6 Fakta Menarik OST Film Para Perasuk yang Dinyanyikan Maudy Ayunda

Fakta Menarik di Balik OST Film Para Perasuk yang Dibawakan Maudy Ayunda



Maudy Ayunda, penyanyi ternama Indonesia, baru-baru ini merilis dua lagu sekaligus untuk menjadi original soundtrack (OST) dari film Para Perasuk. Lagu-lagu tersebut adalah “Aku yang Engkau Cari” dan “Di Tepi Lamunan”. Proses pembuatan keduanya terasa sangat unik dan penuh makna. Berikut beberapa fakta menarik tentang karya-karya Maudy Ayunda ini.

1. Antusias dalam Membuat Original Soundtrack Film Para Perasuk



Maudy Ayunda mengungkapkan bahwa ia sangat antusias ketika mendapatkan kesempatan untuk membuat OST film Para Perasuk. Ia bekerja sama dengan Lafa Pratomo, pencipta lagu dan produser yang sudah lama berkolaborasi dengannya.

“Sebenarnya aku sama Mang Lafa itu sudah bekerja sama beberapa kali di album. Terus kebetulan di soundtrack film juga pernah sekali. Jadi ada sejarahnya sebenarnya,” ujarnya.

Dari kolaborasi ini, mereka menciptakan lima hingga enam lagu. Maudy merasa nyaman dan aman dalam proses berkarya bersama Lafa. Hal ini menunjukkan hubungan kreatif yang kuat antara keduanya.

2. Pembuatan Lagu “Aku yang Engkau Cari” yang Kurang dari Satu Jam



Lafa Pratomo menceritakan bahwa proses pembuatan lagu “Aku yang Engkau Cari” sangat cepat. Setelah menonton filmnya, mereka langsung memahami arah emosi yang ingin disampaikan, sehingga dalam waktu kurang dari satu jam lagu tersebut sudah terbentuk.

“Yang menarik, pas kita bikin ‘Aku yang Engkau Cari’ kita dapat lagu itu dulu, ya. Kita dapat lagu itu kurang dari satu jam. Kita masuk studio, setengah jam sudah jadi karena kita kan nonton dulu filmnya terus kayak, ‘Oh, kita sudah tau apa yang mau dituju’,” kata Lafa.

Lagu ini mengangkat tema harapan tentang sesuatu yang diraih atau sempat hilang lalu kembali. Kecepatan proses ini menunjukkan kuatnya intuisi dan keselarasan visi di antara keduanya saat berkarya.

3. Lagu “Di Tepi Lamunan” yang Berawal dari Voice Note Maudy Ayunda



Tidak hanya satu lagu, Maudy Ayunda juga memperkenalkan draft lagu lain yang ia rekam dalam bentuk voice note. Ide sederhana tersebut kemudian menarik perhatian Lafa Pratomo untuk dikembangkan bersama. Dari sketsa awal itu, lahirlah lagu “Di Tepi Lamunan” yang kemudian digarap lebih serius.

“Lalu karena waktu kita masih banyak, waktu itu Mod (panggilan Maudy Ayunda) ngasih satu draft lagu. Dia bikin sketsa lagu di voice note-nya, lalu dia kasih dengar. Oh, ini kayaknya menarik juga deh (lagu draft Maudy Ayunda), kita bisa bikin aja, yuk. Itu lagu yang baru saat ‘Di Tepi Lamunan’, terus kita bikin,” kata Lafa Pratomo.

Versi awal dari lagu “Di Tepi Lamunan” direkam secara sederhana, yakni hanya dengan satu mikrofon, gitar, dan dilakukan dalam satu kali take. Maudy bahkan menyebut bahwa dalam demo awal masih terdengar suara Lafa Pratomo.

4. Lagu “Di Tepi Lamunan” yang Launched dari Rasa Penasaran yang Belum Tuntas



Lagu “Di Tepi Lamunan” sendiri mencerminkan proses kreatif dari Maudy Ayunda yang belum selesai sepenuhnya. Awalnya mereka hanya berniat membuat satu lagu, tapi dikarenakan masih ada rasa penasaran yang akhirnya mendorong mereka untuk eksplorasi lebih lanjut.

Perasaan “belum puas” itulah yang akhirnya membuat Maudy terus mengulik ide bersama hingga tercipta karya tambahan yang tak kalah kuat secara emosional.

“Sebenarnya lagu ‘Di Tepi Lamunan’ tuh, kenapa dia di tepi karena sebenarnya intensinya pertama kali adalah cuma bikin satu lagu, tapi kayak masih ada rasa terusik, masih ada rasa penasaran yang yang mengapa nggak selalu ready untuk ‘Ayo kita coba’. Kalau memang masih gatel, kita terus kulik bareng gitu,” ucap Maudy.

5. Lagu “Di Tepi Lamunan” yang Menggambarkan Dua Dunia yang Berbeda



Lebih lanjut, Maudy Ayunda menyebutkan bahwa lirik dari lagu “Di Tepi Lamunan” menggambarkan dua dunia sekaligus. Dunia pertama adalah sisi “perasuk” yang hadir sebagai sosok yang menenangkan untuk “pelamunnya” dunia lamunan, sementara di sisi lain untuk orang yang mencari rasa aman dan nyaman.

Jika melihat dari sudut pandang sosok perasuk yang seolah berbicara kepada pelamun. Kalau ia akan memberikan rasa aman dengan pesan bahwa ia selalu ada di “ujung lamunan” untuk membawa kembali seseorang.

“Di satu sisi yang menyanyikan ini adalah seorang perasuk yang ngomong bahwa ‘Tenang saja, aku ada di sini’. Di tepi lamunan itu maksudnya di ujung perasukkan ini, ada aku yang akan mengambil kamu kembali, ada aku di ujung khayalmu, ada aku di ujung lamunan. Jadi sebenarnya ini kayak seorang perasuk yang menyanyikan lagu untuk pelamunnya,” jelas Maudy.

Selain sudut pandang perasuk, lagu ini juga bisa dimaknai sebagai ruang aman bagi siapa pun yang sedang dilanda keresahan. Lagu ini menjadi representasi keinginan untuk beristirahat sejenak dari beban hidup dan mencari ketenangan.

“Tapi, di sisi lain ini juga lagu buat siapa pun yang mencegah punya keresahan, yang ingin mencari tempat rehat sejenak, ingin mencari pelarian, ingin berselindar di orang yang dia sayangi dan bisa memeluk dia,” lanjut Maudy.

Bagi yang mendengarkan lagu ini, Maudy memberi kebebasan untuk memilih interpretasi, apakah ingin melihatnya sebagai kisah perasuk dan pelamun atau sebagai ungkapan emosional tentang kebutuhan akan tempat bersandar.

6. Original Soundtrack Film Para Perasuk yang Dibuat Maudy Ayunda Terasa Lebih Dreamy dan Penuh Imajinasi

Dalam lagu “Aku yang Engkau Cari” dan “Di Tepi Lamunan”, pendekatan musiknya terasa lebih dreamy dan penuh imajinasi. Menurut Lafa Pratomo, lagu ini terasa lebih “nawang” atau melayang dibanding karya-karya Maudy sebelumnya, terutama pada lagu “Aku yang Engkau Cari”.

“Menurutku dari lagu-lagu Maudy yang sebelumnya, start musik mungkin ini lebih dreamy, lebih nawang, lebih berkhayal, terutama di lagu yang ‘Aku yang Engkau Cari’,” ungkap Lafa Pratomo.

Meski terasa lebih dreamy, Lafa Pratomo tetap mempertahankan elemen ritmis dan perkursif dalam lagu yang dibawakan Maudy Ayunda tersebut. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, karena ia ingin menciptakan keseimbangan antara musik yang tetap “hidup” dengan atmosfer yang terasa seperti memasuki dimensi lain.

“Aku berusaha gimana caranya bikin satu lagu yang masih tetap ritmis, masih tetap perkursif, tapi kita tuh kayak masuk ke satu alam yang lain. Jadi agak lebih mistis, ya. Mistisnya bukan mistis seram,” sambung Lafa Pratomo.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *