Memaksimalkan Potensi Diri dalam Bulan Suci Ramadhan
Ramadhan akan kembali hadir. Momentum ini menjadi kesempatan emas untuk menyambut dengan penuh rasa syukur dan semangat memperbaiki diri di hadapan Allah SWT. Sebagai seorang dai atau tokoh masyarakat, kita perlu mempersiapkan diri secara maksimal agar bisa memanfaatkan bulan suci ini dengan amaliyah yang bermanfaat.
Ketokohan di masyarakat tidak datang begitu saja. Diperlukan proses panjang dan serius untuk menumbuhkannya. Secara umum, menjadi seorang tokoh masyarakat diperlukan beberapa syarat. Pertama, memiliki kemiripan atau kesamaan dengan masyarakat. Hal ini dapat dipahami dari beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa para rasul diutus dari kalangan mereka sendiri.

ILUSTRASI Puasa Ramadhan. – (pxhere)
Syarat kedua, memiliki keunggulan dalam hal yang dianggap sama atau yang menjadi identitas masyarakat. Syarat ketiga, memiliki kongruensi (sama dan sebangun) dengan gambaran ideal pemimpin menurut masyarakat sekitar. Dari situlah kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyesuaikan diri dengan kebaikan-kebaikan masyarakat di manapun kita berada.
Selain itu, penokohan di masyarakat juga harus memperhatikan rambu-rambu agar dapat meminimalisir sisi negatif. Dengan demikian, keberadaan kita selaku dai akan mudah diterima oleh masyarakat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang mukmin itu adalah orang yang bisa menerima dan diterima orang lain, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa diterima orang lain. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna bagi sesamanya.”
Proses yang bagus dan tanpa cacat saja masih mendapatkan reaksi negatif dari masyarakat, apalagi jika penokohan tanpa dibarengi kearifan. Dari situlah usaha untuk penokohan seorang dai dalam dakwah di lingkungan harus juga memperhatikan hal-hal penting. Hal penting itu adalah tidak menjadi ancaman bagi tokoh lain, sebisa mungkin dai menjadi perekat bagi masyarakat yang heterogen. Dan, selalu membina hubungan baik terutama dengan tokoh dan orang-orang yang dihormati di wilayah tersebut.
Dakwah di lingkungan masyarakat muslim yang secara umum memiliki mazhahir tadayyun sya’biy di bulan Ramadhan yang tidak bertentangan dengan semangat dan nilai-nilai dakwah yang diusung.
Mazhahir Ibadah
Pertama, mazhahir ibadah. Di antaranya shalat fardhu berjamaah. Masyarakat muslim secara umum melaksanakan shalat fardhu di bulan Ramadhan dengan berjamaah di masjid atau mushalla di sekitar tempat tinggal, atau tempat kerja. Pada point ini dai harus menjadi teladan terbaik dalam pelaksanaan shalat berjamaah, dengan hadir lebih awal, dan mengajak anggota keluarga.
Shalat Tarawih berjamaah. Masyarakat menganggap shalat tarawih di masjid atau mushala adalah identitas keislaman yang sangat signifikan, maka kehadiran di jamaah itu sangat menentukan penerimaan atau penolakan terhadap keberadaan seseorang. Maka ditekankan kepada seorang dai untuk melaksanakan shalat tarawaih berjamaah di masjid atau mushalla.
Mengikuti tausiyah/kultum. Pada bulan Ramadhan kaum muslimin sedang dalam kondisi siap menerima nilai-nilai, dan sedang meningkat semangat tadayyun mereka. Maka seorang dai hendaknya berperan aktif dalam hal ini baik sebagai pemberi taushiyah ataupun pendengar, untuk menjadi teladan dan penyemangat bagi yang lain.
Mengikuti tadarus Alqur’an. Ramadhan dikenal sebagai syahrul Qur’an, budaya tadarus Al-Qur’an perlu disupport baik yang diselenggarakan di masjid, di mushalla, atau rumah warga. Seorang dai diharapkan berperan aktif dalam kegiatan ini.
Gemar bersedekah. Rasulullah SAW adalah seorang dermawan yang gemar bersedakah, dan di bulan Ramadhan lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Maka dianjurkan kepada seorang dai menyediakan anggaran khusus infaq terutama mengisi kotak infaq di masjid atau mushala, dan membiasakan anak-anaknya untuk gemar bersedekah. Termasuk bersedekah dengan berbagi ifthar kepada tetangga.
Adat (Kebiasaan Sehari-hari)
Kedua, adat (kebiasaan sehari-hari). Kebersamaan dengan masyarakat seringkali diukur pula dengan kesamaan dalam berpakaian, tingkah laku, dan tutur kata. Demikian pula adab berpakaian. Seorang dai diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan budaya busana masyarakat yang dihormati. Misalnya memakai peci, jas, sorban bagi penceramah di lingkungan tertentu. Memakai baju koko, sarung dan berpeci bagi jamaah di lingkungan yang merupakan sebagai kebaikan.
Nasyath (Kegiatan)
Ketiga, nasyath (kegiatan). Ramadhan sebagai bulan amal, memberi peluang amal kebaikan sejak penyambutan sampai pelepasan. Seorang dai diharapkan aktif dalam kegiatan-kegiatan positif menyambut Ramadhan seperti kerja bakti membersihkan masjid di lingkungan tempat tinggal, pemeriksaan kesehatan menjelang Ramadhan, dan pawai menyambut Ramadhan.
Menyelenggarakan kegiatan ibadah sosial untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan seperti bazar, pembagian ta’jil, dan ifthor jama’i. Menyelenggarakan kegiatan seperti pesantren kilat, yaum ma’al qur’an bersama masyarakat, dan i’tikaf asyrul awakhir. Dan, menyelenggarakan silaturrahim idul fitri dengan berbagai lapisan masyarakat.
Semoga Allah memudahkan semua niat baik kita sebagai seorang penyeru dakwah dalam berdakwah di jalan-Nya sehingga meningkat kualitas diri di hadapan Allah dan meningkat posisi di tengah umat. Amin.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












