Budaya  

Mengenal Halim Perdanakusuma: Pahlawan Udara Veteran Perang Dunia II

Sejarah Singkat Halim Perdanakusuma

Setiap hari ribuan orang menyebut namanya. Di tiket pesawat. Di pengumuman keberangkatan. Di peta digital dan percakapan singkat: “Ketemu di Halim, ya.” Namun nyaris tak ada yang benar-benar mengenalnya. Halim Perdanakusuma telah direduksi menjadi sekadar nama bandara, penanda geografis tanpa ingatan. Padahal, sebelum namanya dilekatkan pada landasan pacu dan terminal keberangkatan, ia adalah pilot tempur legendaris yang bekerja untuk pasukan Sekutu selama Perang Dunia II dan dijuluki “Black Mascot.” Ia mendapatkan julukan demikian karena misinya selalu berhasil dan ia selalu pulang dengan selamat meski dalam misi berbahaya sekalipun, keberuntungannya melegenda.

Bila kita mempelajari lebih dalam kisah Halim Perdanakusuma, ternyata dia adalah pilot tempur legendaris asal Madura yang bekerja untuk militer Inggris selama Perang Dunia II dan banyak melakukan pengeboman terhadap markas militer Nazi Jerman. Tentu tidak pernah terbayangkan ada orang Madura yang ikut Perang Dunia II di Eropa dan berperan menjadi pilot tempur untuk pasukan Sekutu. Siapa sangka bahwa Halim Perdanakusuma ternyata bukan orang sembarangan? Tidak pernah terbayang kalau Indonesia punya pilot militer dengan pengalaman tempur kelas dunia, jauh sebelum Indonesia memiliki Angkatan Udaranya sendiri.

Dari Sampang ke Langit Eropa

Abdul Halim Perdanakusuma lahir pada 18 November 1922 di Sampang, Madura. Sebuah wilayah yang jauh dari imaji industri militer modern. Tak ada tradisi penerbangan, tak ada akademi udara, tak ada mimpi besar tentang langit. Namun sejarah sering kali memilih jalannya sendiri secara tak terduga. Coba bayangkan ketika perang terbesar sepanjang sejarah manusia meletus, seorang pemuda dari Sampang justru menjadikannya sebagai “Kawah Candradimuka” untuk menggembleng dirinya. Halim tidak belajar terbang dari game simulator penerbangan atau ruang kelas yang nyaman. Ia belajar dari udara Eropa yang terbakar, dari misi-misi pengeboman ke jantung pertahanan Nazi, dari setiap kali ia lepas landas dengan kemungkinan tak kembali.

Ia bergabung dengan Angkatan Udara Kanada (Royal Canadian Air Force), lalu Royal Air Force (RAF)—Angkatan Udara Inggris. Tentu bukan sebagai figuran dari sebuah negeri kolonial, melainkan sebagai pilot tempur yang diakui kemampuannya. Misi-misinya ngeri: Halim menjalankan 44 misi pengeboman udara di Eropa, menyasar instalasi militer dan basis pertahanan Nazi Jerman. Ini bukan angka kecil. Setiap misi berarti kemungkinan tidak kembali. Setiap penerbangan adalah perjudian antara keterampilan, keberanian, dan nasib. Di RAF, Halim mencapai pangkat Wing Commander, sebuah posisi yang tak mungkin diraih tanpa kompetensi, keberanian, kepemimpinan, dan jam terbang yang tinggi.

Ketika Republik Memanggil

Pada titik ini, hidup bisa saja berbelok nyaman: pensiun terhormat, gaji tinggi, status mapan di Eropa. Namun semuanya berubah ketika ia mendengar kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bayangkan berada di titik tertinggi karier, diakui di lingkungan militer paling disegani dunia, masa depan cerah menanti di Eropa yang mulai pulih dari perang. Lalu memilih pulang ke Indonesia yang baru merdeka yang masih kacau, miskin, dan belum punya apa-apa. Itulah yang dilakukan Halim. Ini bukan keputusan emosional semata. Ini pilihan moral yang membutuhkan keberanian lebih besar daripada terbang di tengah tembakan flak Jerman.

Ketika ia tiba di Indonesia pada awal 1947, ia langsung menemui Suryadi Suryadarma, Kepala Staf TNI Angkatan Udara pertama. Ia berkata: “Saya siap mati untuk mempertahankan kemerdekaan ini.” Bukan sekadar kata-kata. Ia membuktikannya dengan tindakan. Halim direkrut dan diangkat sebagai Komodor Udara (setara Marsekal Pertama) di TNI Angkatan Udara. Sesuai dengan keahlian dan pengalaman tempurnya, Halim dipercaya sebagai Perwira Operasi Udara.

