Sejarah dan Perkembangan Masjid serta Pondok Pesantren Al-Marshuf
Masjid dan pondok pesantren yang terletak di Desa Bendosari, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan Kiai Haji Raden Asmara Shufhi. Tokoh ulama ini dikenal sebagai salah satu penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Jejaknya masih terasa hingga saat ini, baik melalui bangunan masjid maupun aktivitas pengajian yang berlangsung rutin.
Lokasi masjid dan pesantren ini disebut-sebut sebagai yang tertua di Wonosobo. Awal mula berdirinya bermula dari perjalanan Kiai Asmara Shufhi yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya V dari garis ke-9. Ia awalnya tinggal di daerah Wonosobo yang saat itu termasuk wilayah Katumenggungan Kalilusi, yang dipimpin oleh Tumenggung Wiroduto. Setelah menikahi putri Tumenggung Wiroduto, RA Roro Kuning, ia memilih untuk tinggal di lingkungan keraton sebagai jaksa.
Pada masa Perang Diponegoro, situasi politik Jawa Tengah sedang bergejolak. Saat Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda di Magelang, Kiai Asmara Shufhi mencoba menghindar dan melarikan diri ke tempat mertuanya di Kadipaten Kalilusi. Di sana, ia diberi kebebasan untuk menetap di mana saja. Ia memilih daerah yang diapit dua aliran sungai dan memiliki pohon Bendo besar. Lokasi ini kemudian dinamakan Bendosari, dan menjadi cikal bakal masjid serta pondok pesantren.
Awal Mula Masjid dari Gubuk di Bawah Pohon Bendo
Awalnya, aktivitas keagamaan belum dilakukan di bangunan permanen. Hanya ada gubuk sederhana di bawah pohon Bendo yang besar. Gubuk ini digunakan sebagai tempat berteduh dan melakukan kegiatan keagamaan sederhana. Kiai Asmara Shufhi yang telah sepuh dikenal gemar mengajar ngaji, sehingga para santri dari berbagai wilayah di Wonosobo datang untuk menimba ilmu.
Masjid permanen sendiri baru dibangun oleh putra Kiai Asmara Shufhi. Pendirian masjid tersebut disebut untuk mengenang kisah-kisah Ashabul Kahfi sebagai simbol perjuangan beliau. Bangunan awalnya sangat sederhana, dengan dinding dari papan, pagar bambu (gedeg), dan atap berbahan ijuk. Dalam perkembangannya, atap ijuk diganti dengan seng. Payon seng lungsuran (atap seng pemberian bekas) dari masjid di Semarang.
Masjid itu diperkirakan mulai berdiri sekitar tahun 1875. Pada masa awal, fungsinya bukan hanya untuk salat, tetapi juga menjadi pusat pengajaran agama. Sejak awal, masjid dan pondok berdiri berdampingan. Pondok digunakan untuk tempat tidur santri, sementara masjid menjadi pusat salat dan pengajian.
Perkembangan dan Tradisi Pengajian
Nur Shodiq, pengasuh Pondok Pesantren Al-Marshuf dan keturunan Kiai Asmara Shufhi, lahir pada tahun 1941. Ia mengaku sejak lahir, masjid sudah ada. Ia masih ingat suasana Jumat pada masa kecilnya. “Dulu yang Jumatan di sini dari wilayah Kepil, Kalikajar. Jam 9 sudah pada datang,” kenangnya.
Saat itu, ia berusia sekitar empat tahun. Saat ini Nur Shodiq berusia 84 tahun dan masih sehat. Pada sekitar tahun 1956, jumlah santri pernah mencapai sekitar 70 orang pada masa ayahnya mengelola pondok. Hingga kini jumlah santri sekitar 20 orang.
Tradisi pengajian berjalan aktif, menjadikan tempat tersebut sebagai pusat pendidikan agama bagi masyarakat sekitar. Sekitar tahun 1963 berdiri madrasah diniyah. Sepulang dari mondok di Yogyakarta pada 1962, Nur Shodiq mulai membantu mengelola pondok.












