Serangan Rudal AS-Israel Tak Ganggu Jutaan Warga Iran Shalat Id

Salat Id di Tengah Ketegangan dengan AS dan Israel

Di tengama kekhawatiran akan serangan rudal dari Amerika Serikat (AS) dan Israel, jutaan warga Iran tetap memenuhi area-area terbuka serta masjid-masjid untuk melaksanakan ibadah salat Idulfitri atau salat Id. Mereka berbondong-bondong memadati masjid dan ruang terbuka di seluruh negeri untuk salat Id pada hari Sabtu (21/4/2026) pagi.

Momen ini menandai pertama kalinya salat Id dilakukan tanpa kehadiran almarhum Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang selama puluhan tahun memimpin langsung ibadah tersebut. Berdasarkan laporan, salat utama digelar pukul 08.00 waktu setempat di Masjid Imam Khomeini, di Teheran. Sejak pukul 06.30 pagi, masjid dan lokasi salat telah dibuka dengan pengaturan khusus untuk mengelola lonjakan jemaah.

Salat di ibu kota dipimpin oleh Syekh Ali Akbari, kepala Dewan Kebijakan Imam Salat Jumat Iran. Meskipun situasi perang dengan AS dan Israel masih berlangsung, area terbuka di sekitar lokasi salat tetap dipenuhi jemaah. Koresponden di Teheran melaporkan bahwa tingginya partisipasi masyarakat mencerminkan tekad kuat rakyat Iran bahwa tekanan dari pihak luar tidak akan melemahkan mereka.

Di hari yang sama, di Teheran juga menggelar pemakaman Syahid Ali Mohammad Naeini, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Awalnya umat melaksanakan salat Id yang kemudian dilanjutkan dengan salat jenazah di Mosalla. Usai rangkaian ibadah, demonstrasi besar terjadi di berbagai wilayah Iran. Massa menyuarakan dukungan terhadap pemerintah Iran sekaligus mengecam agresi AS dan Israel yang masih berlangsung.

Penolakan Gencatan Senjata

Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan penolakannya terhadap gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa gencatan senjata bukanlah pilihan saat pihak lawan dianggap telah dilemahkan secara signifikan. Ia juga mengisyaratkan bahwa AS dan Israel memiliki tujuan yang sejalan dalam konflik ini, yakni mencapai kemenangan penuh.

Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan meningkatnya korban akibat serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026 lalu. Dalam serangan tersebut, sejumlah pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas, termasuk Ali Khamenei dan Ali Larijani. Di sisi lain, Iran menolak upaya gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyalahkan AS sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pecahnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan.

Situasi semakin kompleks setelah Iran membatasi akses di Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak global. Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan militer, memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Trump sendiri meremehkan dampak penutupan jalur tersebut bagi AS, dengan menyebut bahwa negara-negara lain seperti Eropa dan Asia justru lebih bergantung pada jalur tersebut. Namun, seruannya agar negara lain ikut terlibat membuka kembali selat itu tidak mendapat banyak dukungan internasional.

Sejak dimulainya serangan pada 28 Februari, konflik terus berkembang dengan aksi balasan dari Iran. Yakni melalui serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset terkait AS di kawasan. Kondisi ini meningkatkan risiko eskalasi lebih luas di Timur Tengah.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *