Kunjungan Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan ke Rusun Griya Pekerja Lancang Kuning
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan RI, Syaiful Hidayat, melakukan kunjungan ke Rumah Susun (Rusun) Griya Pekerja Lancang Kuning, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), pada Sabtu (4/4/2026). Kunjungan ini bukan sekadar inspeksi rutin. Syaiful hadir bersama Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko BPJS Ketenagakerjaan, Bambang Joko Sutarto, serta Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemasyarakatan, Andie Megantara.
Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk memastikan fasilitas yang disediakan bagi para pekerja benar-benar layak dan sesuai harapan. Rombongan menyusuri seluruh fasilitas rusun, mulai dari kondisi dalam kamar, bangunan pekarangan hingga area taman. Dalam kunjungan tersebut, mereka juga menyempatkan diri berbincang langsung dengan para penghuni untuk mendengar keluhan dan masukan secara nyata.
Syaiful menyoroti sejumlah poin renovasi bangunan yang masih perlu diperbaiki oleh kontraktor demi menjamin kenyamanan penghuni. Ia mengatakan bahwa kunjungan ini dilakukan bukan hanya untuk melihat laporan, tetapi ingin mendengar langsung dari teman-teman pekerja seperti apa yang mereka rasakan.
Saat berdialog dengan penghuni, Syaiful sempat menguji langsung persepsi warga soal kesesuaian antara biaya sewa dan kenyamanan fasilitas. Jawaban para penghuni ternyata menggembirakan, sewa dinilai cocok dan terjangkau. Salah satu penghuni, Budi, yang telah tinggal di rusun selama 8 bulan, menyatakan fasilitas di sana sudah layak. Ia mengatakan bahwa keamanan dan kenyamanannya oke, serta biaya sewa sampai sejauh ini masih mumpuni.
Budi hanya berharap agar layanan shuttle menuju tempat kerja bisa lebih tertata, mengingat lokasi pekerjaan seluruh penghuni bervariasi. Rusun Lancang Kuning memiliki 564 kamar, masing-masing dilengkapi dua tempat tidur dan dapat menampung hingga empat orang. Selain di Lancang Kuning, BPJS Ketenagakerjaan juga mengelola rusun di Kabil dengan kapasitas 1.000 kamar, serta di Muka Kuning dengan 78 kamar.

Masing-masing lokasi dipilih secara strategis berdasarkan kedekatan dengan area kerja para penghuninya. Misalnya, Kabil didominasi pekerja konstruksi seiring maraknya pembangunan di kawasan tersebut. Lalu rusun Muka Kuning banyak dihuni pekerja pabrik di kawasan Batamindo. Sementara rusun Lancang Kuning dekat dengan Pelabuhan dan kawasan industri Batu Ampar.
Lebih dari sekadar tempat tinggal, Syaiful menegaskan keberadaan rusun griya pekerja ini juga berperan penting dalam menekan angka kecelakaan kerja. Pasalnya, perlindungan BPJS Ketenagakerjaan mencakup bukan hanya saat bekerja, tetapi juga saat berangkat dan pulang kerja.
Ia menceritakan pengalamannya pagi hari itu saat mampir ke RS Awal Bros. Di mana seorang peserta bernama Mutia mengalami kecelakaan parah tertabrak truk tronton saat pulang kerja hingga kehilangan kaki kanannya. Ibunya sempat bingung soal biaya pengobatan yang bisa lebih dari ratusan juta. Namun, Syaiful memberi tahu bahwa semua sudah di-cover oleh jaminan kecelakaan kerja, sampai yang bersangkutan bisa kembali sehat dan return to work.
Syaiful menambahkan bahwa program Griya Pekerja ini merupakan bagian dari kontribusi BPJS Ketenagakerjaan terhadap instruksi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan penyediaan tiga juta hunian bagi masyarakat, khususnya para pekerja. Ia menjelaskan bahwa BPJS Ketenagakerjaan mengontribusikan penyiapan hunian untuk pekerja sebagai bagian dari program nasional ini.
Ke depan, lanjut dia, BPJS Ketenagakerjaan berencana mengembangkan rusun pekerja di lima provinsi lain, yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat (Cikarang), Jawa Tengah, dan Banten. Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Sumbar-Riau-Kepri, Hengky Rhosidien, menambahkan bahwa program Manfaat Layanan Tambahan (MLT) berupa KPR juga terus disosialisasikan di Batam.
Tahun lalu, sebanyak 80 unit rumah berhasil diakses pekerja melalui skema ini, bekerja sama dengan BTN dan Bank Riau Kepri Syariah. Program ini terus dilakukan di 2026. Di mana pun pekerja ingin membeli rumah, BPJS Ketenagakerjaan siap membantu.
Rusun Griya Pekerja sendiri diperuntukkan bagi pekerja yang masih lajang atau tinggal sendiri, sementara program KPR MLT menyasar pekerja yang sudah berkeluarga dan ingin memiliki hunian permanen.












