DPRD Surabaya Minta Pemkot Tingkatkan Layanan Sampah

Kebutuhan Pengelolaan Sampah yang Optimal di Kota Surabaya

DPRD Kota Surabaya menyoroti pentingnya pengelolaan sampah yang optimal agar tidak menjadi masalah perkotaan. Dalam pernyataannya, Wakil Ketua DPRD Surabaya, Laila Mufidah, menekankan bahwa penanganan sampah harus memastikan kenyamanan warga dan menjaga estetika kota.

“Tidak hanya bikin bau, jorok, dan mengundang penyakit. Mengganggu estetika kota dan bikin tidak nyaman warga Surabaya. Jangan sampai ada penumpukan sampah,” tegasnya.

Pengelolaan sampah yang tidak serius dapat menyebabkan berbagai masalah bagi masyarakat urban. Penanganan yang tidak profesional akan melahirkan problematika kota, termasuk mengusik kenyamanan warga. Oleh karena itu, Surabaya harus terhindar dari masalah sampah.

Saat ini, sekitar 1.600 ton sampah dibuang warga Surabaya setiap hari. Sampah tersebut mencakup baik sampah organik maupun anorganik serta plastik. Sampah-sampah ini berasal dari rumah tangga, tempat usaha, hingga industri.

Laila Mufidah mendesak DLH untuk terus melakukan optimalisasi pengelolaan sampah. Warga Surabaya mengharapkan lingkungan mereka bersih dari tumpukan sampah dan tidak bau. Tidak hanya itu, warga juga menginginkan tidak ada penumpukan sampah di wilayah mereka, baik di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) maupun di sudut-sudut kota.

Pengembang perumahan juga diminta untuk sadar akan pentingnya pengelolaan sampah di wilayahnya. Setiap kampung harus bekerja sama dalam membuat kesepakatan pengelolaan sampah lokal sebelum dibuang ke TPS.

“Kita semua tidak ingin fenomena penumpukan sampah di Jakarta terjadi di Surabaya. Kami yakin Pemkot mampu mengelola sampah dengan optimal,” ujarnya.

Selain itu, DPRD Surabaya mendorong warga masyarakat di setiap kampung untuk ikut berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sebab, petugas DLH tidak akan menjangkau seluruh perkampungan.

Jika ada petugas pemungut sampah dengan gerobak di setiap kampung, mereka harus dirembug bersama. Terutama terkait biaya yang harus disokong bersama. Pemkot harus mendukung sarana prasarana pengelolaan sampah tingkat kampung.

“Pemkot Surabaya harus konsisten memberikan bantuan seperti tong sampah, gerobak, hingga sarana penunjang lainnya demi kebersihan kampung,” kata Laila.

DPRD juga mendesak DLH untuk tertib dan rutin dalam pengangkutan sampah di TPS. Selama ini, sampah rumah tangga dari kampung diangkut oleh petugas mandiri. Mereka mengangkut semua sampah dari perkampungan maupun perumahan ke TPS. Baru setelah di TPS, petugas DLH bersama armada truk mengangkut dan membawanya ke tempat pembuangan akhir (TPA) Benowo.

Laila juga mendesak agar ada batas waktu semua sampah harus terangkut dari TPS sebelum pukul 07.00. Sebab itu waktunya antar sekolah dan masuk kerja.

Dia juga mendesak agar DLH mengoperasikan armada pengangkut truk modern. Kota Metropolitan sekelas Surabaya sudah bukan waktunya tetap mengoperasikan truk sampah lendir. Armada pengangkut sampah harus optimal, karena kadang masih ada truk sampah yang hanya ditutup terpal. Harus dilakukan perbaikan manajemen.

Laila Mufidah mengapresiasi langkah maju Pemkot Surabaya dalam pengelolaan sampah menjadi energi alternatif. Surabaya sudah memiliki TPS RDF (Refuse Derived Fuel). Hasil dari pengeringan sampah di TPS RDF ini bisa menghasilkan bahan bakar alternatif untuk industri. Saat ini, tengah dilakukan koordinasi dengan industri Semen Gresik.

TPS RDF itu berlokasi di TPS 3R (Reduce Reuse Recycle) di Tambak Osowilangun. Laila akan mengawalnya hingga benar-benar terealisasi. Pemkot bersama DPRD Surabaya sudah menganggarkan Rp 30 miliar untuk dioperasikannya TPS RDF.

“Kami mendukung upaya Pemkot Surabaya untuk mengatasi problematika kota soal sampah. Apalagi saat ini tengah dijalankan program kampung zero waste. Kampung nol sampah di Surabaya,” katanya.

Saat ini, jumlah sampah yang dihasilkan di Kota Surabaya antara 1.600 sampai 1.800 ton per hari. Pengelolaan sampah organik harus didorong lebih maksimal sehingga total sampah bisa tereduksi maksimal.

Diakui bahwa kampung zero waste yang tujuan utamanya pengurangan sampah di kota ini belum kuat pelaksanaannya. Begitu juga keberadaan bank sampah. Pengelolannya belum ter-manage dengan baik sehingga pemilahan tidak berjalan maksimal.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *