Konflik Internal Pesantren Istiqamah dan Peran Tamsil Linrung
Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung diseret dalam konflik internal yang terjadi di Pesantren Istiqamah di Maccopa Maros. Keterlibatan Tamsil dalam konflik ini terkait dengan bantuan-bantuan yang selama ini dialirkan ke pesantren yang merupakan peninggalan dari KH Arif Marzuki.
Tamsil Linrung telah beberapa kali menyampaikan klarifikasi bahwa dirinya tidak memiliki kepentingan apapun di pesantren, kecuali memenuhi permintaan bantuan dari pihak pesantren. Ia menegaskan bahwa semua tindakan yang dilakukannya hanya sebagai bentuk bantuan tanpa ada niat untuk mengambil keuntungan pribadi.
Awal kedekatan Tamsil dengan keluarga besar Kiai Arif Marzuki terjadi ketika putra kiai, Muzakkir Arif, menemuinya bersama sang adik, Muzayyin Arif. Menurut Tamsil, Kiai Arif meminta bantuan agar Tamsil bisa membantu pekerjaan adiknya sesuai bidangnya. Muzakkir awalnya menjadi staf ahli Tamsil di DPR RI, sedangkan Muzayyin sangat membantu dalam menjalankan tugas-tugas Tamsil.
Ketika almarhum Ustadz Arif Marzuki datang ke rumah, ia membawa anak-anaknya untuk menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan Tamsil kepada pesantren. Selain itu, ia juga meminta bantuan karena menghadapi masalah keuangan yang cukup mengganggu.
Tamsil menjelaskan bahwa uang yang digunakan untuk pemberangkatan haji ternyata digunakan untuk keperluan lain. Ia kemudian meminta putra almarhum, Prof Halide, yang merupakan salah satu direktur perusahaan Tamsil, untuk membantu. Menurut Tamsil, jumlah bantuan tersebut mencapai lebih dari satu miliar rupiah, dan ini adalah bantuan kedua kalinya.
Berikut penjelasan lengkap Tamsil Linrung:
Dia merekomendasikan agar tidak usah dibantu lagi, tetapi ia tetap meminta untuk membantu. Ustadz Arif mau menyerahkan tanah sebagai jaminan, tetapi Tamsil menolak. Ia ingin bantuan tersebut hanya sebagai bentuk bantuan dari dirinya sendiri. Tamsil kemudian mengusulkan agar pesantren dibantu APBN untuk pembangunan GOR yang multifungsi. Akhirnya disetujui bantuan dari APBN sebesar 2,5 miliar rupiah.
Tamsil menyampaikan ke Muzayyin dan Ustadz Arif supaya pekerjaannya diserahkan kepada yang profesional. Ia meminta arsiteknya di Jakarta membuat gambar lengkap dengan RAB-nya. Ia juga menyampaikan supaya biayanya arsitek dibebankan ke dirinya. Jadi tidak mengganggu anggaran dari APBN. Karena ia ingin proyek ini bisa menjadi pilot proyek yang ia jadikan dasar untuk pengajuan bagi pesantren lainnya, seperti Hidayatullah, Qahdah Islamiyah Gombara dll.
Namun, ternyata yang kerjakan Muallin dan berujung pada pemeriksaan Itjen yang berkesimpulan bahwa pekerjaan tersebut jauh dari target. Tamsil meminta stafnya di Jakarta melakukan penilaian. Akhirnya dia menyampaikan bahwa nilai pekerjaan masih di bawah Rp1 miliar.
Tamsil kemudian memberi bantuan tambahan dana pribadi jika bisa dengan biaya Rp500 juta walaupun lebih dari itu usahakan tidak mencapai 1 miliar tambahannya. Almarhum menangis di depan dan mengatakan “Untung kita ada pak Tamsil,” sambil mengatakan bahwa akan terus mendoakan atas kebaikan Tamsil ini.
Jika ada acara di pesantren, almarhum sering menyampaikan bahwa Tamsil banyak membantu, termasuk menyampaikan bahwa mobil pajero yang almarhum pakai adalah bantuan dari Tamsil. Terakhir, Tamsil jalan ke Saudi bersama beberapa anggota keluarga almarhum. Mereka berkeliling di sana menggunakan mobil GMC milik Tamsil yang dipegang oleh Musaddiq dan juga 1 unit mobil bus vip yang Tamsil minta disewa untuk berkeliling silaturahmi dengan tokoh di Timur Tengah, sempat bertemu dengan keluarga ar rajhi.
Muzayyin mengajak Relife, perusahaan yang Tamsil termasuk menjadi pemegang saham di sana. Intinya diajak untuk mengelola Darul Istiqamah untuk mengefektifkan lahannya secara profesional. Tamsil meminta agar jika ada rencana seperti itu, lebih baik dimulai dengan membuat contoh pengembangan dengan tidak mengganggu lahan pesantren karena itu ia beli lahan di depan seluas 2 ha.
Mereka secara bersama-sama meminjam uang ke Tamsil untuk hal tersebut. Adapun yang lain adalah gagasan Muzayyin membuat SPIDI awalnya Tamsil menyampaikan ceramah terbuka dihadiri banyak jamaah di pesantren. Ia menyatakan bahwa pesantren ini luar biasa dikelola oleh SDM yang luar biasa, lulusan perguruan tinggi favorit dalam dan luar negeri, khususnya Saudi.
Kemudian Tamsil bertanya apakah ada anak pejabat yang sekolah di sini, misalnya anak gubernur dan bupati. Dijawab oleh Muzayyin bahwa jangankan anak bupati, anak pak desa samping tembok pesantren saja tidak sekolah di sini. Akhirnya Tamsil bertanya tahu apa yang menjadi penyebabnya.
Dugaan Tamsil karena pesantren ini pesantren gratis. Anak Bupati tentu tidak mau disebut gratisan. Makanya ia mengusulkan agar pesantren berbayar. Bagi yang tidak mampu kita subsidi. Kita terapkan konsep pendidikan berkeadilan. Yang mampu membayar dan yang tidak mampu digratiskan.
Akhirnya dibuatlah SPIDI. SPIDI ini mirip-mirip dengan ICM yang Tamsil buat di Jakarta. Panjang lebar ia sudah menjelaskan sebelumnya. Termasuk pernah menyampaikan ke Prof. Atja Razak Thaha.
Sekarang Tamsil ingin menanyakan apa yang telah diambil di pesantren Darul Istiqamah. Apakah ada asetnya yang diambil. Jika mau mengetahui bantuan Tamsil tanyakan kepada sebagian besar dari mereka semua bersaudara. Bahkan dengan beberapa menantu almarhum juga.
Termasuk tanyakan kepada Muzakkir Arif yang selama ini Tamsil hormati sama dia dan merasa tidak pernah ada masalah dengannya. Anak Tamsil Nurul menikah dia menyampaikan ceramah pada acara walimahan bahkan ceramahnya dicetak dalam bentuk buku yang dibagikan kepada jamaah.
Jika Beliau ke Jakarta dia bisa menginap di pesantren Tamsil yang dipimpin Ustadz Muthahhir dan Muzayyin. Adik Ustadz Muzakkir dan adik-adik lain. Sekali lagi Tamsil merasa tidak pernah ada masalah dengan mereka semua. Terutama dengan Ustadz Mudzakkir.
Tamsil baru pahami kemarahan Ustadz Muzakkir Arif. Selama ini semua tuduhan tersebut tidak pernah sampai ke Tamsil. Ia ingin pastikan bahwa semua tuduhan tersebut tidak ada satu yang benar. Misalnya dia menyebut ada sawah yang diambil. Itu pasti tidak benar. Tamsil pastikan tidak ada sesuatu pun yang diambil.
Tamsil tahu ini murni pertengkaran antara mereka bersaudara. Ia betul-betul tidak tahu kalau bantuan yang diberikan selama ini dimaknai demikian negatif. Dianggap di balik itu semua ada tujuan-tujuan yang sangat merugikan pesantren.
Mestinya dia bertanya kepada diri mereka sendiri dan kepada adik-adiknya; Muthahhir Musadiq, Muzayyin, Mujawwid, yang perempuan dan suaminya (Tamsil lupa namanya), Muallim sendiri.
Mungkin satu-satunya laki-laki yang Tamsil tidak pernah berinteraksi hanya Mufassir saja. Ada yang di Manado juga pernah bertemu.
Tolong sampaikan ke Ustadz Muzakkir ini murni antara dia dengan saudara-saudaranya sendiri. Bahkan setelah mendengar adanya perseteruan ini sempat Muzayyin membawa saudara-saudaranya yang lain menemui Tamsil di rumah minta masukan.
Tamsil sampaikan akhi Muzayyin “Antum sudah cukup sibuk sebagai Wakil Ketua DPRD Sulsel, saya berharap antum tidak melayani meneruskan sengketa apalagi sampai ke pengadilan. Kalian menang tetap juga tidak ada untungnya. Kalian jaga persaudaraan. Apa yang mereka tuntut serahkan saja. InsyaAllah kamu bisa mendapatkan yang lain yang lebih baik. Mungkin kelemahan Tamsil selama ini karena terakhir memang tidak pernah bertemu langsung dengan Ustadz Muzakkir.”
Tapi silakan ditelusuri dengan sangat mendalam tentang apa yang telah dilakukan dan dianggap merugikan kecuali tuduhan bahwa Tamsil telah mencabit cabit persaudaraan mereka. Tentu ini sangat subyektif. Tapi kalau yang dikatakan bahwa semua yang dilakukan Muzayyin adalah di bawah telunjuk Tamsil, tentu ini sangat naif.
Silakan tanyakan sendiri pada Beliau. Kalau dia ribut dengan adik2nya itu urusan dia sendiri. Kalau Ustadz Muzakkir mau klarifikasi dan bertemu bersama, Tamsil siap untuk itu. Sebagian ada yang berpendapat bahwa ini adalah masalah Salafi dan Ikhwani.
Itupun Tamsil tidak ikut-ikutan. Ia tidak berada di dalam ranah perselisihan tersebut. Ia lebih konsen untuk ditunjukkan dari sisi material apa yang telah rugikan bagi pesantren Darul istiqamah. Seperti ada disebutkan tadi soal sawah 5 hektar. 5 hektar atau berapapun dan apapun itu Tamsil pastikan bahwa ia bersih dari tuduhan tersebut. Silakan buktikan. Terimakasih
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












