Anak dari Keluarga Tidak Utuh di Sekolah

Anak dari Keluarga ‘Broken Home’ dan Tantangan yang Mereka Hadapi

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga tidak harmonis sering kali menghadapi berbagai tantangan emosional dan psikologis. Mereka tidak selalu datang ke sekolah dengan harapan dan semangat belajar, tetapi justru membawa beban luka batin yang tersembunyi. Salah satu kondisi yang sering dihadapi adalah menjadi anak dari keluarga ‘broken home’, yaitu keluarga yang mengalami perceraian atau konflik antara orang tua.

Anak yang hidup dalam bayang-bayang perceraian, konflik, atau kehilangan salah satu orang tua sering kali merasa kesepian dan hampa. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman dan penuh kasih sayang kini terasa berbeda. Tidak ada lagi kehangatan dari ibu yang menyiapkan sarapan atau suara tegas ayah yang membangunkan mereka. Kehilangan itu membuat mereka merasa tidak memiliki arah dalam hidup.

Dalam situasi ini, anak-anak cenderung merasa tidak dianggap penting oleh orang tua. Mereka mungkin ditinggalkan untuk tinggal bersama nenek, keluarga, atau bahkan panti asuhan karena orang tua tidak ingin bertanggung jawab. Akibatnya, banyak dari mereka harus hidup sendiri, mulai dari memasak, mengurus rumah, hingga mencari uang sendiri. Keadaan ini memaksa anak-anak untuk dewasa lebih cepat dari usia mereka.

Selain itu, anak-anak yang tinggal di lingkungan keluarga yang masih bersama tetapi penuh konflik juga mengalami kesulitan. Meskipun secara fisik rumah tampak utuh, di dalamnya terjadi perseteruan yang sering kali melibatkan urusan finansial, kesibukan pekerjaan, atau perbedaan prinsip. Pertengkaran bisa meledak kapan saja hanya karena hal sepele, sehingga suasana rumah terasa seperti bom waktu yang siap meledak.

Dampak pada Sekolah

Perceraian orang tua dan lingkungan keluarga yang tidak harmonis memberikan dampak besar pada perilaku dan prestasi anak di sekolah. Penelitian menunjukkan bahwa anak dari keluarga ‘broken home’ rentan mengalami masalah di sekolah, baik secara akademik maupun sosial. Beberapa dari mereka bahkan berprestasi, tetapi kebanyakan mengalami penurunan motivasi belajar.

Kehilangan dukungan dari orang tua membuat semangat belajar mereka menurun. Anak sulit melihat sekolah sebagai prioritas karena tidak ada figur yang selama ini membimbing dan menyemangati mereka. Pada akhirnya, hal ini berisiko mengantarkan mereka pada putus sekolah.

Di sisi lain, pengalaman tidak menyenangkan di rumah juga memengaruhi aktivitas belajarnya. Anak sering tidur saat guru menerangkan, sulit fokus, dan tidak bersemangat. Perubahan perilaku mereka biasanya ditunjukkan dengan menjadi lebih pendiam, pemurung, atau menarik diri dari pergaulan. Hal ini bukan disebabkan oleh tidak adanya teman, tetapi karena malu akan kondisi keluarga mereka.

Di sisi lain, beberapa anak cenderung agresif. Mereka kurang menghargai guru, kasar, dan marah jika ditegur. Perilaku ini disebabkan oleh ketidakmampuan mereka mengekspresikan diri dengan nyaman di rumah, sehingga melampiaskan emosinya pada lingkungan sekolah.

Peran Sekolah dalam Mendukung Anak

Sekolah memiliki peran penting dalam membantu anak-anak dari keluarga ‘broken home’. Meski rumah tidak lagi bisa memberikan rasa aman, sekolah bisa menjadi ruang aman bagi mereka. Lingkungan belajar yang inklusif, penuh empati, dan mendukung dapat membantu anak tumbuh secara sehat.

Guru harus hadir sebagai figur yang mengayomi, penuh kasih, dan tidak mudah menghakimi. Mereka perlu membantu anak membangun kembali kepercayaan diri dan motivasi belajar. Sekolah bukan hanya ruang transfer pengetahuan, tetapi juga rumah kedua yang mampu menyembuhkan luka dan menjaga harapan tetap menyala.


Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *