Jakarta – Sugiyanto, seorang pemerhati Jakarta, menyampaikan bahwa warga Jakarta perlu memahami secara jelas dan tidak lagi terjadi kesalahpahaman mengenai biaya pembongkaran tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said. Menurutnya, anggaran yang diperlukan untuk proses tersebut tidak melebihi Rp300 juta.
“Ada mispersepsi di masyarakat. Sepertinya mereka mengira biaya pembongkaran 109 tiang monorel mencapai Rp100 miliar,” ujar Sugiyanto di Jakarta, Ahad (11/1/2026).
Namun, menurut dia, angka tersebut sebenarnya merupakan estimasi total biaya penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said secara keseluruhan. “Bukan hanya pembongkaran tiang saja,” tambahnya.
Dari segi perhitungan teknis, biaya pembongkaran fisik tiang monorel justru berada pada kisaran ratusan juta rupiah. Harga satuan pembongkaran beton biasanya berkisar antara Rp400.000 hingga Rp600.000 per meter kubik (m³). Dengan jumlah tiang monorel sebanyak 109 unit dan volume tiang sekitar 3-5 m³, total volume pembongkaran diperkirakan berada di kisaran 300-500 m³.
Jika menggunakan harga satuan Rp400.000 per m³, biayanya sekitar Rp120 juta hingga Rp200 juta. Sementara itu, jika menggunakan harga tertinggi yaitu Rp600.000 per m³, biayanya akan mencapai kisaran Rp180 juta hingga Rp300 juta. “Jadi, secara logika teknis, pembongkaran 109 tiang monorel hanya memerlukan sekitar Rp300 juta,” katanya.
Ia menegaskan bahwa angka Rp100 miliar yang sering disebut dalam berita bukanlah biaya khusus untuk pembongkaran tiang monorel, melainkan estimasi total anggaran penataan kawasan secara menyeluruh. Penataan ini mencakup pembongkaran tiang monorel, penataan trotoar, serta perbaikan dan penataan badan jalan.
Menurut Sugiyanto, kesalahpahaman ini muncul karena banyak masyarakat hanya membaca judul berita tanpa memahami isi lengkapnya. Dalam pemberitaan sebenarnya telah dijelaskan bahwa angka Rp100 miliar adalah satu paket pekerjaan penataan kawasan.
Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR) ini juga merujuk pada pernyataan Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Heru Suwondo, yang memastikan proyek tersebut merupakan bagian dari penataan menyeluruh koridor Jalan HR Rasuna Said agar kawasan menjadi lebih rapi, tertata, dan fungsional.
“Artinya, anggaran sekitar Rp100 miliar itu masuk akal karena digunakan untuk banyak pekerjaan sekaligus. Pembongkaran tiang monorel hanya sebagian kecil saja, sisanya untuk penataan trotoar dan badan jalan,” kata Sugiyanto.
Penataan trotoar biasanya meliputi peningkatan kualitas permukaan agar lebih aman dan nyaman, penyediaan jalur disabilitas, “ramp”, jalur pemandu tunanetra serta penataan fasilitas pendukung seperti lampu penerangan, tempat duduk, tempat sampah, rambu dan penghijauan. Selain itu, penataan juga mencakup perbaikan drainase serta penataan utilitas agar lebih rapi dan terintegrasi.
Sementara itu, pekerjaan badan jalan mencakup perbaikan perkerasan, penambalan lubang, perataan permukaan, penguatan struktur jalan, penataan marka dan rambu lalu lintas, drainase hingga rekayasa lalu lintas untuk meningkatkan keselamatan dan kelancaran kendaraan.
“Kalau seluruh pekerjaan itu digabungkan dalam satu paket penataan kawasan, maka estimasi Rp100 miliar menjadi logis dan relevan. Bukan hanya untuk merobohkan tiang monorel,” ujarnya.
Sebagai warga Jakarta, Sugiyanto menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo dan Wakil Gubernur Rano Karno dalam menata kota, termasuk pembongkaran tiang monorel yang telah lama mangkrak.
Ia berharap masyarakat dapat memahami secara utuh bahwa estimasi Rp100 miliar adalah anggaran penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said secara menyeluruh, bukan semata-mata biaya pembongkaran tiang monorel. “Pembongkaran tiangnya hanya sekitar Rp300 juta. Selebihnya untuk menata trotoar dan badan jalan agar kawasan HR Rasuna Said menjadi lebih tertib, manusiawi, dan berkelanjutan,” tutupnya.












