Iran menolak usulan perdamaian AS untuk berhentikan perang

Iran Menolak Usulan Gencatan Senjata AS dan Tetap Lanjutkan Serangan

Iran menolak usulan gencatan senjata yang diajukan oleh Amerika Serikat (AS) dan terus melanjutkan serangan terhadap Israel serta negara-negara Teluk Arab. Media di Iran melaporkan bahwa langkah Presiden AS Donald Trump untuk memulai pembicaraan tidak langsung dalam upaya mengakhiri perang dinilai tidak logis dan tidak layak.

Menurut laporan dari Kantor Berita Frans, para sumber pejabat Iran yang tidak disebutkan identitasnya menyatakan bahwa Teheran fokus pada pencapaian tujuannya. Mereka menekankan bahwa hanya jika tujuan tersebut tercapai, maka perang—bukan gencatan senjata—akan mungkin berakhir.

Rincian Usulan Perdamaian AS

AS telah merancang usulan perdamaian yang terdiri dari 15 poin, yang telah disampaikan oleh Pakistan kepada Republik Islam Iran. Usulan ini menyoroti urgensi dalam pemerintahan Trump untuk segera mengakhiri konflik. Dalam rincian tersebut, AS menyarankan pengurangan program nuklir Iran, termasuk dimulainya kembali pemantauan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Selain itu, AS juga meminta pembatasan rudal dan akses untuk pengiriman melalui Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran akan mendapatkan keringanan dari sanksi ekonomi yang ketat. Namun, Trump secara terbuka mengisyaratkan bahwa setiap perjanjian perdamaian harus mencakup larangan bagi Iran untuk memperoleh senjata nuklir atau memperkaya bahan radioaktif untuk tujuan sipil. Dia berulang kali menyatakan bahwa Iran ingin membuat kesepakatan.

Tantangan dalam Pembicaraan

Pemimpin AS berharap dapat mencapai kesepakatan pada Jumat (27/3). Namun, hal ini tampaknya sulit mengingat kesenjangan yang masih lebar antara kedua pihak, bahkan jika pembicaraan secara resmi dimulai. Tidak jelas dengan siapa AS akan bernegosiasi, mengingat kurangnya kejelasan tentang struktur kekuasaan Iran setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada hari pertama konflik. Beberapa pejabat pemerintah dan militer terkemuka lainnya juga telah tewas.

Pada hari Senin (23/3), Axios mengidentifikasi Mohammad-Bagher Ghalibaf, ketua parlemen Iran, sebagai tokoh utama yang kemungkinan akan memimpin pembicaraan, meskipun ia membantah telah terjadi negosiasi. “Kami memantau dengan cermat semua pergerakan AS di kawasan ini, terutama penempatan pasukan. Jangan menguji tekad kami untuk mempertahankan tanah kami,” tulis Ghalibaf di X pada Rabu.

Perspektif Israel dan Negara-Negara Lain

Hingga kini masih belum jelas apakah Iran akan segera mengizinkan kapal komersial untuk melewati Selat Hormuz dengan aman, serta bagaimana Israel akan menanggapi kesepakatan apa pun. New York Times menjadi yang pertama kali melaporkan keberadaan dokumen 15 poin tersebut. Namun, Gedung Putih tidak segera memberikan komentar.

Tidak jelas apakah Israel, yang memicu perang bersama AS dengan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, telah menyetujui tawaran Trump. Pejabat Israel mengatakan mereka akan terus menyerang Iran untuk saat ini. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah meminta orang kepercayaannya, Ron Dermer, untuk memantau negosiasi AS-Iran dan memastikan kepentingan negara Yahudi tersebut dijunjung tinggi. Penunjukan ini menandakan betapa seriusnya Netanyahu memandang pembicaraan tersebut dan betapa waspadanya pemerintahnya terhadap kemungkinan AS memilih kesepakatan yang merusak keamanan Israel.

Persyaratan Iran untuk Mengakhiri Konflik

Iran sebelumnya telah menuntut ganti rugi dan janji dari AS dan Israel bahwa mereka tidak akan menyerang Republik Islam lagi sebagai syarat untuk mengakhiri konflik saat ini. Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam perang melawan Teheran, menurut beberapa orang yang mengetahui situasi tersebut. Namun, mereka hanya akan melakukannya jika Republik Islam menyerang infrastruktur listrik dan air yang vital.

Di sisi lain, sumber-sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan, Turki sedang melakukan diplomasi intensif untuk mencoba mencegah negara-negara Arab Teluk terlibat.

Keterlibatan Pihak Luar dalam Pembicaraan

Steve Witkoff dan Jared Kushner, dua utusan khusus Trump, serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio, telah terlibat dalam negosiasi dengan Iran. Terlepas dari pembicaraan tersebut, Trump telah memerintahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah saat ia mempertimbangkan opsi untuk mengakhiri cengkeraman Iran di Selat Hormuz, koridor pelayaran penting untuk minyak, gas alam, logam, dan komoditas lainnya.

Presiden tersebut pada Selasa (24/3) membanggakan bahwa AS berada dalam “posisi tawar yang baik” setelah serangan selama beberapa minggu yang menurutnya telah melumpuhkan rudal, peluncur, dan kapal Iran.

Dampak Global dari Konflik

Di AS, Asia, dan seluruh dunia, konflik tersebut telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar dan pupuk, dengan kapal tanker komersial menghindari penyeberangan selat dan serangan Iran merusak infrastruktur energi.

Pengendalian Iran yang semakin meningkat atas Hormuz telah ditegaskan dengan diberlakukannya biaya transit untuk beberapa kapal komersial. Pembayaran hingga US$2 juta per perjalanan diminta secara ad hoc, yang secara efektif menciptakan pungutan informal di jalur air tersebut.

Lebih dari 4.300 orang telah tewas dalam konflik tersebut, menurut pemerintah dan lembaga non-pemerintah. Sekitar tiga perempat dari korban tewas berada di Iran, sedangkan lebih dari 1.000 orang tewas di Lebanon, tempat Israel berperang paralel melawan militan Hizbullah yang didukung Iran. Puluhan orang tewas di Israel dan negara-negara Teluk Arab.

Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *