Budaya  

Sejarah Masjid Agung Sunda Kelapa: Dari Penolakan Hingga Kebangkitan Umat di Kawasan Elite

Sejarah Perjuangan Masjid Agung Sunda Kelapa di Tengah Kawasan Elite Jakarta

Masjid Agung Sunda Kelapa yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, bukan sekadar bangunan keagamaan biasa. Ia memiliki sejarah panjang yang mencerminkan dinamika sosial, politik, dan keagamaan di ibu kota sejak era pasca-kemerdekaan hingga Orde Baru. Lokasinya di tengah kawasan elite yang sejak zaman Belanda dikenal sebagai wilayah eksklusif para penguasa dan pengusaha membuat pembangunan masjid ini menghadapi berbagai tantangan.

Kawasan Menteng dirancang sebagai taman kota pertama di Indonesia pada masa kolonial. Di sana, bangunan keagamaan non-Eropa seperti masjid tidak pernah diperbolehkan. Bahkan setelah Indonesia merdeka, upaya membangun masjid di kawasan tersebut selalu kandas hingga memasuki dekade 1960-an. Penolakan ini tidak hanya soal estetika kota, tetapi juga mencerminkan ketegangan ideologi dan kekuasaan pada masa itu.

Penolakan di Era 1950-an dan Pengaruh PKI

Pada 1950-an, sejumlah warga Muslim yang tinggal di sekitar Taman Sunda Kelapa mulai menginisiasi pembangunan masjid. Namun, inisiatif ini selalu mendapat penolakan dari pejabat pemerintahan DKI Jakarta saat itu. Kawasan Menteng dianggap sebagai simbol kemewahan dan ketertiban kota yang tidak boleh “terganggu” oleh bangunan keagamaan seperti masjid.

Sekretaris Masjid Agung Sunda Kelapa, Muhammad Reno Fathur Rahmad, menjelaskan bahwa penolakan tersebut berakar dari warisan kolonial. “Jadi, tahun 1950-an itu mau dibangun (masjid), tapi tidak boleh sama pejabat waktu itu, karena masih berada di zaman kolonial. Apalagi area Menteng kan kalau enggak pengusaha, ya penguasa,” ujar Reno kepada tvOnenews.com pada Kamis, 19 Februari 2026.

Memasuki pertengahan 1960-an, hambatan semakin berat karena pengaruh kader dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dikenal anti-agama. Literatur sejarah masjid, seperti buku Menyalakan Pelita Membagi Cahaya Masjid Agung Sunda Kelapa, mencatat bahwa umat Islam harus berhadapan langsung dengan kelompok yang menentang pembangunan rumah ibadah di kawasan tersebut.

Kebangkitan Pasca-G30S/PKI dan Perjuangan Mendapatkan Izin

Peristiwa G30S/PKI pada 1965 menjadi titik balik. Setelah pembubaran PKI dan kebangkitan semangat keagamaan di masyarakat, umat Islam di Menteng melihat momentum untuk kembali mengusulkan pembangunan masjid. Namun, harapan itu masih dihadang oleh alasan estetika: Menteng dianggap sebagai taman kota yang indah dan tidak boleh “dirusak” oleh pembangunan masjid.

Salah satu penggagas utama adalah H.B.R. Motik dan tetangganya bernama Subhan, warga Muslim yang tinggal di sekitar Taman Sunda Kelapa sejak 1951. Mereka sempat menemui pejabat DKI Jakarta untuk meminta izin, tetapi mendapat respons dingin. Motik pernah menirukan ucapan pejabat saat itu dalam bahasa Belanda: “Wat? Eeh moskee in Taman Sunda Kelapa? Neen, dat ontsiert de stad” yang artinya “Apa? Masjid di Taman Sunda Kelapa? Tidak, itu merusak kota,” seperti dikutip dari buku Perjalanan 50 Tahun Masjid Sunda Kelapa.

Penolakan berulang ini akhirnya teratasi melalui perjuangan panjang tokoh-tokoh masyarakat dan dukungan umat Islam yang semakin kuat. Masjid Agung Sunda Kelapa akhirnya berdiri dan menjadi salah satu ikon keagamaan di tengah kawasan elite Jakarta, melambangkan keteguhan umat dalam memperjuangkan hak beribadah di wilayah yang sempat “tertutup” bagi pembangunan masjid.

Signifikansi Masjid di Tengah Kawasan Elite

Hingga kini, Masjid Agung Sunda Kelapa tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial di Menteng. Lokasinya yang strategis di kawasan elite justru menjadi bukti bahwa perjuangan membangun rumah ibadah tidak mengenal batas kelas sosial atau politik. Masjid ini juga menjadi pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya mempertahankan nilai-nilai keagamaan di tengah modernisasi kota.

Perjalanan panjang ini mencerminkan bagaimana umat Islam di Jakarta mampu bertahan dan bangkit di tengah berbagai tantangan, mulai dari era kolonial, pengaruh ideologi anti-agama, hingga penolakan estetika kota. Kini, masjid tersebut bukan hanya tempat ibadah, melainkan simbol kebangkitan dan keteguhan iman di jantung ibu kota.


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *