Jangan Sembarangan Pakai Obat Tetes Mata, Dampaknya Berbahaya

Pentingnya Menggunakan Obat Tetes Mata dengan Bijak

Mata merah sering dianggap sebagai masalah kecil yang bisa diatasi dengan obat tetes mata yang tersedia di apotek. Namun, di balik kebiasaan ini, ada risiko serius yang kerap tidak disadari oleh masyarakat. Dokter Spesialis Mata Subspesialis Katarak dan Bedah Refraksi RS Pondok Indah, dr. Amir Shidik, Sp.M, Subsp. K.B.R, menegaskan bahwa penggunaan obat tetes mata tidak boleh dilakukan secara sembarangan, terutama yang mengandung steroid.

Menurut dr. Amir, langkah awal yang paling aman saat mata merah justru bukan langsung menggunakan obat keras. Ia menyarankan untuk memilih artificial tears atau gel sebagai solusi awal.

Langkah Awal: Jangan Panik, Gunakan Air Mata Buatan

Banyak kasus mata merah sebenarnya disebabkan oleh iritasi ringan. Dalam kondisi ini, penggunaan air mata buatan bisa menjadi solusi awal. Dr. Amir menjelaskan bahwa penggunaan air mata buatan dapat dilakukan dalam jumlah yang cukup banyak selama 1-2 hari pertama.

“Sehari bisa 6 kali, 10 kali, 20 kali,” tambahnya. Namun, jika dalam waktu tersebut kondisi tidak membaik, barulah diperlukan evaluasi lebih lanjut.

Waspadai Tanda Infeksi yang Sering Diabaikan

Masyarakat juga perlu memahami perbedaan antara iritasi biasa dan infeksi. Salah satu tanda infeksi yang perlu diwaspadai adalah munculnya kotoran pada mata. “Kalau mulai ada kotoran sekret berarti mulai ada tanda infeksi,” jelas dr. Amir. Pada kondisi ini, penanganan tidak bisa lagi menggunakan obat sembarangan. Diperlukan obat yang sesuai, seperti antibiotik atau kombinasi dengan steroid, namun harus melalui pemeriksaan dokter.

Bahaya Tersembunyi Obat Steroid

Salah satu kesalahan paling sering terjadi adalah penggunaan obat tetes mata yang mengandung steroid tanpa pengawasan. Padahal, efeknya bisa sangat serius. Penggunaan steroid yang tidak tepat dapat meningkatkan tekanan bola mata dan memicu glaukoma. Kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan saraf mata secara permanen.

Dr. Amir mengungkapkan kasus yang cukup mengkhawatirkan. “Umurnya masih 14-15 tahun, tiba-tiba dia teriak, glaukoma advance, gak bisa lihat gelap terakhir,” ujarnya.

Kesalahan Umum: Mengobati Gejala, Bukan Penyebab

Menurut dr. Amir, masyarakat sering kali hanya fokus menghilangkan gejala merah tanpa memahami penyebabnya. Padahal, setiap jenis gangguan mata memiliki penanganan berbeda. Dokter akan menentukan pengobatan berdasarkan kondisi klinis, bukan sekadar keluhan. Jika mata merah tidak membaik dalam 1–2 hari atau disertai gejala lain, segera periksakan ke dokter.

Penanganan yang tepat sejak awal dapat mencegah komplikasi serius. Kesadaran ini penting untuk menghindari kebutaan yang sebenarnya bisa dicegah hanya karena kesalahan penggunaan obat.




Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *