
Anak-anak di Iran kini hidup dalam ketakutan yang tak pernah berakhir akibat serangan Amerika Serikat dan Israel. Lebih dari 20% penduduk negara ini, yaitu sekitar 20,4 juta jiwa, adalah anak-anak. Ali, seorang remaja berusia 15 tahun (bukan nama asli), menggambarkan bagaimana ketakutan itu tercipta melalui pengalamannya selama konflik.
Perasaan takut terus melekat dalam pikirannya. Suara pintu yang dibanting atau alat makan yang jatuh bisa membuatnya kaget. Ia menyebutkan bahwa gencatan senjata tidak langsung menghilangkan trauma yang dialaminya.
“Sebelum perang, saya baik-baik saja. Tidak ada stres. Tapi sekarang, bahkan suara kecil pun membuat otak saya bereaksi secara berlebihan,” ujarnya.
Suara serangan udara AS dan Israel yang terus-menerus menghiasi lingkungan sekitarnya terus menetap dalam pikirannya. Hal ini memicu reaksi kaget otomatis terhadap suara keras apa pun.
“Suara ledakan, gelombang kejut, dan pesawat tempur yang terbang di atas kota dapat memberikan dampak yang sangat serius,” katanya.
Gejala yang dialami Ali disebut oleh psikolog sebagai hiperarousal, yaitu kondisi medis di mana tubuh dan pikiran tetap waspada secara terus-menerus. Kondisi ini menjadi tanda awal kemungkinan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).
Ali mencari rasa aman seperti dulu, namun kini hal itu sulit ditemukan. Ayahnya kehilangan pekerjaan karena perang, sedangkan ibunya terus diliputi kekhawatiran.
“Ibu saya tinggal di rumah, dan setiap kali pesawat tempur terbang di atas, dia ketakutan dan tertekan. Saya sendiri juga sangat takut,” ujarnya.
Ia mengaku tidak lagi berhubungan dengan teman-temannya. “Seharusnya, saya bisa belajar, bekerja, dan menjadi orang mandiri di masa depan. Bukan terus-menerus khawatir tentang politik, hidup dalam stres, dan memikirkan bom yang jatuh sebagai ketakutan tanpa akhir.”

Dunia anak-anak di Iran semakin sempit sepanjang perang. Ancaman serangan yang terus-menerus dari pesawat AS dan Israel, serta jalan-jalan yang dipenuhi patroli milisi rezim, menyebabkan keluarga di Iran terkurung di dalam rumah. Sekolah-sekolah juga ditutup.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu dan berharap gencatan senjata bertahan. Dengan bantuan sumber-sumber tepercaya di lapangan, BBC mendapatkan kesaksian dari para orang tua dan relawan yang membantu anak-anak menghadapi trauma perang. Beberapa nama telah diubah demi keselamatan mereka.
Di sebuah pusat hak asasi manusia di Teheran, Aysha (nama yang telah diubah) memberi konseling kepada seorang ibu melalui telepon.
“Coba lakukan hal-hal yang saya sebutkan tadi untuk menciptakan lingkungan yang lebih tenang baginya,” katanya.
“Jika memungkinkan, bermainlah dengannya dan buat dia tetap terhubung. Bahkan jika setelah itu keadaannya tidak membaik, bawa dia kembali ke sini.”
Aysha menyebutkan bahwa tempat kerjanya menerima banyak panggilan dan kunjungan dari orang tua yang cemas.
“Kami melihat banyak gangguan tidur, mimpi buruk, penurunan konsentrasi, dan bahkan perilaku agresif. Ketika Anda berjuang keras untuk membesarkan seorang anak, tapi kemudian anak itu terbunuh dalam unjuk rasa atau perang, saya percaya tidak ada orang tua yang ingin membawa anaknya mengenal dunia.”
Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebanyak 3.636 orang telah tewas dalam perang, termasuk 254 anak. Puluhan ribu orang lainnya terluka.

Di tengah ketakutan tersebut, rezim Iran justru mendorong anak-anak ke garis tembak. Pemerintah mengajak orang tua agar mengizinkan anak-anak bergabung dengan milisi sukarelawan Basij, yang bertugas menjaga pos pemeriksaan.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, seorang tokoh rezim menyerukan kepada orang tua untuk “menggandeng tangan anak-anak Anda dan turun ke jalan”. Ia menyamakan perang dengan ujian kejantanan bagi anak laki-laki.
“Apakah Anda ingin putra Anda benar-benar menjadi seorang pria? Biarkan dia merasakan dirinya adalah pahlawan di medan perang, memimpin pertempuran. Para ibu, para ayah, kirimkan anak-anak Anda pada malam hari ke barikade. Anak-anak ini akan berubah menjadi pria sesungguhnya.”
Bagi Alireza Jafari yang berusia 11 tahun, seruan untuk mengangkat senjata berarti kematian. Ia bersama ayahnya bertugas di pos pemeriksaan di Teheran ketika ia tewas akibat serangan drone pada 29 Maret.
Surat kabar lokal mengutip ibunya, Sadaf Monfared, yang berkata bahwa bocah itu “ingin menjadi seorang martir”. Amnesty International menuduh otoritas Iran “menginjak-injak hak-hak anak dan melakukan pelanggaran berat terhadap hukum hak asasi manusia internasional yang setara dengan kejahatan perang” dengan merekrut anak-anak untuk dinas militer.
Namun, perekrutan anak-anak di bawah usia 15 tahun diperbolehkan berdasarkan undang-undang keamanan Iran, yang melanggar hukum internasional.
Warga Teheran, Noor (bukan nama sebenarnya), memiliki seorang putra di awal usia remaja. Ia bersumpah untuk menjauhkannya dari militer.
“Seorang anak berusia 12 tahun tidak pernah bisa membuat keputusan yang tepat. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi,” katanya.
“Mereka mungkin mengira ini semacam permainan. Ketika mereka diberi senjata dan disuruh pergi berperang, mereka membayangkan sedang memainkan gim video. Padahal ketika seorang anak menempuh jalan itu, tidak ada jalan kembali.”
Noor membawa putranya keluar dari Teheran ketika perang dimulai lima minggu lalu.
“Saya tidak akan pernah, sama sekali tidak akan, mengizinkan putra saya terlibat dalam perang. Mengapa anak-anak dieksploitasi?”
“Ketika pertempuran dimulai sekitar sebulan lalu, hal pertama yang saya lakukan adalah meninggalkan kota. Saya stres dan khawatir kalau putra saya mungkin keluar ke jalan dan sesuatu akan terjadi padanya, apalagi membiarkannya pergi berperang.”












