Pratama Arhan, Pemain Sepak Bola yang Akan Lulus dengan Ijazah Berbasis Blockchain
Pratama Arhan, pemain sepak bola andalan Timnas Indonesia, akan segera menyelesaikan studinya di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) setelah menyelesaikan sidang skripsinya. Ia akan meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Udinus.
Ini bukan hanya sebuah pencapaian akademik biasa, karena Arhan akan menjadi salah satu lulusan pertama yang menerima ijazah berbasis teknologi blockchain. Teknologi ini memungkinkan data disimpan secara digital, aman, dan tidak bisa dipalsukan. Hal ini membuat ijazah blockchain berbeda dengan ijazah konvensional yang masih menggunakan media kertas.
Apa Itu Ijazah Blockchain?
Ijazah berbasis blockchain merupakan dokumen akademik yang dilengkapi rekam jejak digital permanen. Setiap data tercatat dan terverifikasi secara digital, sehingga ijazah tidak dapat diubah atau dipalsukan. Teknologi ini memungkinkan penggunaan sistem yang transparan dan aman.
Humas Udinus, Haris, menjelaskan bahwa ijazah blockchain dirancang untuk mengurangi risiko pemalsuan. “Ijazah yang dilengkapi dengan rekam jejak digital yang transparan, aman, dan tidak dapat diubah sehingga tidak dapat dipalsukan,” ujar Haris saat dikonfirmasi Kompas.com.
Kolaborasi dalam Pengembangan Ijazah Blockchain
Untuk mengembangkan ijazah jenis ini, Udinus bekerja sama dengan Indonesia Blockchain Center (IBC) serta Sealbound UAE. Kerja sama ini bertujuan untuk memastikan bahwa ijazah blockchain dapat digunakan secara efektif dan efisien oleh para lulusan.
Haris menambahkan, “Dalam pengembannya, Udinus bekerja sama dengan Indonesia Blockchain Center (IBC) serta Sealbound UAE.”
Perbedaan Ijazah Blockchain dengan Konvensional
Ijazah blockchain memiliki keunggulan dibandingkan ijazah konvensional. Rekam digital yang tersimpan secara permanen membuat ijazah tersebut tidak mudah diubah atau dipalsukan. Sementara itu, ijazah konvensional masih rentan terhadap pemalsuan karena bergantung pada media kertas.
Haris menjelaskan, “Ijazah biasa seperti yang diketahui berbentuk lembaran kertas yang sejauh ini masih rentan terhadap pemalsuan.” Namun, dengan sistem blockchain, ijazah dapat dipindai dan diverifikasi secara digital, sehingga keasliannya dapat dipastikan.
Contohnya, jika ijazah Pratama Arhan dipindai maka akan menunjukkan statusnya sebagai keluaran Udinus. “Dengan adanya sistem blockchain, ijazah dapat dipindai dan memiliki rekam jejak digital itu tadi, yang akan menyatakan bahwa ijazah tersebut asli dikeluarkan oleh Udinus,” pungkas Haris.
Keuntungan Ijazah Berbasis Blockchain
Teknologi blockchain memberikan beberapa manfaat bagi para lulusan. Pertama, ijazah lebih aman dan sulit dipalsukan. Kedua, ijazah dapat diverifikasi secara digital, sehingga proses verifikasi lebih cepat dan efisien. Ketiga, rekam jejak digital memungkinkan penggunaan ijazah dalam berbagai situasi, termasuk perekrutan kerja atau pengajuan pendidikan lanjut.
Selain itu, ijazah berbasis blockchain juga membantu institusi pendidikan dalam mengelola data lulusan secara lebih efektif. Dengan sistem ini, data lulusan dapat diakses dan diperiksa dengan mudah tanpa perlu mencari dokumen fisik.
Tantangan dan Peluang
Meskipun teknologi blockchain menawarkan banyak keuntungan, ada tantangan dalam penerapannya. Misalnya, perlu adanya infrastruktur teknologi yang memadai dan penyesuaian sistem administrasi universitas. Namun, peluang yang ditawarkan sangat besar, terutama dalam meningkatkan kredibilitas ijazah dan mengurangi risiko pemalsuan.
Dengan kolaborasi antara Udinus dan lembaga teknologi blockchain, diharapkan sistem ini dapat terus dikembangkan dan diterapkan secara luas. Ini juga menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem pendidikan tinggi di Indonesia.












