mencium di panggung itu tidak etis dan tidak sesuai norma. Gus Elham bertekad menyampaikan dakwah dengan cara yang lebih bijak. “Dan saya juga bertekad untuk menyampaikan dakwah dengan cara yang lebih bijak, sesuai dengan norma etika dan budaya bangsa serta menjunjung tinggi akhlakul karimah,” tambahnya.
Reaksi dari Wakil Menteri Agama
Aksi Gus Elham ini juga mendapat perhatian dari Wakil Menteri Agama (Wamenag), Muhammad Syafii. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut harus dihentikan. Menurutnya, tindakan itu bertentangan dengan prinsip madrasah dan pesantren ramah anak.
“Tadi juga ada disimpulkan, ada surat keputusan dari Dirjen Pendis (Pendidikan Islam) tentang madrasah dan pesantren ramah anak yang intinya agar anak-anak madrasah, anak-anak pesantren mendapatkan pemenuhan haknya sebagai peserta didik, dan jauh dari tindak kekerasan yang tidak seharusnya mereka terima,” ujarnya.
Syafii khawatir aksi penciuman anak-anak tersebut dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual. “Saya kira saya sepakat dengan pendapat publik itu dan ini harus dihentikan,” katanya. Ia menyampaikan bahwa pengawasan di lingkungan pendidikan agama, termasuk pondok pesantren dan majelis taklim, harus diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang.
Tindakan yang Akan Diambil
Jika tindakan Gus Elham tidak berubah, Wamenag menyebut langkah pembinaan dapat dilakukan. “Termasuk itu, supaya itu tidak terulang bahkan terhadap yang bersangkutan memang harus ada upaya mengingatkan kepada posisinya jika tidak mengulangi perbuatan-perbuatan itu,” ucapnya.
Gus Elham, yang kini sedang menjalani proses perbaikan diri, diharapkan dapat menjadi contoh bagi para pendakwah lainnya. Dengan komitmennya untuk berdakwah lebih bijak, diharapkan ia dapat menjaga nilai-nilai etika dan budaya yang baik dalam setiap kegiatannya.












