Budaya  

Jejak Kejayaan Sultan HB X: Refleksi dan Penguatan Identitas Budaya Yogyakarta

Momentum Refleksi Kepemimpinan dan Identitas Budaya Jawa

Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan HB X ke-37 menjadi momen penting yang tidak hanya sekadar seremoni, tetapi juga sebagai refleksi kepemimpinan sekaligus penegasan identitas budaya Jawa. Kraton Yogyakarta berperan sebagai penghubung antara masa lalu dan masa depan, menjaga marwah budaya Jawa sambil terus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Sejarah Kraton Yogyakarta Sebelum Bergabung ke NKRI

Menurut Penghageng II Kawedanan Purwo Aji Laksana Kraton Yogyakarta, KRT Purwowinoto, sebelum bergabung ke Republik Indonesia, Yogyakarta adalah kerajaan yang berdaulat penuh. Mempunyai rakyat, wilayah, dan tata negara sendiri. Ia menyampaikan bahwa Tingalan Jumenengan Dalem ini adalah untuk mengingat kembali dan merefleksikan apa yang telah terjadi selama kenaikan tahta.

“Sama seperti ulang tahun, Tingalan Jumenengan Dalem ini adalah untuk mengingat kembali, merefleksikan selama kenaikan tahta, apa yang sudah terjadi, apa yang sudah dilakukan,” ujarnya.

Meskipun sebagai monarki, Kraton Yogyakarta selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di dalam Kraton, Sri Sultan Hamengku Buwono X dibantu oleh organisasi internal yang selalu diperbaharui. Salah satunya adalah kawedanan Tondo Yekti, yang banyak disukai anak muda karena aktivitasnya di media sosial dan menciptakan tarian serta musik yang menarik minat generasi muda.

Peninggalan Masa Lalu dan Penghubung Masa Depan

Menurut KRT Purwowinoto, Kraton memang peninggalan masa lalu, namun juga penghubung masa depan. Kehadiran Kraton Yogyakarta saat ini bertujuan untuk menyeimbangkan budaya masa lalu agar bisa dikenang dan diterima oleh generasi selanjutnya.

“Memang budaya Jawa itu berorientasi pada masa lalu, namun kemudian bisa dikemas sedemikian rupa, namun tidak meninggalkan akarnya. Sri Sultan HB X itu beberapa kali menciptakan tari baru dengan filosofi baru, salah satunya Tirta Hayuningrat, menceritakan kepedulian kepada alam semesta tentang air. Sehingga seni itu pun selalu berkembang sesuai zamannya,” ujarnya.

Penegasan Identitas Kasultanan Yogyakarta

Sejarawan UGM, Dr. Baha Uddin, M.Hum, mengungkapkan bahwa Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi upaya menempatkan Kasultanan Yogyakarta pada identitas aslinya yang berakar pada kebudayaan Jawa. Menurut dia, peristiwa ini bukan sekadar seremoni, namun penegasan mengenai status Kraton Yogyakarta sebagai penjaga marwah kebudayaan Jawa.

“Ketika Kraton Yogyakarta bergabung ke Republik Indonesia itu menyatakan kalau Yogyakarta tetap bersifat istimewa. Meskipun menjadi bagian dari republik, tetapi tidak meninggalkan identitasnya sebagai monarki. Dan Sri Sultan HB X ini sudah dikasih ilmu untuk melanjutkan apa yang sudah difondasikan. Dan tantangan sekarang ini bagaimana membawa Kraton di tengah perubahan global yang masif,” ujarnya.

“Tingalan Jumenengan Dalem bukan seremonial semata, tetapi memberikan makna Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa, menjaga marwahnya dan itu dilestarikan melalui berbagai upaya yang dimodifikasi dan disesuaikan dengan zaman. Kita harus menyambut ini sebagai kesempatan luar biasa untuk belajar,” tambahnya.

Raja Pengayom Masyarakat

Sementara itu, Kepala Subbidang Hubungan Antar Lembaga dan Penyebarluasan Informasi Paniradya Kaistimewan, Rr. Wita Dewi, menambahkan bahwa Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi peristiwa memanjatkan doa dan harapan warga DIY.

“Kalau ulang tahun itu kan banyak yang mendoakan, harapan dan doa yang dipanjatkan agar Sri Sultan HB X menjadi pengayom yang mengayomi masyarakat. Mengemban tanggung jawab tinggi sebagai gubernur dan raja tentu tidak mudah. Selain itu, juga menjadi panutan bagi masyarakat,” ujarnya.

Melalui Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, ia berharap tradisi terus dilestarikan.

“Ini bukan hanya tradisi atau seremoni, tetapi memaknai sejarah agar terus hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang. Tugas generasi muda tidak hanya melestarikan budaya sebagai identitas dan kebanggan, kita patut meneruskan ke generasi yang akan datang, sehingga internalisasi bisa diwariskan, tidak luntur,” pungkasnya.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *