Otoritas Keberagamaan Berbasis AI

Prediksi Sejarawan Yuval Noah Harari tentang Kecerdasan Buatan dan Agama

Dalam sebuah forum World Economic Forum (WEF) pada tahun 2026, sejarawan terkenal Yuval Noah Harari memprediksi bahwa sistem yang sebagian besar berbasis kata-kata, seperti hukum, buku, dan agama, akan diambil alih oleh kecerdasan buatan (AI). Ia menyoroti bagaimana AI bisa menjadi otoritas utama dalam agama-agama kitab suci, seperti Yudaisme, Kristen, dan Islam. Menurut Harari, agama bisa dilihat sebagai sekumpulan narasi atau cerita yang tertulis dalam kitab suci.

Bagi Harari, agama adalah konstruksi linguistik yang dapat dianalisis dan bahkan digantikan oleh narasi baru yang diciptakan oleh AI. Pandangan ini didasarkan pada ideologi “dataisme” yang menganggap realitas hanya sebagai proses data dan algoritma. Namun, pandangan ini memiliki kelemahan mendasar karena mengabaikan bahwa agama adalah pengalaman hidup, bukan hanya teks.

Agama sebagai Pengalaman Hidup

Jika kita melihat tradisi Islam, kita menemukan kekayaan dalam tasawuf dan pendekatan rasional-filosofis yang dikembangkan oleh para pemikir Muslim. Dalam tradisi ini, teks kitab suci tidak berdiri sendiri. Teks memerlukan pembaca, penafsir, dan pengalaman spiritual yang menghidupinya. Agama hidup dalam ritual, doa, pencarian makna, dan pengalaman transendensi yang tidak sepenuhnya bisa ditangkap oleh kata-kata.

Agama juga dibangun melalui tradisi oral yang diwariskan dari guru kepada murid dan orang tua kepada anak. Dimensi-dimensi ini—pengalaman, praksis, dan tradisi hidup—sering luput dari perhatian Harari yang terlalu fokus pada aspek tekstual.

Paradoks di Era Digital

Meskipun agama adalah pengalaman, ketika dimasyarakatkan, ia sering tereduksi menjadi pertanyaan tentang otoritas interpretasi. Banyak orang mencari jawaban cepat tanpa mendalami dimensi spiritual dan intelektual agama. Mereka ingin jawaban instan: “Apakah ini halal atau haram?” “Bagaimana cara salat yang benar?”

Di sinilah paradoks mulai. Seorang Muslim muda, misalnya, mungkin lebih memilih membuka ChatGPT atau AI chatbot keagamaan daripada bertanya kepada ulama. Jawaban AI terdengar otoritatif, lengkap dengan dalil dan penjelasan. Tidak ada judgment atau rasa canggung seperti ketika bertanya kepada tokoh agama.

Lama-lama, orang tersebut dan jutaan orang lainnya mulai lebih percaya pada AI daripada pada otoritas keagamaan tradisional. AI memberikan ilusi objektivitas, tidak pernah lelah, tersedia kapan saja, dan tidak pernah bias.

Ancaman AI Authority

Ini disebut sebagai AI authority—ketika AI mengambil alih peran tradisional para ulama, pendeta, rabi, atau pemuka agama. Ancaman ini bukan karena AI memberikan jawaban yang salah, tetapi karena ia melewatkan dimensi pengalaman yang justru merupakan jantung agama. Ketika seseorang bertanya kepada seorang guru agama, bukan hanya transfer informasi yang terjadi.

Ada transmisi kebijaksanaan, pembacaan konteks kehidupan si penanya, empati, dan bimbingan personal. Seorang mursyid dalam tasawuf tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi membimbing murid melalui perjalanan spiritual yang unik. AI tidak bisa menggantikan dimensi relasional dan eksperiensial ini.

Risiko Homogenisasi Pemahaman Agama

AI dilatih dengan data yang ada, termasuk bias dan interpretasi dominan. Ketika AI menjadi otoritas, kita berisiko mengalami homogenisasi pemahaman agama, hilangnya keragaman interpretasi, dan terputusnya rantai transmisi pengetahuan spiritual. Ini yang dikhawatirkan Navneet Alang, jurnalis teknologi Kanada, bahwa bahaya terbesar AI bukan mesin yang super cerdas, tetapi keyakinan buta kita pada narasi bahwa AI adalah solusi pamungkas.

Indikator di Indonesia

Meski belum ada riset khusus di Indonesia yang menjadikan AI sebagai otoritas keagamaan utama, ada indikator yang menunjukkan potensi arah ini. Survei Lembaga Survei Indonesia (2022) menunjukkan 64% pengguna internet mengakses konten keagamaan via media sosial. Riset PPIM UIN Jakarta (2021) menunjukkan 64,66% Gen Z menjadikan media sosial sebagai sumber pengetahuan agama.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Ancaman ini tidak berarti menolak teknologi atau melarang penggunaan AI. Sebaliknya, kita perlu mengembangkan literasi kritis tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh AI. Pertama, kita harus menekankan bahwa agama adalah pengalaman hidup, bukan sekadar informasi. Kedua, masyarakat perlu memahami keterbatasan AI. AI bisa menjadi alat bantu awal, tetapi tidak bisa menggantikan bimbingan spiritual otentik.

Ketiga, para pemuka agama dan institusi keagamaan perlu beradaptasi dengan era digital tanpa kehilangan esensi. Mereka harus lebih mudah diakses, relevan, dan mampu berkomunikasi dengan generasi digital. Keempat, kita harus waspada terhadap komersialisasi AI yang membawa ideologi Dataisme.

Di era AI ini, peran pemuka dan institusi agama menjadi penting untuk menjadi pembimbing spiritual masyarakat melalui pengalaman dan teladan. Jika agama hanya disajikan literal tanpa kedalaman makna, AI bisa mengambil alih otoritas keberagamaan.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *