Budaya  

Ceramah Subuh Ramadan 1447/2026: Menggali Hikmah Puasa

Kultum Ramadan: Menyelami Hikmah Puasa

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT. Setiap tarikan nafas adalah nikmat yang diberikan kepada kita, sekaligus amanah untuk kita pertanggungjawabkan. Apakah setiap detak kehidupan kita membuahkan amal dan kebaikan, atau justru catatan keburukan yang memilukan?

Shalawat serta salam marilah kita kirimkan kepada Nabi Muhammad SAW, nabi junjungan kita, yang setiap detak kehidupannya dipenuhi dengan panduan kemuliaan, uswah, dan teladan bagi kita semua. Semoga kita diberikan nikmat bertemu dengannya di akhirat nanti. Amin.

Jamaah sekalian, rahimakumullah…

Salah satu hal yang membuat kita termotivasi untuk beramal adalah ketika kita mengetahui dan meyakini sepenuhnya manfaat dan hikmah dari sebuah amalan tersebut. Begitu pula dengan ibadah kita di bulan Ramadan, agar tetap bersemangat hingga akhir Ramadan, perlu rasanya kita meyakini dan memahami beragam hikmah di bulan yang mulia ini, khususnya hikmah puasa Ramadan.

Masih banyak orang yang mengisi Ramadan tanpa semangat, hanya ikut-ikutan penuh keterpaksaan, salah satunya karena gagal dalam menyelami hikmah Ramadan dan kewajiban puasa di dalamnya.

Untuk itulah, mari kita bahas beberapa hikmah dari banyak hikmah yang terkandung dalam bulan Ramadan, dan semoga ini bisa menjadi penyemangat kita agar amaliyah Ramadan kita stabil dan bahkan terus meningkat. Di antara hikmah Ramadan adalah sebagai berikut:

Pertama: Ramadan sebagai Training Keikhlasan

Puasa adalah ibadah yang melatih keikhlasan. Maka puasa Ramadan selama sebulan adalah training keikhlasan yang sangat efektif. Sejak awal, Rasulullah SAW menjelaskan betapa ibadah puasa benar-benar jalur langsung antara seorang dengan Tuhannya.

Puasa menjadi ibadah yang begitu mulia karena langsung dinilai oleh Allah SWT. Beliau meriwayatkan firman Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi: “Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali Puasa, sesungguhnya (puasa) itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya.” (HR Ahmad dan Muslim).

Ibadah puasa melatih kita untuk ikhlas dalam arti yang paling sederhana, yaitu: beramal hanya karena Allah SWT, mengharap pahala dan keridhoan-Nya.

Betapa tidak? Hampir semua ibadah bisa dideteksi dengan mudah oleh semua manusia, kecuali puasa. Orang menjalankan sholat dan zakat bisa dengan mudah terlihat dengan mata telanjang. Apalagi ibadah haji, rasa-rasanya satu kampung pun bisa mengetahui kalau salah satu kita menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan puasa, yang hampir-hampir tidak bisa diketahui oleh orang lain karena kita sekadar menahan tidak makan minum dan berhubungan badan.

Artinya, dalam puasa kita dipaksa untuk ‘ikhlas’ menjalani itu semua hanya karena Allah SWT. Sekiranya bukan karena ikhlas, akan sangat mudah bagi seseorang untuk mengelabui keluarga atau teman-temannya. Ia bisa ikut sahur dan juga berbuka bersama keluarga, tapi di siang hari mungkin saja menyantap lahap makanan di warung langganannya.

Kita semua juga bisa berakting puasa dengan mudah, tapi lihatlah, tidak pernah terbesit dalam hati kita untuk menjalani puasa dengan modus semacam itu. Subhanallah, inilah training keikhlasan terbaik yang pernah kita dapati. Sebulan penuh merasa di awasi dan beramal hanya karena Allah SWT.

Mari kita sedikit berangan, seandainya kaum muslimin di Indonesia bisa mengambil sedikit saja oleh-oleh keikhlasan semacam ini untuk bulan-bulan selanjutnya, bisa kita bayangkan angka kejahatan, korupsi, dan sebagainya insya Allah akan menurun drastis. Karena mereka semua merasa di awasi oleh Allah SWT, lalu menjalankan ketaatan dengan ikhlas sebagaimana meninggalkan kemaksiatan juga dengan ikhlas. Subhanallah.

Kedua: Ramadan untuk Training Keistiqomahan

Momentum Ramadan yang penuh dengan berbagai amalan dari pagi hingga malam hari mau tidak mau, suka tidak suka, akan membuat seorang berlatih untuk istiqomah dalam hari-hari selanjutnya.

Kita semua benar-benar menjadi orang yang sibuk dalam bulan Ramadan. Bangun di awal hari untuk sholat malam dan sahur, kemudian siang hari yang dihiasi tilawah dan dakwah, belum lagi malam hari yang bercahayakan tarawih dan tadarus. Semua kita lakukan dalam tempo sebulan penuh terus menerus.

Sebuah kebiasaan tahunan yang nyaris tidak kita percaya bahwa kita bisa menjalaninya. Semangat beribadah kita benar-benar dipacu saat memulai Ramadan. Bahkan Rasulullah SAW memberikan panduan agar menggandakan semangat saat akan melepas bulan mulia tersebut. Dari Aisyah ra, ia berkata:

“Adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Ramadhan), menghidupkan malam, membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (ungkapan kesungguhan dan kesiapan dalam beribadah).” (HR Bukhori dan Muslim).

Bila training keistiqomahan ini kita resapi dengan baik, maka kita akan terbiasa beramal secara terus menerus dan berkelanjutan dalam bulan yang lain. Segala halangan dan rintangan akan teratasi dengan sempurna karena semangat istiqomah yang telah tertempa dalam dada kita.

Pada bulan-bulan berikutnya, saat lelah melanda, ada baiknya kita mengingat kembali semangat kita yang menyala-nyala dalam bulan Ramadan. Untuk kemudian bangkit dan melanjutkan amal dengan penuh semangat! Wallahu a’lam bisshowab.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Nah, Tribuners, itu dia naskah kultum Ramadan 1447 H/2026 singkat terbaik untuk 5 Ramadan yang bertepatan dengan 23 Februari 2025. Semoga bermanfaat.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *