Gejala Awal Parkinson yang Perlu Diperhatikan
Tremor satu sisi, sering jatuh tanpa sebab jelas, tubuh terasa kaku, dan gerakan melambat bisa menjadi tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Menjelang Hari Parkinson Sedunia yang diperingati setiap 11 April, dr. Nita Kurniawati, Sp.N, dokter spesialis saraf RS Premier Surabaya, mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap gejala-gejala tersebut dan segera memeriksakan diri sebelum kondisi semakin berat.
Memahami Apa Itu Parkinson?
Parkinson bukan sekadar penyakit yang membuat tangan gemetar. Di dunia kedokteran, istilah ini memiliki cakupan yang lebih luas dan sering disalahpahami masyarakat awam. “Parkinson syndrome adalah kumpulan gejala yang menunjukkan tanda-tanda Parkinson,” jelas dr. Nita. Ia menerangkan bahwa penyebabnya pun bermacam-macam. Ada yang disebut Parkinson Disease, yakni penyakit murni akibat gangguan pada bagian otak yang memproduksi dopamin dan termasuk dalam penyakit degeneratif. Ada pula Parkinsonism, di mana gejala Parkinson muncul akibat penyebab lain seperti stroke atau infeksi.
“Kalau yang disease ini adalah proses penuaan otak yang terjadi lebih cepat dari biasanya, yang diakibatkan genetik maupun campuran faktor lingkungan, menyerang bagian otak yang memproduksi dopamine sehingga menimbulkan gejala Parkinson berupa tremor, kaku, lambat dan mudah jatuh,” terang dr. Nita. Ia menambahkan bahwa meski penyakit Parkinson paling sering menyerang usia 60 tahun ke atas, mereka yang berusia 30 hingga 40 tahun pun bisa terdampak apabila memiliki faktor genetik tertentu atau riwayat terpapar bahan kimia seperti pestisida secara kronis.
Ciri Khas Gejala Parkinson
Menurut dr. Nita, gejala Parkinson terbagi atas dua kelompok besar: motorik dan non-motorik. Gejala motorik disingkat TRAP, yakni Tremor (gemetar), Rigiditas (kaku), Akinesia/Bradikinesia (lambat bergerak), dan Postural Instability (gangguan keseimbangan postur).
“Gejalanya itu ada gemetar terutama saat istirahat, kemudian kaku dan lambat gerakan, gerakannya menjadi lambat dari biasanya — misalnya dari posisi tidur ke bangun kok jadi lambat sekali — mimik wajahnya juga menjadi datar, dan mudah jatuh. Itu harus segera konsultasi untuk dipastikan apakah itu betul Parkinson Disease atau Parkinsonism karena penyebab lain,” tegasnya.
Penyakit Parkinson memiliki gejala munculnya keluhan terjadi secara perlahan, kemudian makin memberat, sedangkan parkinsonism yang diakibatkan karena stroke pada umumnya terjadi cukup mendadak.
Gejala motorik inilah yang paling sering membuat pasien akhirnya datang ke dokter, sedangkan gejala non-motorik seperti cemas, depresi, dan mudah lelah kerap tidak dianggap serius.
“Pada umumnya pasien datang karena gejala motoriknya. Kalau ada gangguan yang menyebabkan aktivitas sehari-hari terganggu seperti lambat gerakan, kaku, kemudian mudah jatuh, itu mereka baru berobat,” ungkap dr. Nita.
Bagian yang mengkhawatirkan ialah saat pasien akhirnya memeriksakan diri, kondisinya sudah memasuki stadium lanjut.
“Pada umumnya yang datang itu sudah grade dua-tiga,” katanya.
Ia juga mengingatkan, jika gejala Parkinson yang muncul seperti gemetar dan kaku tersebut terjadi secara mendadak, jangan tunda pemeriksaan karena bisa jadi itu bukan Parkinson, melainkan stroke yang membutuhkan penanganan darurat segera.
Seseorang yang pernah aktif dan mandiri, kemudian perlahan-lahan mulai sering jatuh, biasanya sudah menyadari ada yang berbeda pada dirinya.
“Pada umumnya pasien juga merasa. Dia sendiri sudah bilang, ‘Saya sering jatuh kalau jalan, seperti mau jatuh ke depan,'” cerita dr. Nita menggambarkan keluhan yang kerap disampaikan pasiennya.
Terapi Penyembuhan Parkinson di RS Premier Surabaya
RS Premier Surabaya menyediakan layanan terpadu untuk penanganan Parkinson, mulai dari diagnosis hingga terapi rehabilitasi, dengan pendekatan tim multidisiplin yang menyeluruh. Terapi untuk Parkinson ini dikenal sebagai treatment holistik.
Langkah pertama adalah penegakan diagnosis yang akurat. “Metode pemeriksaan untuk gejala Parkinson pada umumnya dilakukan MRI 3 Tesla untuk memastikan penyebabnya dahulu apakah benar Parkinson Disease atau Parkinsonism akibat sebab lain,” jelas dr. Nita. Fasilitas MRI 3 Tesla yang dimiliki RS Premier Surabaya menjadi salah satu keunggulan utama dalam proses deteksi dini yang presisi.
Setelah diagnosis ditegakkan, penanganan dilanjutkan ke unit Rehabilitasi Medik RS Premier Surabaya. “Setelah mendiagnosis bahwa ini adalah gejala Parkinson dan pasien mengalami kesulitan melakukan daily activity, kita kirim ke dokter rehabilitasi medik untuk mengkaji apa saja problemnya,” terang dr. Nita. Tim rehab kemudian merancang program terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien, misalnya latihan keseimbangan untuk mengatasi postural instability, atau latihan ketangkasan refleks bagi yang mengalami kekakuan dan lambat bergerak.
Terapi fisik bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari penanganan Parkinson. “Terapi fisik itu paling penting. Kalau tidak ada latihan fisiknya, maka 90 persen dipastikan dia akan jatuh ke kondisi Parkinson yang lebih berat dalam waktu dekat,” kata dr. Nita dengan tegas.
Untuk kasus yang tidak merespons terapi konservatif dan obat-obatan, tersedia pilihan tindakan lebih lanjut. “Kalau tidak tertangani, biasanya kita konsulkan ke dokter bedah saraf untuk pemasangan DBS atau Deep Brain Stimulation, yaitu alat seperti pacemaker yang dipasang di dalam otak untuk mengatur impuls dopamin,” jelas dr. Nita.
Penanganan di RS Premier Surabaya juga melibatkan psikiater apabila ditemukan gejala non-motorik seperti halusinasi, demensia, atau gangguan perilaku. “Kalau ada gejala psikiatri, kami harus konsultasikan untuk ditangani juga, karena akan sulit bagi caregiver merawat pasien jika gejala psikiatrinya tidak diobati,” ujarnya.
Dr. Nita menutup dengan pesan penting bagi masyarakat: “Kalau belum pernah berobat dan gejalanya mirip dengan Parkinson, atau riwayat keluarganya ada yang Parkinson, ada baiknya memang langsung konsultasi.” Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang kualitas hidup pasien dapat dipertahankan.












