Budaya  

Krisis BBM, Kuil di Thailand Beralih ke Arang untuk Kremasi

Krisis BBM Global Mengubah Metode Kremasi di Thailand

Krisis energi global yang dipicu oleh ketegangan antara Iran dan Israel-AS telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di berbagai wilayah, termasuk di Asia Tenggara. Akibatnya, sejumlah sektor usaha terpaksa memutar otak untuk bertahan, salah satunya adalah jasa kremasi di beberapa kuil di Provinsi Uthai Thani, Thailand.

Dampak Krisis BBM pada Jasa Kremasi

Kremasi merupakan proses pengabuan atau pembakaran jenazah menggunakan suhu sangat tinggi dalam tungku khusus (krematorium). Biasanya, metode ini menggunakan BBM sebagai bahan bakar utama dan mampu mengubah jasad menjadi abu serta fragmen tulang dalam waktu 1,5 hingga 3 jam. Namun, saat ini, sejumlah kuil di Uthai Thani kesulitan melanjutkan prosesi kremasi karena langkanya bahan bakar minyak.

Selat Hormuz, jalur kunci distribusi BBM, menjadi kawasan yang sulit dilalui akibat tekanan militer, sehingga distribusi BBM terganggu. Hal ini berdampak langsung pada sektor-sektor yang bergantung pada BBM, termasuk krematorium modern di berbagai kuil.

Kuil Wat Maphrao Sung: Solusi Tradisional yang Efektif

Di tengah kebingungan tersebut, sebuah kuil bernama Wat Maphrao Sung menjadi sorotan warga lokal. Kuil ini secara resmi mengumumkan penggunaan kembali krematorium berbahan bakar kayu arang guna mengatasi kelangkaan BBM. Penggunaan metode tradisional ini tidak hanya membantu warga tetapi juga memberikan solusi praktis dalam situasi krisis.

“Jika tidak ada minyak, silakan datang dan lakukan kremasi di sini,” ujar Phra Ajarn Mayom, kepala biara Wat Maphrao Sung. Ia menjelaskan bahwa meskipun kremasi menggunakan tungku arang memakan waktu lebih lama (sekitar 3–4 jam), metode ini tetap memenuhi standar prosesi kremasi dan tidak mengganggu kelancaran upacara.

Adaptasi dengan Keberlanjutan

Wat Maphrao Sung bukan satu-satunya kuil yang mulai mempertimbangkan penggunaan arang kayu kembali. Sebagian besar kuil di Provinsi Uthai Thani mulai mempertimbangkan kembali metode tradisional setelah sistem modern mereka terhenti akibat kelangkaan BBM. Meski sebelumnya banyak kuil yang beralih ke teknologi listrik atau minyak, krisis energi memaksa mereka untuk kembali ke solusi yang lebih sederhana dan ramah lingkungan.

Phra Ajarn Mayom menekankan bahwa tujuan utama kuil saat ini adalah membantu sesama di masa sulit seoptimal mungkin. Ia menyatakan bahwa Wat Maphrao Sung siap menerima jemaah dari wilayah mana pun yang membutuhkan bantuan. Upacara pemakaman dapat digelar di area kuil yang luas, atau prosesi upacara dilakukan di tempat lain lalu jenazah dibawa ke kuil hanya untuk proses kremasi.

Biaya yang Fleksibel dan Berdasarkan Keyakinan

Mengenai biaya, Phra Ajarn Mayom memberikan kebijakan yang sangat menyentuh hati. “Semua tergantung pada keikhlasan dan keyakinan jemaah,” katanya. Ini menunjukkan komitmen kuil untuk tetap menjaga nilai-nilai spiritual tanpa membebani keluarga yang sedang berduka.

Kesimpulan

Krisis energi global yang sedang berlangsung memaksa masyarakat Asia untuk beradaptasi dengan cara-cara tak terduga, termasuk kembali ke kearifan lokal demi kelangsungan hidup dan tradisi. Di tengah tantangan ini, Wat Maphrao Sung menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat menjadi solusi efektif dalam situasi krisis. Dengan menggabungkan tradisi dan kebutuhan modern, kuil ini berhasil memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengorbankan standar dan nilai-nilai spiritual.




Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *