Pemerintah Perlu Efisiensi Anggaran MBG: Bahaya Kebocoran dan Dampak Ekonomi Rendah



.CO.ID – JAKARTA.

Penilaian Celios terhadap Dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialokasikan dengan anggaran besar sebesar Rp 335 triliun dalam APBN 2026 dinilai oleh Center of Economic and Law Studies (Celios) memiliki dampak yang terbatas terhadap perekonomian nasional. Bahkan, menurut analisis Celios, efeknya cenderung tidak signifikan. Oleh karena itu, Celios menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan pengefisienan anggaran MBG.

Berdasarkan perhitungan Celios, dampak MBG pada produk domestik bruto (PDB) hanya sekitar 0,06% atau setara dengan Rp 14 triliun. Meskipun realisasi anggaran MBG meningkat dari Rp 51,5 triliun pada 2025 menjadi Rp 335 triliun di 2026, dampak ekonomi yang dihasilkan tetap rendah.

Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menjelaskan bahwa efek MBG terhadap perekonomian sangat kecil dibandingkan dengan dana yang digunakan. Menurutnya, program ini hanya menggeser pola konsumsi masyarakat, bukan menciptakan permintaan baru. Sebelumnya, masyarakat membeli makanan secara mandiri, kini kebutuhan tersebut dipenuhi oleh pemerintah.

Dampak terhadap Tenaga Kerja dan Penerimaan Negara

Huda juga menyebutkan bahwa MBG berdampak pada tenaga kerja. Meski ada penyerapan tenaga kerja melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pada saat yang sama terjadi pengurangan pekerjaan di sektor informal, seperti pedagang kantin sekolah dan UMKM lainnya.

Dari sisi penerimaan negara, Huda menilai kontribusi MBG sangat terbatas. Gaji pekerja dalam program ini umumnya masih di bawah batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), sehingga tidak memberikan tambahan signifikan terhadap penerimaan pajak penghasilan (PPh 21). Selain itu, kontribusi terhadap pajak pertambahan nilai (PPN) juga dinilai rendah, mengingat sebagian besar bahan makanan pokok tidak dikenakan PPN.

Menurut Huda, MBG belum memberikan dampak berarti terhadap konsumsi, perekonomian secara umum, maupun kondisi tenaga kerja. Ia bahkan mengingatkan potensi risiko tata kelola yang dapat membuka celah praktik korupsi jika tidak diawasi dengan ketat.

Efek Substitusi dan Pengadaan Bahan Baku

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menambahkan bahwa salah satu persoalan utama MBG adalah efek substitusi yang cukup besar. Program ini tidak sepenuhnya menciptakan aktivitas ekonomi baru, melainkan menggantikan aktivitas yang sudah ada di masyarakat.

Efek substitusi ini menyebabkan klaim penciptaan lapangan kerja tidak sebesar yang disampaikan. Bhima juga menyoroti pola pengadaan bahan baku MBG yang cenderung langsung ke produsen besar atau distributor utama, seperti pemasok sayur, telur, dan ayam. Kondisi ini dinilai membuat pelaku usaha kecil, seperti pedagang pasar tradisional dan warung di sekitar sekolah, tidak mendapatkan manfaat optimal.

Permasalahan Fiskal dan Multiplier Effect

Dari sisi fiskal, Bhima menilai belum ada jaminan bahwa anggaran besar MBG akan berdampak pada peningkatan rasio pajak. Ia menjelaskan bahwa banyak transaksi dalam rantai pasok MBG, terutama di sektor pertanian dan distribusi bahan pangan, belum terdokumentasi secara formal.

Pembelian ke petani atau distributor tidak selalu menggunakan bukti transaksi formal. Hal ini menyulitkan optimalisasi penerimaan pajak, termasuk PPh. Bhima menegaskan bahwa multiplier effect MBG terhadap ekonomi juga tidak sebesar yang diklaim, mengingat sektor makanan dan minuman yang terlibat didominasi sektor informal.

Rekomendasi untuk Alokasi Anggaran

Dalam konteks kebijakan, Bhima menilai alokasi anggaran besar seharusnya dapat dipertimbangkan untuk sektor yang memiliki daya ungkit lebih tinggi, seperti subsidi energi atau peningkatan daya saing industri manufaktur yang berkontribusi sekitar 30% terhadap penerimaan perpajakan.

“Ini semua adalah alasan kenapa program MBG harus diefisiensikan,” tegas Bhima.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *