Budaya  

Semangat Lailatul Qadar: Berlomba Berbuat Baik


Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. Malam di mana keputusan perjalanan manusia selama setahun ke depan ditentukan. Keistimewaan malam ini begitu besar hingga malaikat turun berbondong-bondong ke bumi untuk mengiringi hadirnya malam kemuliaan bagi manusia dan seluruh makhluk di muka bumi. Akibatnya, alam dunia terasa sempit karena jumlah malaikat yang turun sangat banyak. Malam tersebut menjadi momen penghargaan bagi para individu yang memiliki sifat taqwa, sebagai hasil dari puasa yang telah mencapai tingkat kesempurnaan. Ibadah yang dilakukan dalam satu malam ini setara dengan pahala selama 1000 bulan.

Oleh karena itu, ganjaran pahala sebesar 1000 bulan atau setara dengan 83 tahun hanya akan diberikan kepada individu yang memenuhi kriteria sebagai mutaqqin. Seperti halnya penghargaan atau hadiah yang biasanya diberikan kepada orang-orang yang berprestasi, maka pahala yang luar biasa ini hanya akan diterima oleh mereka yang berhasil melalui latihan ibadah puasa dengan baik.

Nabi Muhammad SAW memberikan contoh akselerasi ibadah dengan mengencangkan ikat pinggang ketika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadan. Tindakan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah menjelang akhir periode latihan di bulan Ramadan. Sebagaimana atlet yang melakukan latihan intensif sebelum bertanding, Nabi juga ingin memperkuat persiapan spiritualnya agar bisa meraih kemenangan dalam ibadah.

Spirit utama Lailatul Qadar adalah fastabiqul khaira, yaitu berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Hal ini sejalan dengan kisah yang melatarbelakangi turunnya surat Al-Qadr. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menceritakan kisah Nabi Syam’un Al Ghazi (dalam bahasa Ibrani disebut Samson), seorang nabi yang dianugerahi kekuatan fisik luar biasa. Bahkan, ia mampu menghancurkan pilar-pilar istana Romawi dan memiliki kemampuan meluluhkan besi.

Kekuatan fisik Nabi Syam’un membuat raja Romawi kagum dan bingung. Untuk mengalahkannya, raja Romawi menggunakan tipu muslihat dengan membujuk istri Nabi Syam’un untuk mengungkap kelemahannya. Akhirnya, Nabi Syam’un ditangkap dan disiksa hingga buta. Setelah itu, ia berdoa agar kekuatannya kembali. Ketika kekuatannya pulih, ia bernazar untuk berjuang melawan raja zalim selama 1000 bulan tanpa henti. Doa ini dikabulkan, dan dimulailah perjuangan jihad selama 1000 bulan.

Para sahabat Nabi merasa cemburu dengan keberhasilan Nabi Syam’un. Mereka ingin beribadah seperti beliau, namun pesimisme muncul karena kesulitan menjalani ibadah selama 1000 bulan. Perasaan ini menjadi salah satu penyebab turunnya QS Al-Qadr, yang memberikan harapan bahwa ibadah pada malam kemuliaan dapat melampaui kebaikan yang dilakukan Nabi Syam’un.

Ibadah pada malam kemuliaan mendapatkan ganjaran 1000 bulan, bahkan lebih baik lagi. Oleh karena itu, spirit utama Lailatul Qadar adalah berlomba-lomba dalam kebaikan. Seorang muslim yang sedang menjalani puasa Ramadan harus meningkatkan intensitas ibadahnya, terutama di 10 hari terakhir, agar bisa meraih peluang mendapatkan pahala 1000 bulan.

Ramadan sebagai metamorfosa kehidupan

Lahirnya pribadi muttaqin adalah tujuan akhir dari puasa Ramadan. Madrasah Ramadan sejatinya menjadi fase transformasi dari orang beriman menjadi pribadi muttaqin. Latihan puasa selama satu bulan memungkinkan terlahirnya pribadi muttaqin. Berbagai latihan fisik seperti manajemen makan dan minum, serta konsumsi makanan sehat dan bergizi (halalan thoyiban) menjadi bagian dari kurikulum madrasah Ramadan.

Proses autofagi yang ditemukan oleh Yosinori Ohsumi, pemenang Nobel Kedokteran 2016, hanya bisa bekerja ketika tubuh kita melakukan puasa. Proses ini memungkinkan regenerasi dan pembersihan kotoran di tingkat sel. Selain aktivitas fisik, yang lebih utama adalah aktivitas jiwa. Nutrisi jiwa diberikan untuk menumbuhkan pribadi muttaqin. Latihan berderma, tadarus Al-Quran, berpikir positif, dan menjadi pribadi yang pemaaf adalah serangkaian modul latihan jiwa.

Selama 10 hari terakhir, kita diminta untuk “mengencangkan ikat pinggang” dengan berdiam diri di masjid (itiqaf) untuk menghentikan berbagai aktivitas duniawi. Selain muhasabah diri, Rasulullah mengajarkan doa penting seperti: “Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah kami).

Ada baiknya kita melihat proses metamorfosa dalam siklus hidup kupu-kupu. Betapa luar biasanya Allah SWT memberikan contoh proses kelahiran kembali dari makhluk yang bernama ulat menjadi kupu-kupu. Periode yang paling menakjubkan adalah saat ulat bertransformasi menjadi kupu-kupu. Proses ini mengandung pelajaran penting sebagai bekal kehidupan kita. Karena sejatinya alam raya beserta makhluk yang ada di dalamnya adalah ayat-ayat kauniyah. Mengkaji semua makhluk hidup termasuk bentuk kajian rohani bagi kita semua.

Dari hewan berwujud ulat yang tidak semua orang menyukainya. Bahkan, tidak jarang ada orang yang menganggapnya sebagai hama yang menjijikkan. Ulat banyak merusak tanaman. Karena memakan daun dan batang muda selama proses kehidupannya. Kejadian menakjubkan terjadi ketika ulat memasuki proses transformasi menjadi kupu-kupu.

Periode di dalam kepompong adalah keajaiban kehidupan bagi seekor ulat. Melalui proses histolisis, terjadi pembentukan kepompong dan penghancuran kulit dan jaringan tubuh ulat. Dengan bantuan enzim ekdison, terjadi moulting dan pembentukan organ baru dari sel imaginal. Sel ini sebagai blueprint terbentuknya aneka organ kupu-kupu yang sudah ada sejak periode telur dan ulat.

Pada periode kepompong, ulat berubah secara perlahan sesuai azali-nya untuk menjadi seekor kupu-kupu. Perubahan radikal dari makhluk melata menjadi kupu-kupu yang terbang indah dengan warna dan bentuk tubuh yang mempesona. Perubahan dari makhluk hama menjadi makhluk indah yang berperan penting dalam siklus kehidupan alam raya.

Seperti diketahui, kupu-kupu memiliki peran penting dalam ekosistem sebagai agen polinasi (penyerbukan) yang membantu reproduksi berbagai tanaman. Selain itu, dalam rantai makanan, kupu-kupu sebagai mangsa bagi burung dan kelelawar. Dan fungsi lainnya, seperti dalam hal tertentu mereka berfungsi sebagai indikator hayati kesehatan lingkungan yang sensitif.

Terilhami dari Kupu-Kupu

Itulah kesejatian transformasi kehidupan bagi pribadi seorang muslim. Lahirnya generasi muttaqin sebagai output dari madrasah Ramadan sama dan sebangun dengan periode kepompong pada fase kehidupan kupu-kupu. Bulan Ramadan adalah kepompong. Seorang muslim diminta fokus selama bulan Ramadan untuk mentransformasi diri. Sel imaginal sebagai raw material untuk perubahan bentuk dari ulat menjadi kupu-kupu telah disemai Allah SWT di dalam setiap jiwa manusia.

QS As-Syam ayat 8 menyebutkan, “Allah mengilhamkan kepada jiwa kebaikan dan keburukan”. Sehingga selama bulan Ramadan kita harus banyak menginstal program-program kebaikan kepada jiwa kita. Latihan aneka bentuk perbuatan baik, menahan segala bentuk perbuatan buruk, dan menghancurkan aneka racun yang tersimpan di tingkat selular akibat proses autofagi adalah bagian dari bentuk latihan puasa. Latihan dan kegiatan tersebut sebagai bentuk aktivitas hormon ekdison pada periode kepompong untuk melahirkan makhluk baru bernama kupu-kupu.

Pasca kepompong Ramadan, diharapkan manusia yang mengikuti pesantren Ramadan akan berubah menjadi pribadi muttaqin. Pribadi muttaqin diibaratkan sebagai makhluk baru yang indah bernama kupu-kupu. Pribadi muttaqin telah meninggalkan kebiasaan merusak. Seperti ulat yang menjadi hama tanaman karena banyak merusak daun dan tangkai. Pribadi muttaqin telah mengubah perilakunya dari menjijikkan seperti ulat menjadi makhluk baru yang indah dan banyak memberikan manfaat bagi ekosistem kehidupannya.

Itulah hakikat utama dari Lailatul Qadar. Terjadinya proses transformasi jiwa. Muslim yang bertaqwa yang selalu menebar kebaikan dan hidup sangat produktif. Setiap jejak yang dilaluinya pasti menumbuhkan banyak kebermanfaatan. Kehadirannya ditunggu banyak orang untuk berperan sebagai agen perubahan. Setiap napasnya adalah zikir. Namanya akan selalu abdi dan dikenang sebagai sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi berikutnya.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *