Inisiatif Sekolah Lansia di Bandung: Mengubah Perspektif Masyarakat terhadap Lansia
Bandung menyaksikan momen berbeda pada Sabtu, 28 Februari 2026. Sekitar 30 orang lansia dari berbagai wilayah duduk berbaris tertib mengikuti prosesi wisuda angkatan pertama Sekolah Lansia di Cimencrang. Prosesi ini menjadi bukti nyata dari upaya pemberdayaan masyarakat lanjut usia yang dilakukan oleh Perkumpulan Studi dan Aksi Kependudukan Indonesia (PSAK-Indonesia).
Program pendidikan ini digagas untuk membangun ruang penguatan kapasitas bagi warga usia emas agar tetap berdaya dan memiliki kontribusi nyata dalam masyarakat. Ketua Umum PSAK-Indonesia, Cucu Sutara, menilai bahwa cara pandang terhadap kelompok lansia perlu diperbarui. Ia menegaskan bahwa lansia tidak hanya sebatas objek perlindungan, melainkan modal sosial yang memiliki pengalaman, nilai, dan kebijaksanaan yang menjadi fondasi ketahanan keluarga.
Pendekatan Berbasis Komunitas
Melalui pendekatan kader dan prinsip lifelong learning, para peserta diproyeksikan menjadi agen perubahan. Peserta yang terlibat bukan sosok pasif, melainkan kader aktif di daerah masing-masing. Sejak awal mereka telah memiliki peran sosial dan diarahkan menjadi motor perubahan di lingkungannya. Dengan demikian, dampak program bersifat berlipat. Satu lansia yang berdaya tidak hanya menguatkan kapasitas pribadi, tetapi juga memberi pengaruh pada keluarga serta lingkungan sosialnya.
Cucu berharap Sekolah Lansia Kader Sahabat Abadi dapat diperluas ke berbagai daerah. Model ini diharapkan menjadi bagian dari strategi pembangunan keluarga yang berkelanjutan serta responsif terhadap dinamika demografi. Di sisi lain, Rina, salah satu wisudawan, mengaku merasakan manfaat besar dari program tersebut. Ia menilai sekolah lansia memberi dampak positif, baik bagi dirinya maupun rekan-rekan seangkatannya. Selama beberapa bulan, ia dan peserta lain mendapatkan pembekalan beragam ilmu sosial yang dinilai berguna.
Respons terhadap Fenomena Penuaan Penduduk
Program ini muncul sebagai jawaban atas perubahan struktur penduduk di Jawa Barat yang kini memasuki fase ageing population. Data Badan Pusat Statistik mencatat proporsi lansia di Jawa Barat telah berada di kisaran 11,25 persen dari total penduduk. Secara demografis, angka itu berarti satu dari sepuluh warga di provinsi ini termasuk kategori lanjut usia. Rasio ketergantungan lansia tercatat sekitar 17 per 100 penduduk usia produktif, yang menunjukkan setiap 100 orang usia produktif menopang sekitar 17 lansia.
Fenomena tersebut bukan sekadar deretan angka. Perubahan komposisi usia ini membawa implikasi pada struktur keluarga, ekonomi rumah tangga, hingga keseimbangan sosial di masyarakat. Di Sekolah Lansia Sahabat Abadi, seluruh peserta merupakan kader aktif di wilayahnya masing-masing. Dengan latar belakang itu, mereka telah memiliki posisi sosial dan dipersiapkan menjadi agen perubahan di komunitasnya.
Kurikulum Berbasis Prinsip Lifelong Learning
Kurikulum yang diterapkan mengusung prinsip lifelong learning, yakni proses belajar yang tidak berhenti saat usia produktif berakhir. Konsep ini sejalan dengan active ageing yang diperkenalkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menekankan optimalisasi kesehatan, partisipasi, dan rasa aman dalam menjalani masa tua. Dalam konteks kebijakan nasional, inisiatif tersebut sejalan dengan Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) yang menempatkan pembangunan manusia sebagai proses berkesinambungan.
Data BPS juga menunjukkan lebih dari 51 persen lansia di Jawa Barat adalah perempuan. Kondisi ini menandakan bahwa pemberdayaan lansia bersinggungan langsung dengan penguatan ketahanan perempuan dan keluarga lintas generasi. Artinya, program seperti ini memiliki irisan strategis yang luas.
Kebijakan Sosial yang Adaptif
Kota Bandung, khususnya Kecamatan Gedebage sebagai lokasi wisuda, turut mengalami peningkatan jumlah lansia seiring naiknya harapan hidup dan arus urbanisasi. Situasi tersebut menuntut kebijakan sosial yang adaptif serta berbasis data. Prosesi wisuda ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, seperti Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, serta Perwakilan Wali Kota Bandung.












