Inovasi dalam Transaksi Emas dengan Konsep Baru
Di tengam tren meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai, Jual Emas Indonesia hadir menawarkan konsep baru dalam transaksi logam mulia. Perusahaan ini mengedepankan harga buyback yang tinggi, harga jual kompetitif, serta transparansi berbasis teknologi. Langkah ekspansi ini ditandai dengan peresmian cabang terbaru di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang, Banten, pada Jumat (10/4/2026).
Founder Jual Emas Indonesia, Benjamin Master Adhisurya atau karib disapa Iben, menjelaskan bahwa kehadiran perusahaan bertujuan untuk menjawab berbagai kendala yang kerap dialami masyarakat, terutama terkait kejelasan harga dan efisiensi proses transaksi.
“Kami membawa standar baru Jual Emas Indonesia melalui tagline tercepat, tertinggi, terpercaya. Masyarakat bisa menjual emas dengan proses cepat, mendapatkan harga beli tinggi, serta merasakan pengalaman transaksi yang aman dan transparan,” ucapnya.
Iben menyebutkan bahwa pihaknya berupaya memberikan nilai buyback yang lebih tinggi dibandingkan pelaku usaha sejenis, sekaligus menawarkan harga logam mulia yang lebih terjangkau bagi konsumen. Menurutnya, strategi tersebut bukan sekadar pendekatan pemasaran, melainkan bagian dari model bisnis yang mengutamakan efisiensi serta volume transaksi.
“Kami mengambil margin yang lebih tipis, tetapi mengandalkan volume dan repetisi transaksi. Yang penting bisnisnya sustain dan customer kembali lagi,” ungkapnya.
Teknologi XRF untuk Akurasi Kadar Emas
Penentuan harga tetap mengacu pada pergerakan harga emas global yang diolah melalui formula internal perusahaan, sehingga tetap kompetitif tanpa mengganggu keberlanjutan usaha. Sementara itu, Founder Jual Emas Indonesia lainnya, Juan Sen, menyoroti penggunaan teknologi X-Ray Fluorescence (XRF) sebagai salah satu keunggulan utama dalam memastikan akurasi kadar emas hingga 99,99 persen.
Dia menegaskan proses pengujian dilakukan secara terbuka di hadapan pelanggan guna menjamin transparansi.
“Kami ingin memastikan tidak ada celah bagi ketidakjelasan. Semua pengecekan dilakukan di depan customer, sehingga mereka bisa langsung melihat kadar emasnya secara real-time,” paparnya.
Layanan Jual Beli dan Gadai Emas
Berbeda dengan praktik toko emas pada umumnya, Jual Emas Indonesia juga menerima berbagai kondisi emas, mulai dari yang rusak, tidak lengkap, hingga tanpa dokumen, dengan penilaian berbasis kadar dan berat.
“Selama masih ada kandungan emas, kami tetap bisa memberikan penawaran terbaik. Semua dinilai berdasarkan kadar dan berat, tanpa membedakan kondisi fisik,” kata Juan yang telah berpengalaman selama 15 tahun di industri tersebut.
Selain layanan jual beli, perusahaan juga tengah menyiapkan layanan gadai emas yang saat ini masih dalam tahap perizinan dan koordinasi dengan regulator. Layanan ini ditujukan bagi masyarakat yang membutuhkan dana cepat tanpa harus melepas kepemilikan asetnya.
“Banyak emas memiliki nilai sentimental. Dengan gadai, masyarakat tetap bisa memanfaatkan asetnya tanpa harus menjual,” kata Juan.
Rencana Pengembangan Jaringan
Ke depan, layanan tersebut direncanakan menawarkan proses cepat, nilai penilaian tinggi, serta biaya yang kompetitif. Sejak beroperasi, Juan menjelaskan Jual Emas Indonesia mendapat respons positif dari pasar. Bahkan, sejumlah pelanggan disebut rela datang dari luar kota demi mendapatkan harga yang lebih bersaing.
“Ada pelanggan yang datang dari luar kota hanya untuk transaksi di sini. Ini menunjukkan bahwa transparansi dan harga yang kami tawarkan benar-benar dirasakan manfaatnya,” katanya.
Dalam rencana pengembangannya, perusahaan menargetkan pembukaan hingga 100 gerai di berbagai wilayah Indonesia sepanjang tahun 2026. Saat ini, jaringan usaha tersebut telah hadir di Tangerang dan Depok.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”