Gugur di Langit, di Ujung Misi yang Sunyi

Selama di Sumatera, Halim berhasil menjalin kerjasama dengan tentara dan masyarakat. Bersama rakyat, mereka membangun lapangan udara darurat dan yang lebih menakjubkan. Berhasil menghimpun emas dari rakyat untuk membeli pesawat. Bukan dari APBN, bukan dari pinjaman luar negeri. Dari emas sumbangan rakyat. Salah satu hasilnya adalah sebuah pesawat Avro Anson dengan registrasi VH-PBY, dibeli seharga 12 kg emas murni, dan kemudian diberi nomor registrasi RI-003.

Bulan Desember 1947. Langit Thailand baru saja ditinggalkan. Halim dan Iswahjudi mengudara sekali lagi, membawa Avro Anson RI-003 pesawat yang lahir dari dua belas kilogram emas, keringat rakyat Sumatera, dan doa yang tak sempat diucapkan. Di dalamnya, senjata-senjata berdesakan: karabin, bren gun, pistol, granat. Bukan besi mati, tapi harapan yang diasah jadi peluru. Misi mereka kali ini rumit, banyak hal yang harus dikerjakan. Mulai dari mengantar pulang Keegan, warga Australia yang menjual pesawat itu. Menjajaki pembelian senjata baru. Mengintip perwakilan RI di negeri orang, tempat barang-barang dari tanah air ditukar dengan nyawa.

Selesai di Bangkok, RI-003 membelok ke Singapura. Tapi langit Malaya (kini Malaysia) menyimpan takdir lain. Di atas Perak, awan menggulung seperti tirai besi. Kabut tebal merayap, membungkus sayap, membutakan mata-mata navigasi. Badai datang tanpa diundang, mengguncang badan pesawat seperti tangan raksasa yang tak kenal ampun. Bahkan Halim yang 44 kali selamat dari neraka pengeboman Eropa, hanya bisa merasakan kendali lepas dari genggamannya. Pesawat oleng. Daratan mendekat. Lalu hening.

Nama yang Diabadikan, Ingatan yang Perlahan Sirna

Nama Halim Perdanakusuma diabadikan menggantikan nama Pangkalan Udara Cililitan melalui Surat Penetapan KASAU nomor Kep/76/48/Pen.2/KS/1952 tanggal 17 Agustus 1952. TNI AU juga menganugerahkan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Laksamana Muda Udara Anumerta, yang kemudian diselaraskan menjadi Marsekal Muda TNI AU Anumerta. Pada 15 Februari 1961, pemerintah menganugerahkan Bintang Maha Putera Tingkat IV. Dan melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 063/TK/1975 tanggal 9 Agustus 1975, Abdul Halim Perdanakusuma ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Kerangka jenazahnya yang bersemayam di Malaysia kemudian dipulangkan dan dimakamkan kembali dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 1975. Hari ini, Halim Perdanakusuma hidup sebagai nama bandara. Ia disebut tanpa jeda, tanpa cerita, tanpa kesadaran. Ribuan orang melintas di terminal yang memakai namanya, naik turun pesawat, sibuk dengan urusan masing-masing, tanpa pernah bertanya: siapa gerangan yang namanya kami pakai setiap hari ini?

Padahal, di balik nama itu ada sejarah panjang. Ada 44 misi pengeboman di langit Eropa. Ada julukan “Black Mascot” yang melegenda. Ada kepulangan yang tak mudah di saat dunia lain menawarkan kenyamanan. Ada serangan balasan atas Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Ada misi-misi rahasia menembus blockade. Ada 12 kilogram emas dari rakyat Sumatera yang dikumpulkan untuk membeli pesawat. Ada pesan kepada istri yang sedang hamil empat bulan, tentang nama yang harus diberikan jika anak itu lahir laki-laki. Ada jasad yang hilang dan senjata yang tak pernah ditemukan. Ada pengorbanan yang tak pernah ia hitung sebagai utang piutang.

Halim bukan sekadar pahlawan masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa keahlian kelas dunia bisa diabdikan sepenuhnya untuk republik yang baru lahir. Bahwa nasionalisme sejati bukan soal slogan di atas kertas, bukan soal cuitan di media sosial, bukan soal atribut yang dipakai setahun sekali. Nasionalisme sejati adalah soal pulang. Pulang ketika dunia lain menawarkan kenyamanan. Pulang ketika Eropa membuka pintu lebar-lebar. Pulang ke Indonesia yang masih berdarah-darah, masih miskin, masih terancam, tapi tetap ia pilih sebagai tempat untuk hidup dan mati.

Mungkin sudah waktunya, setiap kali kita menyebut “Halim”, kita berhenti sejenak. Bukan untuk menunggu boarding. Bukan untuk scroll TikTok. Bukan untuk melihat jadwal kedatangan. Tetapi untuk mengingat, bahwa di langit yang sama dengan pesawat-pesawat yang kini lepas landas dengan aman, seorang anak Sampang pernah mempertaruhkan segalanya. Bahwa di langit itulah, Indonesia pernah dipertahankan. Dan di langit yang sama, ia memilih pulang, meski tahu itu bisa jadi terbang terakhirnya.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *