Budaya  

Masjid Hj Siti Saerah, Jejak Perjuangan Komunitas Muslim Toraja di Makassar

Sejarah dan Perjuangan Komunitas Toraja Muslim di Makassar

Masjid Hajjah Siti Saerah yang terletak di Jl Dg Sirua No 348 Kecamatan Manggala, Makassar, merupakan salah satu tempat ibadah yang memiliki nilai sejarah penting. Masjid ini didirikan oleh Kerukunan Keluarga Islam Toraja pada tahun 1999 silam. Meskipun secara fisik tampak biasa saja, masjid ini menyimpan perjalanan panjang perjuangan komunitas Toraja Muslim dalam mempertahankan eksistensi mereka di Kota Makassar.

Komunitas Toraja Muslim pertama kali berkembang pada tahun 1958 di Rantepao, Ibukota Kabupaten Toraja Utara. Namun, situasi politik dan sosial pada masa itu menimbulkan gejolak. Beberapa kelompok seperti DI-TII dan tentara kota melakukan pemberontakan di wilayah tersebut. Akibatnya, komunitas Toraja Muslim, yang termasuk minoritas, merasa terancam keamanannya. Mereka akhirnya memutuskan untuk bermigrasi ke berbagai kabupaten tetangga, seperti Luwu dan Enrekang.

Banyak anggota komunitas Toraja Muslim yang terpelajar, pegawai, dan pekerja berbondong-bondong ke Kota Makassar. Pada tahun 1963, mereka menginisiasi pembentukan Kerukunan Keluarga Islam Toraja (KKIT). Seiring berjalannya waktu, komunitas ini mendapatkan lahan dan bersepakat untuk mendirikan pilar Toraja-Muslim. Selain itu, mereka juga mengelola sekitar 400 Taman Pendidikan Agama (TPA) dengan bantuan guru-guru dari kalangan Toraja-Muslim.

Pada tahun 1999, beberapa tokoh atau sesepuh Toraja Muslim, seperti KH Muhammad Ahmad, KH Muhammad Na’im, dan KH Nasaruddin Razak, berinisiatif untuk mendirikan masjid. Inisiatif ini kemudian disambut baik setelah dilakukan pertemuan dan pembicaraan dengan Prof Beddu Amang, mantan Kepala Bulog era Suharto. Saat itu, Prof Beddu Amang sedang berdomisili di Makassar karena melanjutkan pendidikan di Universitas Hasanuddin (Unhas).

Awalnya, masjid tersebut diberi nama Al-Jihad, yang mencerminkan latar belakang perjuangan komunitas Toraja-Muslim. Namun, nama tersebut kemudian berganti menjadi Hajjah Siti Saerah, yang merupakan nama ibu dari Prof Beddu Amang. Perubahan nama ini dilakukan atas dasar wasiat orangtua Prof Beddu Amang sebelum meninggal. Keputusan ini disambut baik oleh komunitas karena kontribusi besar yang diberikan oleh Prof Beddu Amang.

Masjid Hajjah Siti Saerah diresmikan pada Agustus 2001 oleh Prof Beddu Amang dan dihadiri oleh Wali Kota Makassar saat itu, Amiruddin Malua. Arsitektur masjid ini menggabungkan bentuk Kraton dan khas Kairo Kuno. Interior masjid cukup megah, dengan penggunaan marmer impor, batu alam dari Surabaya, serta pintu dari Kayu Jati Sulawesi Tenggara.

Kini, Masjid Hajjah Siti Saerah menjadi tempat ibadah yang terbuka bagi masyarakat muslim secara umum. Bukan hanya warga Toraja-Muslim, tetapi juga jamaah umum lebih banyak mengunjungi masjid ini. Meskipun demikian, nilai-nilai tradisi tetap dilestarikan, seperti pengajian setiap hari Kamis dan Jumat malam yang diisi oleh para sesepuh Toraja-Muslim yang tinggal di Makassar.

Di bulan Ramadan, sebanyak 50 persen Muballiq atau penceramah Tarwih adalah Ustad keturunan Toraja-Muslim. Untuk masa depan, komunitas akan memanfaatkan lahan kosong seluas sekitar 1200 meter persegi untuk dibangun gedung pertemuan, workshop, dan lainnya, guna meningkatkan kegiatan yang diperuntukkan bagi komunitas.




Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *