Presiden Beri Peringatan, I Made Sada Dorong Pengelolaan Sampah Kuta Terpadu dan Berkelanjutan

Penanganan Sampah di Pantai Kuta Membutuhkan Pendekatan Terintegrasi

Sorotan Presiden Prabowo Subianto terhadap masalah sampah di kawasan wisata nasional, khususnya Pantai Kuta, menjadi pengingat bahwa isu lingkungan di Bali belum sepenuhnya terselesaikan. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab lokal, tetapi juga harus diperhatikan secara nasional.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Badung, I Made Sada, menilai bahwa perhatian langsung dari Presiden harus dijadikan momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh, bukan hanya sebagai respons sesaat. Menurutnya, masalah sampah di Pantai Kuta bukanlah isu baru dan memerlukan pendekatan yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Masalah Sampah yang Berlangsung Bertahun-Tahun

Menurut I Made Sada, masalah sampah di Pantai Kuta sudah berlangsung bertahun-tahun, bersifat musiman, dan sering berulang setiap kali angin barat datang. Ini menunjukkan bahwa penanganannya tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan upaya yang melibatkan lintas sektor dan wilayah.

“Sorotan Presiden ini harus kita maknai sebagai alarm. Artinya, masalah sampah di kawasan strategis pariwisata seperti Kuta sudah menjadi perhatian nasional. Ini tidak boleh dijawab dengan langkah reaktif saja, tetapi harus dengan kebijakan yang terstruktur dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pantai Kuta berada di wilayah hilir yang menerima limpahan sampah kiriman dari berbagai daerah, terutama melalui aliran sungai dan arus laut. Kondisi geografis ini membuat upaya pembersihan di kawasan pantai saja tidak akan cukup jika tidak dibarengi pengendalian sampah dari sumbernya.

Perlu Pembenahan Sistem Penanganan Sampah

I Made Sada menjelaskan bahwa jika fokus hanya pada pembersihan di pantai, masalah sampah tidak akan pernah selesai. Sampah akan terus datang, sehingga penanganan harus dimulai dari hulu, yaitu dari sungai, tata kelola sampah di desa-desa, hingga perilaku masyarakat.

“Kalau kita hanya fokus membersihkan di pantai, persoalan ini tidak akan pernah selesai. Sampah akan terus datang. Artinya, penanganan harus dimulai dari hulu, dari sungai, dari tata kelola sampah di desa-desa, hingga perilaku masyarakat,” tegas politisi tersebut.

Meski Pemerintah Kabupaten Badung telah melakukan berbagai upaya konkret, seperti pembersihan rutin, pengerahan personel, penggunaan alat berat, serta melibatkan TNI, Polri, dan relawan, volume sampah musiman membuat upaya tersebut sering terlihat belum optimal di mata publik.

Sampah Kiriman yang Mengganggu Estetika dan Citra Wisata

Sampah kiriman yang datang ke Pantai Kuta pada musim tertentu didominasi oleh kayu, ranting pohon, bambu, serta sampah plastik. Selain mengganggu estetika pantai, kondisi ini juga berdampak langsung terhadap kenyamanan wisatawan dan citra pariwisata Bali di mata dunia.

Sebagai daerah yang menggantungkan sebagian besar perekonomiannya pada sektor pariwisata, Badung tidak boleh abai terhadap isu lingkungan. Menurut I Made Sada, kualitas lingkungan adalah fondasi utama pariwisata Bali. Jika persoalan sampah terus berulang tanpa solusi jangka panjang, maka kepercayaan wisatawan bisa tergerus.

Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

I Made Sada mendorong agar penanganan sampah di kawasan Kuta dan sekitarnya ditempatkan sebagai agenda strategis lintas OPD, bukan hanya menjadi urusan Dinas Lingkungan Hidup. Diperlukan keterlibatan dinas teknis lain, pelaku pariwisata, desa adat, desa dinas, hingga sektor swasta.

Desa adat memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terkait pengelolaan sampah. Awig-awig dan pararem desa adat bisa menjadi instrumen sosial yang efektif untuk menekan perilaku membuang sampah sembarangan.

Pentingnya Teknologi dalam Pengelolaan Sampah

Selain pendekatan sosial dan budaya, I Made Sada juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sampah. Ia mendorong Pemkab Badung untuk menggandeng perguruan tinggi dan lembaga riset dalam mencari solusi inovatif, baik untuk pengolahan sampah organik, pengendalian sampah kiriman, maupun pengurangan sampah plastik.

Perguruan tinggi punya sumber daya intelektual yang besar. Kita perlu kolaborasi untuk menemukan teknologi yang sesuai dengan karakter Bali, bukan sekadar meniru daerah lain.

Edukasi Berkelanjutan untuk Membangun Budaya Bersih

I Made Sada juga menyoroti pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Menurutnya, membangun budaya bersih tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan konsistensi, keteladanan, dan keberlanjutan program agar perubahan perilaku benar-benar terjadi.

Edukasi ini tidak boleh musiman. Jangan hanya ramai saat sampah datang. Setelah itu hilang lagi. Harus ada program yang berkesinambungan, masuk ke sekolah-sekolah, banjar, dan komunitas.

Dukungan Pemerintah Pusat Sangat Penting

Terkait sorotan Presiden Prabowo, I Made Sada menilai pemerintah pusat juga perlu hadir dalam bentuk dukungan kebijakan dan anggaran, mengingat Kuta adalah destinasi wisata nasional yang memiliki dampak ekonomi luas bagi Indonesia.

Kalau Kuta terganggu, dampaknya bukan hanya ke Badung atau Bali, tapi ke pariwisata nasional. Karena itu, dukungan pusat sangat penting, baik dalam regulasi maupun pembiayaan program strategis.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *