Penjelasan Presiden Prabowo tentang Program Makan Bergizi Gratis
Presiden Prabowo Subianto secara tegas membantah tuduhan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan pemborosan anggaran. Ia menegaskan bahwa dana yang digunakan dalam program tersebut berasal dari efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, anggaran tersebut dialokasikan untuk intervensi gizi anak-anak Indonesia yang masih mengalami kekurangan gizi.
Program MBG ditargetkan untuk mencakup 82 juta penerima dengan anggaran sebesar Rp1,2 triliun per hari. Badan Gizi Nasional (BGN) bertanggung jawab atas pengelolaan program ini. Dalam beberapa waktu terakhir, muncul sejumlah kasus keracunan siswa akibat konsumsi makanan MBG di berbagai daerah. Hal ini memicu investigasi dan evaluasi terhadap dapur penyedia MBG oleh BGN.
Kritik terhadap MBG
Di tengah pelaksanaan program, muncul kritik terhadap MBG. Presiden Prabowo mengaku heran dengan kritik yang terus-menerus dilontarkan kepada program tersebut. Ia menyatakan bahwa sejak awal peluncuran, MBG telah disambut dengan sinis oleh sejumlah pihak. Bahkan, ada kalangan profesor yang meragukan dan memprediksi kegagalan program ini. Meski begitu, ia tidak menyebutkan nama-nama tertentu yang dimaksud.
Bagi Prabowo, kritik yang menyebut MBG sebagai pemborosan uang negara adalah tudingan yang tidak berdasar. Ia menjelaskan bahwa anggaran yang digunakan berasal dari hasil efisiensi APBN, yang sengaja dialihkan untuk membiayai program prioritas yang berdampak langsung pada kebutuhan masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya penghematan agar tidak terjadi kebocoran anggaran yang bisa dimanfaatkan oleh oknum tertentu.
Alasan Pelaksanaan MBG
Prabowo menegaskan bahwa MBG tetap berjalan karena ia meyakini urgensi program tersebut. Ia melihat masih banyak anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi, termasuk stunting. Menurutnya, masalah ini tidak bisa dibiarkan tanpa intervensi nyata dari pemerintah.
Dari pengalaman sejumlah bangsa lain, ia melihat bahwa intervensi langsung dari negara menjadi cara yang efektif untuk memperbaiki kondisi gizi. Bantuan harus benar-benar sampai kepada anak-anak, ibu hamil, serta kelompok lansia yang tidak berdaya. Itulah yang ingin diwujudkan melalui MBG.
Target 82 Juta Penerima
Presiden Prabowo mengaku yakin bahwa program MBG akan berjalan sesuai target, yakni mencakup 82 juta penerima. Ia menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya agar program-program prioritas berjalan dengan baik sesuai rencana. Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa niatnya untuk memperbaiki gizi anak-anak Indonesia bukanlah penghinaan terhadap bangsa.
Ia menyinggung perjalanan kariernya sejak menjadi Letnan Dua di militer, saat ia merasa telah menyiapkan diri untuk berkorban bagi negara. “Saya siap mati untuk republik. Sisa-sisa hidup saya hanya untuk menyelamatkan dan membangun Republik Indonesia,” ujarnya.
Anggaran Harian Sebesar Rp1,2 Triliun
Badan Gizi Nasional (BGN) mengelola anggaran besar dalam tahun 2026. Total dukungan APBN 2026 mencapai Rp335 triliun, dengan program MBG menghabiskan Rp1,2 triliun per hari. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyebut anggaran harian BGN setara dengan anggaran kementerian lain dalam setahun.
Dalam situs resmi BGN, Dadan menyebut anggaran, SDM, dan infrastruktur menjadi kunci dalam pelaksanaan program MBG. Ia menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan konsolidasi regional peningkatan tata kelola MBG di wilayah Jawa Barat, Daerah Khusus Jakarta, dan Banten.
Masalah Keracunan di Beberapa Sekolah
Meski program MBG berjalan, di beberapa wilayah masih terjadi kasus keracunan usai konsumsi makanan MBG. Contohnya, sebanyak 154 siswa Sekolah Menengah Kejuruan HKBP Sidikalang, Kabupaten Dairi Sumatera Utara, diduga keracunan. Puluh murid SMK Swasta Arina Sidikalang juga mengalami keracunan usai menyantap MBG.
Selain itu, puluhan siswa di SMP Negeri 1 Laguboti juga keracunan menu MBG pada Rabu (15/10/2025). Sejumlah anak dirawat di RS HKBP Balige. Tidak hanya pelajar, relawan SPPG juga mengalami hal sama sehingga harus mendapatkan perawatan intensif.
Investigasi dan Evaluasi Dapur
Menanggapi kejadian-kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan investigasi menyeluruh terhadap dapur-dapur penyedia MBG dan memperkuat pengawasan serta pendampingan teknis. Penegakan standar operasional prosedur (SOP) menjadi fokus utama untuk memastikan program MBG berjalan aman dan berkualitas.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang menimpa para penerima manfaat MBG dan berjanji akan melakukan perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang. BGN telah melakukan investigasi dan analisis terhadap beberapa SPPG yang terlibat dalam kejadian tersebut.












