Hukum  

Mens Rea Dapat Respons Positif di Media Sosial, Tapi Negatif di TikTok

Acara Stand-Up Comedy “Mens Rea” dan Respons Media Sosial

Acara stand-up comedy Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono menarik perhatian publik dengan berbagai respons yang muncul di media sosial. Berdasarkan analisis dari Drone Emprit, acara ini mendapatkan sentimen positif yang lebih besar di platform seperti Facebook dan Instagram, sementara TikTok justru didominasi oleh sentimen negatif.

Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi, menjelaskan bahwa beragam respons netizen terkait Mens Rea menunjukkan bagaimana komedi politik tidak lagi hanya menjadi hiburan biasa, tetapi juga menjadi cerminan dari isu-isu sosial dan politik yang sedang berkembang. Ia menyebutkan bahwa acara ini merupakan contoh bagaimana komedi bisa menjadi alat untuk mengkritik sistem tanpa secara langsung menyentuh perasaan masyarakat.

Dalam periode pemantauan selama 11 hari, Mens Rea memicu sekitar 20 ribu percakapan di berbagai platform media sosial serta sekitar 1.000 pemberitaan online. Total interaksi yang tercatat mencapai lebih dari 117 juta, termasuk likes, komentar, retweet, dan bentuk keterlibatan lainnya. Menurut Fahmi, skala percakapan ini menempatkan Mens Rea sebagai bukan hanya konten hiburan populer, tetapi juga sebagai peristiwa sosial yang memicu diskusi tentang politik, hukum, dan etika di ruang digital.

Perbedaan Respons di Berbagai Platform

Drone Emprit mencatat adanya perbedaan signifikan antara respons netizen di media sosial dan framing pemberitaan di media online. Di media sosial, sekitar dua pertiga percakapan bernada positif. Publik menilai materi Mens Rea berani, relevan, dan mencerminkan keresahan masyarakat terhadap isu-isu seperti kebijakan publik, hubungan rakyat dan negara, serta praktik kekuasaan.

Sebaliknya, media online cenderung menampilkan sentimen negatif. Lebih dari separuh pemberitaan menyoroti kontroversi yang muncul, seperti tudingan body shaming, memuat komedi etika, dan potensi penegakan hukum. Fokus pemberitaan lebih banyak diarahkan pada konflik antartokoh dibandingkan substansi kritik politik yang disampaikan dalam pertunjukan tersebut.

Sentimen di Facebook dan Instagram

Di Facebook, sentimen positif terkait Mens Rea tercatat lebih dari 70%. Percakapan di platform ini didominasi oleh dukungan emosional terhadap Pandji Pragiwaksono dan penghargaan atas keberanian menyampaikan kritik politik secara terbuka. Analisis menunjukkan bahwa topik yang dominan meliputi:

  • Apresiasi keberanian Pandji menyebut pejabat secara terbuka
  • Kebanggaan atas pencapaian Mens Rea sebagai tayangan nomor satu Netflix
  • Persepsi bahwa materi Pandji “mewakili suara rakyat biasa”
  • Komedi sebagai pendidikan politik informal

Sementara itu, di Instagram, sentimen positif berada di kisaran 70,2%, dengan sentimen negatif sebesar 14,5% dan netral 15,3%. Namun, karakter percakapan di Instagram lebih menekankan aspek visual dan simbol keberhasilan. Topik utama meliputi:

  • Mens Rea sebagai acara TV nomor satu Netflix Indonesia
  • Potongan video stand-up yang dianggap “kena” dan mudah dibagikan
  • Pandji sebagai figur publik yang “berani dan konsisten”
  • Kesadaran politik ringan, terutama di kalangan penonton muda

Netizen banyak membagikan potongan video stand-up yang dianggap mengena, serta konsistensi Pandji sebagai figur publik. Meski ada isu kontroversi, namun tidak mendominasi percakapan.

Sentimen di X dan TikTok

Berbeda dengan Facebook dan Instagram, X menjadi platform dengan tingkat polusi paling tinggi. Meskipun sentimen positif masih dominan sekitar 63%, X juga menjadi ruang utama bagi kritik keras dan narasi tandingan. Isu yang sering diperbincangkan antara lain tudingan body shaming, memuat komedi etika, kekhawatiran kriminalisasi kebebasan berekspresi, hingga kritik terhadap negara dan aparat.

Topik utama di X meliputi:

  • Kritik terhadap negara, aparat, dan dinasti politik
  • Isu kebebasan berekspresi dan kekhawatiran kriminalisasi
  • Tuduhan body shaming terhadap fisik Gibran
  • Narasi seragam seperti “Pandji Darurat Ide” dan “Pandji Rusak Komedi”

Di TikTok, sentimen positif tercatat paling rendah dibandingkan platform lain, yakni sekitar 57%, sementara negatif 20,6%, dan netral 20,9%. Drone Emprit mencatat bahwa karakter konten yang singkat dan mudah viral membuat potongan-potongan komposit lebih cepat menyebar tanpa konteks utuh. Isu dugaan “intel”, pemanggangan terhadap masyarakat, serta kritik dari tokoh tertentu teramplifikasi secara luas, mendorong eskalasi emosi di kalangan pengguna.

YouTube sebagai Ruang Penjelasan

Sementara itu, YouTube menampilkan karakter yang berbeda. Dengan sentimen positif sekitar 57,3%, platform ini menjadi ruang diskusi yang lebih panjang dan reflektif. Netizen memanfaatkan YouTube untuk membahas ulang konteks materi Mens Rea, isu etika komedi secara lebih mendalam, serta menanggapi tanggapan masyarakat terhadap pertunjukan tersebut.

Fahmi menyebutkan bahwa analisis Drone Emprit menyimpulkan bahwa perbedaan sentimen lintas-platform soal Mens Rea menunjukkan bagaimana karakter media sosial membentuk cara publik memaknai satu karya yang sama. Analisis mencatat harapan yang sebenarnya diinginkan oleh masyarakat yakni kritik yang jujur dan berani, meski tidak selalu nyaman. Selain itu, komedi yang mendidik secara politis dan ruang ekspresi yang tidak langsung dikriminalisasi saat menyentuh perasaan.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *