Budaya  

Gumuk Jember, Raksasa Asia yang Kini Mulai Menghilang



JEMBER,

Kabupaten Jember memiliki julukan yang khas yaitu Kota Seribu Gumuk. Gumuk atau dalam istilah geologi disebut hummock adalah bukit yang terbentuk dari hasil longsoran Gunung Raung Purba. Gumuk ini merupakan yang terbesar di Asia dan memiliki peran penting dalam ekosistem lokal.

Sayangnya, jumlah gumuk di Jember kini semakin berkurang akibat aktivitas penambangan. Geolog asal Jember, Firman Syauqi, menyampaikan bahwa sejak tahun 1990 hingga 2025, jumlah gumuk telah berkurang antara 10 hingga 13 persen. Ia menjelaskan bahwa saat ini, jumlah gumuk yang terlihat muncul di permukaan bervariasi, ada yang mengatakan sekitar 800, sementara yang lain mengatakan sekitar 700-an.

Selain itu, jumlah debris avalanche atau hasil longsoran gunung mencapai sekitar 2.000. Menurut Firman, keberadaan gumuk di Jember tidak hanya terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi yang terbesar di Asia dan nomor empat di dunia. Penelitian sementara menunjukkan bahwa gumuk tersebar di 28 dari 31 kecamatan di Jember.

Dampak Lingkungan dari Berkurangnya Gumuk

Firman menjelaskan bahwa dari sisi bencana, hilangnya gumuk akan mempercepat dampak perubahan iklim global. Misalnya, ketika terjadi hujan deras, air dapat diserap oleh gumuk. Namun, jika gumuk tidak ada, risiko banjir akan meningkat. Selain itu, badai yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim bisa dihambat oleh keberadaan gumuk. Tanpa gumuk, badai akan langsung menerjang lingkungan sekitarnya, seperti rumah atau tanaman di sawah.

Gumuk juga memiliki fungsi sebagai pemecah angin. Di dalam celah-celah retakan pada gumuk, air dapat disimpan. Vegetasi tumbuh di atasnya, serta menjadi habitat bagi berbagai hewan yang membentuk rantai makanan dan ekosistem tersendiri. Ekosistem ini mendukung kehidupan manusia di sekitarnya dengan memberikan oksigen, mencegah predator, dan mendukung pertanian.

Potensi Gumuk untuk Masyarakat

Firman menyebut bahwa gumuk di Jember juga menjadi peluang bagi warga setempat. Cerita-cerita tentang pembentukannya menjadi bagian dari budaya daerah. Oleh karena itu, ia menilai gumuk perlu dijaga. Meskipun penambangan tidak bisa sepenuhnya dihindari, minimal harus ada pengurangan agar kecepatan hilangnya gumuk tidak secepat saat ini.

Kepemilikan gumuk berada di tangan masyarakat pribadi, bukan dikelola oleh pemerintah daerah atau menjadi kawasan konservasi. Biasanya, pemilik menjual atau menambang material seperti batuan, pasir, atau tanah dari gumuk. Hal ini membuat gumuk mudah rusak dan berkurang.

Solusi untuk Melestarikan Gumuk

Menurut Firman, satu-satunya cara efektif untuk mempertahankan keberadaan gumuk adalah melalui narasi yang dibuat oleh pemerintah daerah. Narasi ini bisa dibangun melalui tradisi, budaya, pendidikan, maupun bentuk komunikasi lainnya agar masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga gumuk.

Ia menekankan bahwa regulasi saja tidak cukup tanpa adanya imajinasi kuat tentang pentingnya hukum tersebut. Tanpa kesadaran, orang cenderung menjual peraturan demi keuntungan pribadi.

Gumuk, kata Firman, bisa menjadi jati diri dan simbol bagi daerah Jember. Dengan melestarikannya, kita tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga menjaga warisan alam yang unik dan bernilai tinggi.

Hasnah Najmatul

Penulis yang dikenal teliti dalam riset dan penyajian data. Ia menaruh minat pada dunia ekonomi, statistik ringan, dan analisis tren. Di waktu luang, ia menikmati sudoku, membaca artikel panjang, dan mendengarkan musik instrumental. Motto: “Akurasi adalah bentuk tanggung jawab.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *