Tausiyah Menyentuh di Hari Ketiga Ramadan
Di hari ketiga bulan Ramadan 1447 H, kembali hadir tausiyah yang menginspirasi dari Prof. Dr. Ir. H. Agus Sugianto, S.P., M.P., seorang tokoh yang juga menjadi Dewan Pembina dan Ketua Pengurus Yayasan Universitas Islam Malang (UNISMA). Dalam tausiyahnya yang disampaikan melalui kanal YouTube resmi Humas Unisma Official, ia menyampaikan kultum dengan judul menarik: “Puasa Tapi Masih Muda Marah. Tanda Tauhid Belum Kokoh.”
Prof. Agus mengajak umat Islam untuk merenungi hakikat puasa yang lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan haus. Ia memulai tausiyahnya dengan mengajak seluruh umat Islam bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadan. Bulan yang mulia ini, menurutnya, adalah bulan tarbiah ruhani, bulan pendidikan tauhid, dan bulan pengendalian diri.
“Jika kaum Gen Z menyebut bahwa puasa itu adalah riset diri, upgrade iman, dan glow up yang sesungguhnya,” katanya dengan gaya kekinian pada Sabtu (21/2/2026).
Ia menyoroti fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat, yaitu orang-orang yang berpuasa tetapi masih mudah marah, mudah tersinggung, berkata kasar, bahkan menyakiti orang lain. Padahal, Rasulullah SAW telah memberikan peringatan tegas tentang hal ini.
Hadis Mengingatkan Kita untuk Menahan Diri
Prof. Agus mengutip hadis riwayat Al-Baihaqi:
“Laisa ash-shiyamu minal akli wasy syarbi, innama ash-shiyamu minal laghwi war rafatsi.”
“Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi puasa adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan keji.”
Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:
“Idza kana yaumu shaumi ahadikum, fala yarful wa la yajhal. Fa inimru’un syatamahu au qatalahu, falyagul: inni sha’im.”
“Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan marah. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.'”
Menurut Prof. Agus, hadis ini mengajarkan kita untuk melakukan pause sebelum bereaksi. Saat marah hendak meledak, puasa akan selalu mengingatkan, “Aku sedang berpuasa.”
Tanda Tauhid yang Belum Kokoh
“Mengapa kita mudah marah? Mengapa kita mudah tersinggung? Mengapa kita masih mengumpat saat berpuasa? Ini adalah pertanda bahwa tauhid kita belum kokoh,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bagi seseorang yang memiliki tauhid yang kokoh, ia akan merasa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengamati, selalu mengikuti, dan selalu mengawasi gerak-gerik manusia, baik saat bersenang, saat susah, maupun saat menyembunyikan sesuatu yang orang lain tidak tahu.
Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 3:
“Alladzina yu’minuna bil ghaibi wa yuqimuna ashshalata wa mimma razaqnahum yunfiqun.”
“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
Menurut Prof. Agus, makna dari ayat ini adalah bahwa iman kepada yang gaib berarti meyakini Allah selalu mengawasi kita, selalu melihat apa yang kita lakukan dan perbuat, baik yang tampak maupun tersembunyi.
Allah Memuji Orang yang Menahan Amarah
Allah memuji orang-orang yang menahan amarahnya. Dalam Surah Ali Imran ayat 134, Allah berfirman:
“Walladzina yakzhimunal ghaizha wal ‘afina ‘anin nas, wallahu yuhibbul muhsinin.”
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
Ditegaskan, jika puasa masih diwarnai emosi, pertengkaran, dan ucapan kotor, maka yang didapat hanyalah lapar dan dahaga. Rasulullah bersabda bahwa bisa jadi seseorang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus.
Tips untuk Memperkuat Tauhid
Prof. Agus mengajak umat Islam menjadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum untuk memperkuat tauhid dengan cara:
* Memperbanyak zikir
* Menjaga lisan
* Memperhalus akhlak
* Menundukkan ego
“Mari kita jadikan puasa sebagai ibadah yang melahirkan ketenangan, bukan kemarahan; melahirkan kesabaran, bukan emosi; dan melahirkan akhlak mulia sebagai bukti tauhid yang kokoh,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar kita tidak hanya sekadar memindahkan jam makan dan jam tidur selama Ramadan, sehingga di akhir bulan kita tidak mendapatkan apa-apa.
“Jangan sampai apa yang kita lakukan puasa pada bulan ini, kita hanya memindah jamnya makan, memindah jamnya tidur, sehingga pada saat akhir Ramadan ini kita tidak mendapatkan apa-apa,” ucapnya.
Doa Akhir Kultum
Pada akhir kultumnya, Prof. Agus memanjatkan doa:
“Allahumma ya Allah, jadikan puasa kami puasa yang Engkau terima. Kokohkan tauhid kami, lembutkan hati kami, dan jauhkan kami dari amarah serta akhlak yang buruk. Aamiin ya rabbal alamin.”
Melalui kultum singkat namun sarat makna ini menjadi pengingat bahwa esensi puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi membentuk pribadi bertakwa yang mampu mengendalikan diri dan berakhlak mulia.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."












