Arti Sebenarnya dari Kalimat “Minal Aidin wal Faizin” dalam Perayaan Idul Fitri
Kalimat “Minal Aidin wal Faizin” sering diucapkan saat perayaan Hari Raya Idul Fitri. Ucapan ini biasanya disampaikan kepada keluarga, saudara, teman, atau rekan kerja sebagai bentuk salam dan doa. Namun, banyak orang yang salah memahami artinya sebagai permohonan maaf lahir dan batin. Padahal, makna sebenarnya dari kalimat tersebut jauh lebih dalam dan berakar pada tradisi keagamaan.
Pengertian dan Makna “Minal Aidin wal Faizin”
Secara harfiah, “Minal Aidin wal Faizin” dapat dibaca sebagai “Minnal ‘Aaidiin wal Faaiziin” dalam bahasa Arab. Kata “Aidin” merujuk pada orang-orang yang kembali ke fitrah, yaitu kondisi suci dan bersih setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Sementara itu, “Faizin” mengacu pada orang-orang yang beruntung karena dosa-dosanya diampuni dan amal kebaikannya diterima oleh Allah SWT.
Menurut penjelasan dari Guru Besar Peradaban Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, Syamsul Bakri, ucapan ini bukanlah permohonan maaf, melainkan sebuah doa. Doa lengkapnya adalah “Ja‘alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin,” yang berarti “Semoga Allah SWT menjadikan kami dan Anda sebagai orang-orang yang kembali (fitrah) dan beruntung.”
Selain itu, ucapan ini sering dikombinasikan dengan “Taqabbalallahu minna wa minkum,” yang berarti “Semoga Allah menerima amal ibadah dari kami dan dari kalian.” Kedua frasa ini sering digabungkan menjadi “Taqabbalallahu minna wa minkum minal aidin wal faizin,” yang memiliki makna: “Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kalian, dan semoga Allah SWT menjadikan kami dan Anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung.”
Penjelasan dari Tokoh Ulama
Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis, juga menjelaskan bahwa “Minal Aidin wal Faizin” merupakan bagian dari tradisi perayaan Idul Fitri di Indonesia. Ia menekankan bahwa makna “Minal Aidin” adalah orang-orang yang kembali kepada fitrah, sementara “Wal Faizin” merujuk pada orang-orang yang beruntung karena dosa-dosanya diampuni.
Cholil menambahkan bahwa ucapan ini mengandung harapan agar setiap Muslim tetap dalam keadaan baik setelah menjalani puasa. “Mudah-mudahan amal kita Ramadhan ini menjadi latihan, yang nantinya setelah Ramadhan bisa menjadi lebih baik,” ujarnya.
Cara Merespons Ucapan “Minal Aidin wal Faizin”
Menurut Ibnu Burdah, Guru Besar Kajian Timur Tengah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ucapan “Minal Aidin wal Faizin” bisa dibalas dengan kata “aamiin.” Hal ini karena ucapan tersebut merupakan doa. Kata “aamiin” berarti “semoga terkabul” dan cocok digunakan sebagai respons atas doa.
Sementara itu, Eva Farhah, Kepala Program Studi Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS), menyarankan respons lain seperti “Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya Karim,” yang berarti “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kamu, wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah.”
Penggunaan dalam Tradisi
Ucapan “Minal Aidin wal Faizin” tidak hanya diucapkan secara lisan, tetapi juga sering ditulis dalam berbagai media seperti kartu ucapan, twibbon, poster, atau pesan singkat di media sosial. Penggunaannya telah menjadi bagian dari tradisi yang melekat dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia.
Meskipun maknanya tidak sama dengan “mohon maaf lahir dan batin,” ucapan ini sering disalahpahami oleh masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk memahami arti sebenarnya agar penggunaannya lebih tepat dan bermakna.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












