Kisah Ajaib di Balik Pintu Triplek Masjid Babussalam
Pintu triplek yang tampak usang dan berdebu di Masjid Babussalam, Desa Semparu, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ternyata menyimpan rahasia yang sangat mengejutkan. Saat pintu tersebut dibongkar sebagai bagian dari proses renovasi masjid, ditemukan tumpukan uang kertas senilai puluhan juta rupiah yang membuat pengurus dan warga terkejut.
Penemuan ini terjadi saat para pengurus masjid melakukan pembongkaran pintu untuk memperbaiki struktur bangunan. Alih-alih hanya menemukan kayu yang sudah melapuk, warga justru menemukan gumpalan uang kertas pecahan Rp 100.000 dalam jumlah fantastis yang tersimpan di rongga pintu tersebut. Jumlahnya mencapai Rp 86 juta, yang lebih tinggi dari estimasi awal sebesar Rp 85,4 juta.
Ketua Pembangunan Masjid Babussalam, TGH Lalu Muhdar Mukhtarullah, menceritakan momen kepanikan sekaligus syukur saat dirinya dipanggil oleh jemaah pada Minggu (5/4/2026). Saat tiba di lokasi, ia mendapati warga sudah berkumpul mengelilingi pintu yang telah dibobol. “Saya dibangunkan jemaah, sesampainya di masjid saya sudah temukan orang menghitung uang di atas pintu. Di atas pintu yang sudah dibobol dengan tumpukan uang ratusan ribu yang merah. Sangat banyak kelihatannya masih bertumpuk,” ujar TGH Lalu Muhdar kepada awak media.
Setelah diusut, tumpukan uang tersebut ternyata merupakan inisiatif mandiri dari marbot masjid dan kepala tukang bangunan. Keduanya secara diam-diam menyisihkan uang, melintingnya menjadi gulungan kecil, lalu memasukkannya melalui lubang sempit di bagian atas pintu yang difungsikan layaknya celengan raksasa selama bertahun-tahun.
Selama masa pembangunan berlangsung, sosok misterius yang kerap disebut sebagai “Hamba Allah” sering muncul dalam percakapan antara kepala tukang dan marbot. Sosok ini diklaim selalu siap menanggung kebutuhan masjid yang mendesak. TGH Lalu Muhdar menjelaskan bahwa setiap kali panitia kebingungan mencari dana untuk membeli perlengkapan masjid, kepala tukang selalu menenangkan pengurus.
“Kalau di kepala tukang sering dia sebut hamba Allah. Ketika kita mau beli lampu gantung atau apalah, insya Allah kita punya hamba Allah yang siap menyumbang. Ternyata itu (celengan pintu) yang dimaksud,” lanjutnya.
Pihak pengurus masjid segera membawa temuan uang tersebut ke bank untuk dilakukan penghitungan secara resmi menggunakan mesin hitung. Hasilnya mengejutkan, jumlah total uang tersebut mencapai Rp 86.100.000, lebih tinggi dari estimasi awal warga sebesar Rp 85,4 juta.
Langkah pembongkaran pintu triplek ini dinilai sangat tepat waktu. Mengingat kondisi pintu yang sudah tua, terdapat kekhawatiran uang kertas tersebut akan rusak atau hancur dimakan rayap jika tidak segera diselamatkan.
Hingga saat ini, progres pembangunan Masjid Babussalam telah mencapai 60 persen. Seluruh dana dari “celengan pintu” tersebut kini telah masuk ke kas resmi masjid untuk membiayai tahap pembangunan selanjutnya. “Uangnya ada di kas masjid dan itu akan digunakan untuk pembangunan masjid yang masih panjang. Kita mulai mengarah pembangunan ke tempat wudu, MTK (kamar mandi), dan seterusnya itu kita target yang besar karena akan dibangun ulang dari nol,” pungkas TGH Lalu Muhdar.
Sebagai catatan, pembangunan masjid megah ini menelan dana total sebesar Rp 3,6 miliar. Hingga akhir tahun 2025, tercatat sekitar 99 persen dari total dana tersebut murni berasal dari swadaya dan donasi warga, baik yang diberikan secara transparan maupun melalui aksi anonim yang unik seperti celengan rahasia ini.












