Persiapan Tawur Agung Kesanga di Denpasar Mulai Dilakukan
Pada hari Kamis (12/3), persiapan Tawur Agung Kesanga di kawasan Catur Muka Denpasar sudah mulai terlihat. Tenda atau tetaring serta palinggih untuk pelaksanaan tawur telah dimulai dipasang. Sebelumnya, prosesi nyukat genah telah dilakukan pada Selasa lalu. Prosesi ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan yang lebih luas dalam rangka pelaksanaan acara utama.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Denpasar, IB Alit Surya Antara, menjelaskan bahwa sebelum prosesi nyukat genah, juga dilakukan prosesi negtegang beras di Pura Agung Jagatnatha Denpasar. Prosesi tersebut dipuput oleh sulinggih Ida Pedanda Istri Rai Pemecutan (Griya Pemedilan). Kegiatan ini dilanjutkan dengan sembahyang bersama oleh umat Hindu yang hadir.
Menurut Alit Surya Antara, prosesi nyukat genah bertujuan untuk menata dan menentukan posisi sarana upacara sebelum pelaksanaan puncak Tawur Agung Kesanga. Dalam persiapan tersebut juga melibatkan berbagai unsur, seperti pemangku pura, sulinggih, hingga perangkat daerah di lingkungan Pemkot Denpasar yang turut mendukung penyediaan sarana upacara.
“Secara keseluruhan, rangkaian persiapan Tawur Agung Kesanga di Denpasar telah dimulai sejak beberapa waktu lalu, di antaranya melalui prosesi matur piuning, mepinunas karya, hingga pengambilan tirta ke sejumlah pura di Bali,” ungkapnya, Kamis (12/3).
Puncak pelaksanaan Tawur Agung Kesanga Tahun Caka 1948 dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 18 Maret 2026 di kawasan Catur Muka Denpasar. Pelaksanaan ini akan dipuput oleh enam sulinggih, yaitu:
- Ida Pedanda Putra Telaga (Grya Telaga, Gulingan, Sanur) (Siwa)
- Ida Pedanda Gede Mas Jelantik (Griya Celuk, Sukawati, Gianyar) (Budha)
- Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti (Griya Bhuana Dharma Santi, Jalan Raya Sesetan) (Bhujangga)
- Ida Jero Dukuh Udhalaka Dharma (Griya Dukuh, Banjat Tektek) (Dukuh)
- Sira Empu Dharma Sunu (Griya Taman Pande Tonja, Jalan Ratna) (Pande)
- Ida Pandita Mpu Dhaksa Siwa Putra Santhi Yoga (Griya Agung Pasek Sari Tegal, Jalan Gunung Karang) (Pasek)
Lomba Ogoh-Ogoh di Desa Adat Yangbatu
Sementara itu, Desa Adat Yangbatu, Kota Denpasar menggelar lomba ogoh-ogoh bertajuk Ngerupuk di Yangbatu serangkaian Nyepi Caka 1948 Tahun 2025. Kegiatan ini mengedepankan esensi pelaksanaan rangkaian Hari Suci Nyepi, khususnya Malam Pangrupukan serta meningkatkan nilai kebersamaan serta harmoni di masyarakat.
Bendesa Adat Yangbatu, I Nyoman Supatra, menekankan bahwa kegiatan Ngerupuk di Yangbatu ini mengedepankan esensi pelaksanaan Malam Pangrupukan. “Dalam warisan tetua di Yangbatu, dilaksanakan upacara nyomya bhuta kala dengan mesimbuh kesuna, jangu dan mesui, menyalakan api-apian, dan membuat keramaian lewat suara bising, termasuk ogoh-ogoh itu sendiri,” ujarnya, Kamis (12/3).
Dikatakan, kegiatan ini tidak hanya sekadar lomba ogoh-ogoh, tetapi juga merupakan upaya untuk mengembalikan nilai-nilai tradisional dan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur. “Kami ingin mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih memahami dan menghargai warisan budaya kita, jadi fokusnya pada tattwa dan harmoni alam semesta,” tambah Supatra.
Ketua Panitia Kegiatan, I Wayan Agus Yuliawan, mengatakan bahwa kegiatan ini terinspirasi dari bagaimana pelaksanaan Malam Pangrupukan di Desa Adat Yangbatu zaman dahulu. “Kami ingin menghidupkan kembali semangat kebersamaan dan gotong royong di masyarakat,” ujarnya.
Dikatakan, lomba ogoh-ogoh ini diikuti 5 karya dari kategori STT dan 10 karya dari kategori anak-anak. Selain itu, ada juga karya on the spot dari anak-anak PAUD yang akan dipamerkan di hari H. Kegiatan Ngerupuk di Yangbatu ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi, serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan harmoni di masyarakat.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan budaya dan tradisi lokal. Kegiatan Ngerupuk di Yangbatu ini akan dimeriahkan dengan berbagai acara, termasuk pameran ogoh-ogoh, pertunjukan seni, dan lain-lain. “Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Bali untuk melestarikan budaya dan tradisi kita,” kata Agus Yuliawan.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”












