Bisnis  

Limbah Pertanian Jadi Produk Kreatif

Mengubah Limbah Pertanian Menjadi Produk Bernilai

Di tangan Risma Indriyani M, tumpukan jerami dan limbah kertas yang biasanya dibakar justru berubah menjadi produk bernilai. Limbah tersebut disulap menjadi berbagai merchandise ramah lingkungan yang menarik minat banyak kalangan.

Perusahaan yang ia dirikan, Suhuf, merupakan perusahaan berbasis social enterprise yang fokus mengolah limbah pertanian menjadi kertas daur ulang. Bahan bakunya tidak biasa, mulai dari jerami, merang, hingga limbah kertas, kardus, dan botol bekas. Dari kertas tersebut, pihaknya memproduksi berbagai produk seperti notebook, merchandise corporate, hingga undangan dan souvenir pernikahan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

“Contohnya kayak notebook, berbagai produk merchandise corporate yang bisa dicustom,” ujarnya saat ditemui di Institut Teknologi Bandung, Sabtu (11/4/2026).

Tak sekadar bisnis, Risma menekankan misi sosial dibalik usaha yang kini bernama PT Suhuf Kridasana Nusantara itu. Ia ingin memutus kebiasaan petani membakar limbah pertanian yang berdampak buruk bagi lingkungan. “Yang biasanya limbah itu dibakar ya, itu berdampak buruk bagi pencemaran udara dan kesehatan. Nah dengan kita rekrut petani untuk kumpulin limbahnya, jadi otomatis limbahnya tersebut kita olah,” katanya.

Usaha yang dilakoninya berada di kawasan Cimbuleuit, Kota Bandung ini sejatinya punya sejarah panjang. Berdiri pertama kali pada 1994 oleh alumni ITB, pihaknya sempat vakum pada 2016 sebelum akhirnya dihidupkan kembali oleh Risma. “Saya melihat potensi terkait jerami dan memberdayakan para petani. Akhirnya saya akuisisi,” imbuhnya.

Risma mulai merintis kembali usaha ini pada 2021, di tengah pandemi Covid-19, sebelum resmi berbadan hukum sebagai PT pada 2025. Kini, tren gaya hidup berkelanjutan turut mendorong permintaan produk mereka. Sejumlah brand yang fokus pada sustainability mulai menggunakan produk Suhuf sebagai kemasan maupun merchandise.

“Kami juga memanfaatkan serat alam sebagai elemen estetika dalam produk journaling hingga kartu undangan,” kata Risma.

Meski demikian, di balik produk yang dihasilkan, ada proses panjang yang tetap berpijak pada alam. Dikatakannya, limbah seperti pelepah pisang dan jerami dikeringkan terlebih dahulu di bawah sinar matahari. “Biasanya keringnya tergantung sinar matahari, bisa tiga hari sampai seminggu,” jelas Risma.

Setelah kering, bahan tersebut digiling tanpa campuran kimia hingga menjadi bubur kertas, lalu dicetak menjadi lembaran kertas daur ulang. “Jadi memang prosesnya sendiri dari alam untuk alam ya,” katanya.

Menariknya, hampir seluruh bagian jerami bisa dimanfaatkan, meski bagian tertentu membutuhkan waktu pengeringan lebih lama. Dengan konsep ekonomi sirkular, Risma berharap usahanya tak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat, khususnya petani. “Selain dampak positif bagi lingkungan, juga pemberdayaan untuk petani dan pelaku lokal,” ujarnya.

Proses Produksi yang Ramah Lingkungan

Proses produksi yang dilakukan oleh Suhuf sangat mengedepankan keberlanjutan. Setiap tahapan dimulai dari pengumpulan limbah pertanian yang kemudian diolah secara alami. Limbah seperti jerami dan merang dikeringkan di bawah sinar matahari selama beberapa hari hingga menjadi bahan baku yang siap digunakan.

  • Setelah dikeringkan, bahan-bahan tersebut digiling tanpa menggunakan bahan kimia apapun.
  • Hasil penggilingan berupa bubur kertas yang kemudian dicetak menjadi lembaran kertas daur ulang.
  • Proses ini dilakukan tanpa campuran bahan sintetis sehingga menjaga kealamian produk.

Dengan metode ini, Suhuf tidak hanya mengurangi jumlah limbah pertanian yang dibakar, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari bahan-bahan yang biasanya dianggap tidak berguna. Produk-produk yang dihasilkan memiliki daya tarik estetika dan fungsional yang tinggi, cocok untuk berbagai kebutuhan.

Kontribusi pada Pemberdayaan Masyarakat

Selain berdampak positif pada lingkungan, usaha Risma juga memberikan manfaat sosial yang signifikan. Dengan merekrut petani untuk mengumpulkan limbah, ia membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat. Hal ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat keterlibatan komunitas dalam upaya melestarikan lingkungan.

  • Petani diberdayakan dengan mendapatkan penghasilan tambahan dari pengumpulan limbah.
  • Masyarakat setempat terlibat dalam proses produksi, meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah.
  • Usaha ini menjadi contoh nyata dari ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Dengan konsep ini, Risma menunjukkan bahwa bisnis dapat berjalan sejalan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk ikut berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *