Kehilangan Nyawa dalam Tugas Perdamaian
Kematian Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muh Nur Ikhwan, dan Praka Farizal Rhomadon bukan hanya sekadar kabar duka. Ini adalah pukulan berat bagi tatanan hukum internasional yang seharusnya menjaga perdamaian di dunia.
Markas dengan bendera biru PBB dan konvoi kemanusiaan yang seharusnya menjadi simbol kedamaian kini telah menjadi tempat pembantaian legal. Zona UNIFIL, yang seharusnya menjadi benteng pasukan perdamaian, kini berubah menjadi wilayah di mana kebiadaban Israel dan militer mereka terhadap kesewenang-wenangan menghilangkan nyawa manusia tidak lagi dihentikan.
Mandat Tanpa Kekuatan
Pasukan penjaga perdamaian (Peacekeepers) dibekali dengan mandat untuk mengamati dan melaporkan, namun sering kali tangan mereka terikat oleh aturan pelibatan (Rules of Engagement) yang sangat terbatas. Di Lebanon, prajurit kita berada di tengah-tengah dua kekuatan besar yang saling menghancurkan, salah satunya adalah militer Israel yang dikenal bengis meneror nyawa manusia.
Sayangnya, senjata Pasukan Perdamaian hanya boleh menyala jika nyawa mereka terancam secara langsung—itu pun dalam konteks kekuatan militer yang sempit dengan kapasitas yang kecil dan sangat tidak setara. Padahal, dalam prinsip perdamaian, pihak pendamai atau yang menengahi perdamaian idealnya harus memiliki kesetaraan dengan pihak yang bertikai, termasuk setara dalam kekuatan militer.
Jika pihak bertikai ingin memukul Penjaga Perdamaian, pemukul sudah tahu bahwa pukulan balik dari Penjaga Perdamaian bisa sama kuat atau bahkan lebih kuat. Sehingga pihak bertikai bukan hanya hormat pada Penjaga Perdamaian, tapi otomatis menghindari tindakan menyerang atau mengganggu Penjaga Perdamaian. Namun jika Penjaga Perdamaian tidak setara atau lebih kecil, maka mereka hanya akan jadi sasaran bullying kekuatan militer pihak yang bertikai.
Diplomasi yang Teruji dalam Darah
Secara geopolitik, pengiriman TNI ke Lebanon adalah wujud amanah konstitusi untuk “ikut melaksanakan ketertiban dunia”. Namun, ketika misi perdamaian menjadi misi bunuh diri akibat kebrutalan pihak-pihak yang bertikai, evaluasi mendalam adalah harga mati. Indonesia tidak boleh hanya mengirimkan doa dan kecaman diplomatik.
Gugurnya ketiga prajurit ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk menuntut reformasi pada Dewan Keamanan PBB. Jika PBB tidak mampu menjamin keamanan bagi mereka yang menjaga perdamaian, maka legitimasi organisasi ini sedang berada di titik nadir. Dan Indonesia tidak perlu konyol menjadikan anak bangsa sebagai tameng rudal dalam misi perdamaian.
Makna Pengorbanan
Lalu, “sepadankah pengorbanan nyawa anak bangsa Indonesia untuk ketertiban dan perdamaian Bangsa Lebanon dan Bangsa Israel yang masih menolak berdamai?” Tentu secara militer dan kemanusiaan tidak ada yang sepadan dengan hilangnya nyawa manusia untuk sebuah misi perdamaian dimana pihak yang bertikai terus-menerus menolak berdamai.
Setiap amunisi yang menembus zona pertahanan pasukan perdamaian PBB adalah bukti kegagalan tatanan regulasi dunia dan tujuan perdamaian jauh dari harapan. Secara nilai kebangsaan, ketiga prajurit ini adalah martir bagi prinsip Indonesia yang tidak pernah mundur dari tanggung jawab global.
Mereka gugur saat menjalankan tugas mulia. Walaupun ketiga Pahlawan ini gugur dalam upaya memberikan rasa aman bagi bangsa lain yang bertikai, bukan bangsanya sendiri. Penting untuk disadari bangsa ini tidak boleh terjebak dalam romantisme kepahlawanan. Menghargai gugurnya mereka berarti memastikan bahwa mereka adalah korban terakhir dari sistem perdamaian yang compang-camping.
Langkah yang Harus Diambil
Jangan lagi ada prajurit anak bangsa yang tertaruh nyawa untuk tujuan bias perdamaian. Kita berhutang kepada keluarga almarhum untuk menanyakan kepada dunia: Sampai kapan penjaga perdamaian harus gugur di tanah yang menolak untuk damai?
Negara harus bergerak lebih dari sekadar pemberian pangkat anumerta dan santunan pada prajurit yang gugur. Jika zona UNIFIL sudah tidak lagi aman bagi Pasukan Indonesia penjaga perdamaian, maka saatnya memulangkan personel TNI kita dari sana. Jangan biarkan “Helm Biru” hanya menjadi sasaran rudal yang tak punya wewenang dan kekuatan untuk membalas, karena kedaulatan nyawa prajurit TNI adalah harga tertinggi yang tak boleh ditawar oleh kepentingan diplomasi apa pun.
Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."












