Sejarah Pertempuran Ganter dan Berakhirnya Kerajaan Kediri
Pertempuran Ganter menjadi momen penting dalam sejarah Jawa, yang menandai akhir dari pemerintahan Kerajaan Kediri dan lahirnya Kerajaan Singasari. Pertempuran ini terjadi di utara Ganter, Malang saat ini, antara Raja Kertajaya dari Kerajaan Kediri dan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari. Kemenangan Ken Arok dalam pertempuran tersebut menjadi awal dari kekuasaan baru di wilayah Jawa Timur.
Latar Belakang Peristiwa
Saat itu, Jawa bagian timur dikuasai oleh Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Raja Kertajaya. Di sebelah timur ibu kota, tepatnya di balik Gunung Kawi, terdapat kerajaan vasal kecil bernama Tumapel. Pada masa itu, Tumapel dipimpin oleh Ken Arok, seorang pemuda yang ambisius dan ingin menggulingkan Kediri.
Kerajaan Kediri dipimpin oleh Raja Kertajaya yang naik takhta sekitar tahun 1194. Selama pemerintahannya, dia dikenal sebagai raja yang kejam dan tidak ramah terhadap para Brahmana. Kertajaya bahkan mengklaim dirinya sebagai dewa yang bebas berkehendak sesuka hati. Hal ini membuat banyak pendeta Hindu dan Buddha menolak perintahnya untuk menyembah raja.
Penolakan Para Brahmana
Para Brahmana menolak perintah Raja Kertajaya karena sepanjang sejarah tidak ada Brahmana yang menyembah raja. Penolakan ini memicu kemarahan sang raja, yang kemudian melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap para pendeta. Akibatnya, banyak dari mereka melarikan diri ke Tumapel untuk mencari perlindungan dari Ken Arok.
Dengan bantuan rakyat dan kaum Brahmana, Ken Arok memutuskan untuk memberontak kepada Kediri. Ia menggunakan gelar Batara Guru (nama lain dari Siwa) dan menyerang Kediri. Pertempuran di utara Ganter pun meletus antara pasukan Tumapel yang dipimpin oleh Ken Arok dan pasukan Kediri di bawah pimpinan Mahisa Walungan, adik Raja Kertajaya.
Kemenangan Ken Arok dan Akhir Kerajaan Kediri
Ken Arok berhasil mendesak tentara Kediri dan membunuh Mahisa Walungan bersama menterinya yang bernama Gubar Baleman. Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa Kerajaan Kediri runtuh pada tahun 1222 M. Dengan kemenangan ini, masa kekuasaan Wangsa Isyana berakhir setelah memerintah selama tiga abad.
Namun, beberapa sumber seperti Negarakertagama dan Pararaton menyebutkan bahwa Raja Kertajaya tidak gugur dalam pertempuran. Menurut kitab Negarakertagama, ia melarikan diri dan bersembunyi di lereng gunung bersama para pertapa. Sementara itu, Pararaton menyebut bahwa Raja Kertajaya lenyap ke alam kedewaan tanpa meninggalkan bekas.
Awal Kerajaan Singasari
Setelah runtuhnya Kerajaan Kediri, dimulailah pemerintahan Dinasti Rajasa yang dibangun oleh Ken Arok. Kerajaan Singasari kemudian menguasai Jawa Timur dan menjadi salah satu kerajaan besar di Nusantara.
Perjalanan Ken Arok Menuju Kekuasaan
Ken Arok adalah raja Kerajaan Singasari yang berkuasa antara tahun 1222 hingga 1227. Selain itu, dia juga merupakan pendiri sekaligus raja pertama dari Kerajaan Singasari serta pendiri Wangsa Rajasa yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit.
Meskipun kekuasaannya hanya bertahan lima tahun, Ken Arok memiliki riwayat yang kompleks. Dia berasal dari kalangan rakyat jelata dan pernah menjadi garong. Setelah menyingkirkan akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung, dia menikahi istri sang akuwu, Ken Dedes.
Ambisi dan Pembunuhan Tunggul Ametung
Cerita menyebutkan bahwa Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung dengan “meminjam” nama Kebo Ijo menggunakan keris bikinan Empu Gandring. Kebo Ijo pun dihukum mati, meski Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan tersebut.
Setelah itu, Ken Arok menyatakan dirinya sebagai akuwu baru Tumapel dan menikahi Ken Dedes yang sedang mengandung anak Tunggul Ametung. Anak itu kelak diberi nama Anusapati.
Kemenangan di Pertempuran Ganter
Ambisi Ken Arok tidak berhenti di Tumapel. Pada tahun 1222, dia meruntuhkan Kerajaan Kediri setelah mengalahkan Raja Kertajaya dalam pertempuran Ganter. Dengan runtuhnya Kediri, Ken Arok menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kediri. Kerajaannya kemudian lebih dikenal sebagai Kerajaan Singasari.
Kematian Ken Arok
Namun, Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun. Pada tahun 1227, dia dibunuh oleh orang suruhan Anusapati. Anusapati, putra Ken Dedes dengan Tunggul Ametung, akhirnya menemukan kebenaran bahwa Ken Arok bertanggung jawab atas kematian ayah kandungnya. Dari situlah muncul keinginan untuk membalas dendam.
Anusapati merencanakan pembunuhan Ken Arok dan menyuruh Ki Pengalasan dari Desa Batil untuk membunuhnya menggunakan keris Mpu Gandring. Dengan demikian, tamatlah riwayat Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari sekaligus Wangsa Rajasa.












