Harga Plastik Naik, Ini Penjelasan Akademisi UNMUL

Kenaikan Harga Plastik di Samarinda

Harga plastik yang mengalami kenaikan di Samarinda menjadi perhatian utama setelah para pedagang dan pelaku UMKM mengeluhkan lonjakan biaya bahan baku yang memengaruhi aktivitas usaha sehari-hari. Kenaikan ini tidak hanya terjadi di wilayah Kalimantan Timur, tetapi juga mencerminkan dinamika global yang terkait dengan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Hubungan dengan Konflik Global

Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat diperkirakan berdampak signifikan pada harga bahan baku plastik di pasar internasional. Akademisi dari Universitas Mulawarman (Unmul), Aisyah, menjelaskan bahwa perang di kawasan tersebut memberikan dampak besar terhadap perdagangan global. “Sebetulnya dampak perang pasti besar terhadap perdagangan global. Semua negara merasakan,” ujarnya.

Meskipun masyarakat umumnya menghubungkan konflik Timur Tengah dengan kenaikan harga BBM, realitas menunjukkan bahwa komoditas lain seperti plastik justru mengalami kenaikan lebih dulu. “Sampai April ini di Indonesia memang belum ada kenaikan BBM karena dijamin pemerintah. Tapi produk lain justru meningkat tajam, seperti plastik,” tambahnya.

Peran Nafta dalam Kenaikan Harga

Nafta, sebagai bahan baku utama dalam produksi plastik, menjadi faktor utama kenaikan harga. Nafta merupakan produk turunan minyak bumi yang banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah. “Biaya produksi yang meningkat akibat konflik dan distribusi yang terganggu itu yang menyebabkan harga plastik ikut naik,” jelas Aisyah.

Dampak pada Komoditas Lain

Selain plastik, komoditas lain seperti bahan pangan impor seperti kurma juga mengalami kenaikan harga. “Kenaikan biaya transportasi dari kawasan konflik menyebabkan harga produk makanan juga naik. Di Jawa Timur, harga kurma bahkan bisa naik sampai 100 persen,” ungkap Aisyah.

Namun, plastik menjadi fokus utama karena penggunaannya yang sangat luas dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau kurma tidak semua orang konsumsi. Tapi plastik dipakai semua orang, termasuk pedagang dan sektor medis,” tambahnya.

Tekanan Global dan Dampak Geopolitik

Dampak konflik ini dirasakan secara global, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara seperti China, Jepang, Korea, hingga kawasan Amerika. Kondisi tersebut memicu tekanan internasional agar konflik segera dihentikan, termasuk dorongan agar jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz kembali dibuka.

“Iran tentu punya daya tawar dan memberikan syarat dalam rencana gencatan senjata, termasuk soal hak pengelolaan Selat Hormuz,” jelas Aisyah.

Solusi dan Momentum Pengurangan Plastik

Aisyah menyarankan pemerintah untuk mencari solusi jangka panjang, salah satunya melalui diversifikasi sumber impor bahan baku plastik agar tidak bergantung pada Timur Tengah. “Bisa melihat negara lain yang punya sumber daya serupa, seperti di Afrika atau Tiongkok,” ujarnya.

Di sisi lain, kondisi ini juga dinilai sebagai momentum bagi masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. “Indonesia termasuk penyumbang limbah plastik terbesar di dunia. Ini bisa menjadi momen untuk lebih bijak menggunakan plastik,” tandasnya.




admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *