Situasi Jemaah Indonesia di Arab Saudi yang Masih Berada di Kondisi Tidak Aman
Sebanyak 58 ribu jemaah Indonesia masih berada di Arab Saudi, meskipun situasi di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya stabil. Dari jumlah tersebut, sekitar 6.000 orang telah dipulangkan ke Tanah Air. Angka ini menunjukkan bahwa masih banyak jemaah yang harus diperhatikan dan dipastikan keamanannya.
Desakan untuk Tindakan Konkret dari Pemerintah
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Selly Andriany Gantina, menekankan pentingnya tindakan konkret dari Kementerian Haji Republik Indonesia. Ia menyatakan bahwa koordinasi tidak boleh hanya sebatas administratif, tetapi harus diiringi dengan langkah-langkah nyata seperti pendataan ulang dan koordinasi intensif dengan KJRI serta Konjen di Arab Saudi.
“Koordinasi yang dilakukan harus lebih dari sekadar administratif. Ada langkah-langkah konkret yang perlu dilakukan, mulai dari pendataan ulang hingga kerja sama dengan Konjen dan KJRI,” ujarnya dalam wawancara di sela kegiatan Sosialisasi BPKH di BPU Bagas Raya Cirebon.
Perhatian pada Jemaah Umrah Mandiri
Selly juga memperhatikan potensi adanya jemaah umrah mandiri yang belum terdata secara lengkap oleh pemerintah. Jemaah-jemaah ini bisa saja pulang melalui negara transit, bukan langsung ke Indonesia. Hal ini menimbulkan risiko karena mereka mungkin tidak terlacak secara efektif.
“Jemaah umrah mandiri yang tidak terdata harus menjadi perhatian serius. Mereka bisa saja menggunakan maskapai asing dengan rute transit, sehingga sulit untuk diidentifikasi,” jelasnya.
Pentingnya Koordinasi dengan Negara Transit
Ia menekankan bahwa koordinasi dengan negara transit menjadi sangat penting, terutama jika negara tersebut sedang menghadapi konflik. “Kita harus bekerja sama dengan negara-negara transit yang berada di bawah ancaman eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah,” tambahnya.
Mengantisipasi Travel Nakal
Selain itu, Selly juga mengingatkan adanya kemungkinan adanya travel nakal atau penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) yang menelantarkan jemaah di Arab Saudi. Ia menyarankan agar Kementerian Haji melakukan sweeping terhadap jemaah yang ada di sana dan bekerja sama dengan Kantor Urusan Haji (KUH), KJRI, dan Konjen.
“Perlu adanya pengawasan ketat terhadap travel-travel nakal yang diduga menelantarkan jemaah. Ini penting untuk memastikan keselamatan para jemaah,” katanya.
Update Data dan Selisih yang Terjadi
Menurut Selly, data terbaru menunjukkan bahwa 6.000 jemaah telah kembali ke Indonesia. Namun, ia mengakui adanya selisih data antara jumlah jemaah awal dan jumlah yang tersisa.
Berdasarkan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), jumlah jemaah yang tersisa tercatat sebanyak 48.000 orang. “Kalau di awal jumlahnya 58.000 dan sudah dipulangkan 6.000, maka jumlah yang tersisa seharusnya 52.000. Tapi kenapa hanya 48.000?” tanyanya.
Ia menduga selisih ini berasal dari jemaah umrah mandiri yang tidak melapor atau menggunakan maskapai asing dengan rute transit.
Imbauan untuk Menunda Umrah
Dalam kesempatan tersebut, Selly juga mengimbau masyarakat untuk menunda keberangkatan umrah sementara waktu. “Kami mengimbau kepada jemaah umrah di Indonesia untuk menahan diri agar tidak melakukan pemberangkatan ibadah umrah selama kondisi di Timur Tengah masih tidak aman,” ujarnya.
Persiapan Haji Tetap Berjalan
Meski demikian, persiapan untuk pelaksanaan haji tetap berjalan. Ia menyebut bahwa pemberangkatan tahap awal akan dijadwalkan pada 21 April. Namun, keputusan akhir masih menunggu kepastian dari Pemerintah Arab Saudi.
“Keputusan final tentang pemberangkatan haji masih menunggu kepastian dari Pemerintah Arab Saudi. Kita tidak ingin membuat kesimpulan yang justru merugikan semua pihak,” jelas Selly.
Penjemputan Jemaah Jika Kondisi Memburuk
Terkait kemungkinan penjemputan jika eskalasi konflik meningkat, Selly menyatakan bahwa hal ini menjadi kewenangan pemerintah pusat. “Sampai saat ini saya belum tahu detailnya. Itu mungkin kewenangan dari pemerintah,” tambahnya.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”












