Peneliti Digital Forensik Mengakui Kesalahan dalam Penelitian Ijazah Jokowi
Ahli digital forensik Rismon Sianipar secara mengejutkan mengaku bahwa ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, adalah asli. Setelah melakukan uji ulang selama dua bulan, ia menyatakan bahwa temuannya sebelumnya tidak akurat dan meminta maaf langsung kepada keluarga Jokowi di Solo.
Dalam pengakuannya, Rismon mengakui kesalahan yang terjadi dalam penelitiannya terkait ijazah Jokowi. Salah satu kesalahan tersebut berkaitan dengan emboss pada ijazah tersebut. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya merasa tersakiti karena harus jujur menyatakan bahwa temuannya sebelumnya salah.
“Saya juga merasa tersakiti terhadap temuan saya sendiri, karena saya harus jujur menyatakan temuan saya itu,” kata Rismon. Ia juga menyadari bahwa hasil penelitiannya yang salah akan membuatnya menjadi sasaran kritik dan hinaan dari masyarakat.
Reaksi Roy Suryo terhadap pengakuan Rismon Sianipar juga menarik perhatian. Sebagai pakar telematika, Roy Suryo mengungkapkan bahwa ia tetap mempertahankan pendiriannya bahwa ijazah Jokowi palsu. Ia juga menyatakan bahwa pengakuan Rismon tidak perlu dikaitkan dengan dirinya atau Dokter Tifa.
“Statement RHS (Rismon Hasiholan Sianipar) selama 11 menit 3 detik yang menyatakan bahwa dirinya menyatakan ada ‘kekeliruan dan bisa berbeda’ dalam penelitiannya, bahkan yang sudah dituliskannya dalam bagian buku JWP (Jokowi’s White Paper) adalah memang hanya statement pribadi Saudara RHS sendiri dan tidak perlu disangkut pautkan dengan kami selaku sesama penulis JWP,” ujar Roy Suryo.
Ia juga tidak ingin dikaitkan dengan permintaan maaf Rismon kepada Jokowi terkait kekeliruan dalam penelitian soal ijazah milik mantan Wali Kota Solo tersebut. Kendati demikian, Roy Suryo tetap menghormati sikap Rismon meski kini telah tidak sejalan.
“Jadi jika kemudian ada statement selanjutnya di dalamnya yang mana RHS menyatakan ‘minta maaf’ ke Jokowi, maka itu juga merupakan statement pribadi dan bukan tanggung jawab kami, meski secara personal saya tetap menghormati hak pribadi saudara RHS sendiri,” katanya.
Kesalahan dalam Penelitian dan Pembenaran
Rismon Sianipar sebelumnya bersama dengan Roy Suryo dan Dokter Tifa sepakat mengatakan bahwa ijazah Jokowi palsu. Namun kini, Rismon dengan tegas mengatakan bahwa ijazah Jokowi asli dan meminta maaf pada presiden ke-7 RI tersebut.
Mulanya, dia menyebut bahwa hasil penelitiannya yang tertuang pada buku Jokowi’s White Paper bersama dengan pakar telematika, Roy Suryo, dan pegiat media sosial, Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa, ada kesalahan. Namun, Rismon menegaskan hanya hasil penelitiannya saja yang mengandung kesalahan.
Dia mengungkapkan penelitian yang dilakukannya tidak bergantung dengan hasil riset yang dilakukan oleh Roy maupun Dokter Tifa. “Oleh karena independensi tersebut, maka saya sebagai peneliti secara terbuka mengatakan ada koreksi-koreksi akibat data yang lengkap, akibat rotasi, atau translasi, atau resolusi pada data yang saya uji,” katanya.
“Bahwa memang apa yang saya analisa dan miss di situ yaitu terkait watermark dan terutama embos, itu memang ada di dalam dokumen tersebut.” Rismon menjelaskan bahwa kesalahan penelitiannya yakni terkait watermark dan embos pada ijazah Jokowi. Dia menegaskan, berdasarkan penelitian ulang yang dilakukannya, dua komponen tersebut terbukti ada pada ijazah eks Gubernur DKI Jakarta itu.
“[Temuan barunya] membuktikan bahwa permasalahan authenticity atau keaslian dokumen (ijazah Jokowi) itu secara digital forensik menjadi tidak terbukti dan menyanggah temuan saya di buku Jokowi’s White Paper meskipun menggunakan puluhan metodologi-metodologi yang sama,” jelasnya.
Kepedulian Ilmiah Tanpa Motif Politik
Melalui hasil temuan barunya itu, Rismon pun menyatakan bahwa ijazah Jokowi asli. Ia mengungkapkan kesalahan dalam penelitian yang dilakukannya menjadi wujud bahwa dunia akademik yakni selalu ada pembaharuan atau ongoing, progresif, dan bisa ‘melukai’ periset.
Di sisi lain, dia mengatakan temuan barunya itu kini telah disampaikan kepada penyidik Polda Metro Jaya pada Rabu (11/3/2026). Pada akhir pernyataannya, Rismon menegaskan penelitian terkait ijazah Jokowi yang dilakukannya selama ini tidak mengandung motif politis.
“Apa yang saya lakukan murni ilmiah tanpa motivasi politik, tanpa motivasi apapun. Murni hanya karena rasa ingin tahu saya sebagai peneliti di bidang digital image processing pada awal tahun 2025,” katanya.












