Kondisi Pasar Saham Indonesia yang Tengah Menghadapi Tekanan
Saat ini, valuasi pasar saham Indonesia dinilai lebih murah akibat berbagai faktor seperti gejolak politik dan penurunan peringkat kredit negara dari lembaga internasional. IHSG, indeks utama bursa saham, terus mengalami penurunan dengan kinerja tahunan hingga saat ini turun sebesar 16,40% secara year to date (ytd), sementara dalam seminggu terakhir saja turun sebesar 4,70%. Selain itu, indeks LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 11,14% sepanjang tahun.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 11 Maret 2026, asing mencatatkan net sell sebesar Rp 200 miliar dalam satu bulan terakhir. Namun, secara tahunan, arus dana asing keluar dari pasar saham Indonesia mencapai Rp 9,7 triliun. Meskipun demikian, pasar modal Indonesia masih didominasi oleh investor domestik sebesar 67,9%, sedangkan investor asing hanya 32,1%.
Peluang Investor Asing Kembali Masuk ke Pasar Modal
Dengan situasi pasar yang menurun, muncul pertanyaan bagaimana peluang investor asing bisa kembali masuk ke pasar modal Indonesia. Menurut Anita Kezia dari Unit Kajian dan Analisis Ekonomi Divisi Riset Bursa Efek Indonesia (BEI), meskipun pasar saham pada 2026 masih cenderung tertekan, aliran dana asing ke Indonesia relatif stabil. Hal ini terlihat dari permintaan terhadap surat utang yang baik, meskipun sempat mengalami penurunan.
Menurutnya, minat investor asing terhadap Indonesia tetap tinggi sebagai bagian dari eksposur di pasar negara berkembang. Bahkan, dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia dinilai masih memiliki daya tarik bagi investor global. Salah satu sektor yang menunjukkan kinerja lebih baik adalah IDX Basic Materials, yang didominasi oleh saham berbasis komoditas seperti pertambangan, nikel, dan emas.
Seberapa Menarik Valuasi Saham Saat Ini?
Anita menilai bahwa anjloknya IHSG justru membuat valuasi sejumlah saham di Indonesia, termasuk saham blue chip, semakin menarik. Kondisi ini bisa menjadi daya tarik bagi investor, terutama yang memperhatikan fundamental perusahaan. Selain itu, kekuatan Indonesia sebagai negara kaya akan sumber daya mineral dan komoditas juga menjadi faktor penopang.
Saham-saham berbasis komoditas seperti nikel, batu bara, minyak sawit, dan emas dinilai tetap memiliki permintaan, bahkan di tengah kondisi pasar yang tidak stabil. Meskipun tidak memberikan rekomendasi, Anita melihat bahwa saham-saham tersebut bisa menjadi pilihan yang layak dipertahankan dalam situasi pasar seperti saat ini.
Faktor Penarik Minat Investor Asing
Minat investor global terhadap pasar saham Indonesia masih terlihat meskipun ada volatilitas pasar. Hal ini menunjukkan bahwa investor asing masih memandang Indonesia memiliki potensi yang didukung oleh fundamental ekonomi dan kinerja perusahaan yang relatif baik.
Selain itu, pasar saat ini masih menunggu publikasi laporan keuangan penuh tahun buku 2025 dari emiten. Hingga saat ini, baru sekitar 150 perusahaan tercatat yang telah menyampaikan laporan keuangannya. Dari emiten-emiten yang sudah merilis data kinerja tahunan mereka, Anita memastikan bahwa fundamental perusahaan secara umum masih solid.
Valuasi saham di pasar domestik yang relatif lebih murah juga menjadi faktor penarik minat investor asing. Beberapa sektor yang masih menjadi favorit di tengah kondisi pasar saat ini antara lain saham berbasis komoditas dan sektor perbankan. Arus dana asing yang keluar dari pasar tidak terlalu besar.
Upaya Meningkatkan Kepercayaan Investor Asing
Anita juga menjelaskan bahwa BEI sedang melakukan upaya untuk meningkatkan kepercayaan investor asing. Salah satunya adalah usaha ke MSCI, yang saat ini sedang diperbaiki. “Kami sudah cukup serius untuk menindaklanjuti permintaan MSCI dan lain-lain. Itu somehow juga mungkin menjadi sentimen positif untuk membangkitkan kepercayaan asing,” ujarnya.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”












