Mengapa Bayi Lebih Dulu Memanggil “Papa” Daripada “Mama”?
Seiring dengan pertumbuhan bayi, mereka mulai menunjukkan keaktifan dalam meniru suara yang ada di sekitarnya. Di fase ini, banyak orang tua berharap kata pertama yang diucapkan oleh si Kecil adalah “Mama”. Namun, tidak jarang bayi justru lebih dulu mengatakan “Papa” atau “Dada”. Hal ini sering memicu pertanyaan: Apakah ini kebetulan? Atau apakah si Kecil lebih dekat dengan papanya?
Ternyata, hal ini bukan sekadar kebetulan. Ada alasan psikologis dan perkembangan yang mendukung fenomena ini. Berikut penjelasannya.
1. Perkembangan Psikologis Bayi
Secara psikologis, bayi di awal kehidupannya belum sepenuhnya menyadari bahwa dirinya dan mama adalah dua individu yang berbeda. Mereka masih merasa menyatu dengan mama karena sejak dalam kandungan hingga setelah lahir, mama menjadi sumber utama kenyamanan dan kebutuhan.
Hal inilah yang membuat bayi tidak merasa perlu memanggil “Mama” karena dalam nalurinya, sosok mama selalu ada dan seolah menjadi bagian dari dirinya. Sebaliknya, papa dipandang sebagai sosok di luar dirinya. Saat bayi mulai mengenali lingkungan sekitar, papa menjadi salah satu “orang lain” pertama yang disadari kehadirannya.
Oleh sebab itu, ketika bayi mulai belajar memberi suara dan menyebut orang di sekitarnya, kata “Papa” atau “Dada” lebih dulu muncul sebagai bentuk pengenalan terhadap sosok di luar dirinya.
2. Kata “Papa” Lebih Mudah Diucapkan
Menurut Ahli Patologi Bicara Berlisensi, Michelle Mintz, bunyi “Dada” cenderung lebih mudah diucapkan oleh bayi dibandingkan “Mama”. Hal ini karena sebagian besar bayi terbiasa melakukan gerakan mengisap untuk menenangkan diri, sehingga posisi lidah mereka secara alami lebih siap menghasilkan bunyi “d”.
Sebaliknya, bunyi “m” pada kata “Mama” membutuhkan kedua bibir untuk menutup dan menyatu. Gerakan ini lebih kompleks dan tidak sealamiah refleks mengisap pada bayi. Itulah sebabnya, dalam banyak kasus, bayi lebih dulu mengucapkan “Papa” atau “Dada” sebelum akhirnya bisa memanggil “Mama”.
“Sebagian besar bayi menggunakan gerakan mengisap untuk menenangkan diri, yang membantu memosisikan lidah mereka dengan benar untuk bunyi ‘d’,” jelas Mintz.

3. Paparan Kata “Papa” yang Lebih Sering
Bayi cenderung lebih cepat mengucapkan kata yang sering ia dengar. Dalam keseharian, kata “Papa” biasanya lebih sering diucapkan oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk Mama. Misalnya dalam kalimat seperti, “Tunggu papa pulang ya, Nak” atau “Nanti pergi sama Papa.”
Paparan yang berulang ini membuat bayi lebih mudah mengenali dan menirukan kata tersebut. Selain itu, saat bayi pertama kali mengucapkan “Papa”, respons dari orang sekitar biasanya sangat antusias. Reaksi yang heboh dan penuh kegembiraan ini membuat bayi merasa senang dan “berhasil”, sehingga ia terdorong untuk terus mengulang kata yang sama.

Tips agar Bayi Bisa Lebih Dulu Memanggil “Mama”
Untuk membuat bayi lebih cepat mengenal dan mengucapkan kata “Mama”, Mama bisa memberikan stimulasi yang tepat melalui aktivitas yang menyenangkan agar si Kecil tertarik meniru.
-
Mainkan “permainan mama”
Cobalah bermain sambil mengajarkan kata “Mama”. Misalnya, Mama bersembunyi sebentar, lalu minta orang lain memanggil, “Mama… Mama…” dengan nada ceria. Setelah itu, Mama muncul dengan ekspresi senang sambil berkata, “Ini Mama!” Ulangi permainan ini beberapa kali. Jika bayi mulai mencoba meniru atau memberi respons, berikan reaksi yang antusias agar ia merasa senang dan ingin mengulanginya. -
Ajak bayi mengenal nama orang di rumah
Luangkan waktu bersama keluarga untuk bermain tebak nama. Tanyakan, “Di mana mama?” lalu tunjuk diri sendiri sambil menyebut “Mama” berulang. Minta anggota keluarga lain juga ikut menyebut “Mama” agar bayi lebih sering mendengar kata tersebut dan mengingatnya. -
Gunakan cara visual seperti video atau foto
Beberapa bayi lebih mudah belajar lewat visual. Mama bisa membuat video sederhana dengan menyebut “Mama” sambil tersenyum, melambaikan tangan, atau meniupkan ciuman. Selain itu, gunakan foto Mama dan tunjukkan ke bayi sambil mengulang kata “Mama”. Cara ini membantu bayi menghubungkan wajah dengan panggilan tersebut. -
Latih bunyi “M” secara sederhana
Jika bayi belum bisa mengucapkan “Mama”, bisa jadi ia masih kesulitan pada bunyi “M”. Mama bisa melatihnya dengan suara sederhana seperti “mmm… mmm…” sambil menunjukkan ekspresi senang, misalnya saat makan makanan favoritnya. Semakin sering bayi mendengar dan melihat gerakan bibir, semakin mudah ia menirukan.

Kapan Bayi Mulai Memahami Kata yang Diucapkannya?
Bayi biasanya mulai mengucapkan kata yang benar-benar bermakna pada usia sekitar 10–12 bulan. Artinya, si Kecil tidak hanya meniru suara, tetapi juga mulai memahami hubungan antara kata dan orang yang dimaksud. Jadi, ketika bayi memanggil “Mama”, ia sudah mengenali bahwa kata tersebut merujuk pada sosok yang dekat dan memiliki peran khusus dalam hidupnya.
Perkembangan ini bisa berbeda pada setiap bayi. Ada yang lebih cepat, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama. Faktor seperti seringnya bayi diajak berbicara, mendengar kata-kata, serta berinteraksi dengan orang di sekitarnya sangat berpengaruh.
Semakin sering bayi mendapatkan stimulasi bahasa, semakin besar peluangnya untuk lebih cepat memahami dan mengucapkan kata “Papa” atau “Mama” dengan jelas dan tepat.

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












