Tragedi Anak Berusia 10 Tahun yang Mengakhiri Hidupnya di Pohon Cengkeh
Di sebuah desa kecil di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, langit tiba-tiba menjadi gelap setelah kabar duka menyelimuti masyarakat. YBR, seorang bocah berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas IV SD Negeri Rj, ditemukan mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat tragis. Tubuh mungilnya ditemukan tergantung pada seutas tali di sebuah pohon cengkeh milik neneknya.
Lokasi tersebut hanya berjarak tiga meter dari gubuk bambu sederhana berukuran 2×3 meter tempat ia menghabiskan hari-harinya bersama sang nenek, WN (80). Kejadian ini menimbulkan rasa sedih dan prihatin bagi seluruh komunitas setempat.
Sosok Pendiam yang Berbakti dalam Keterbatasan
Di mata pihak sekolah, YBR bukanlah anak yang bermasalah. Ia dikenal sebagai pribadi yang tenang dan tidak pernah mengeluh meski hidup dalam jeratan ekonomi. Kepala UPTD SD Negeri Rj, Maria Ngene, tak kuasa menyembunyikan rasa kehilangan saat mengenang anak didiknya itu. “Pihak sekolah menyampaikan duka mendalam kepada keluarga korban,” ucap Maria saat ditemui pada Rabu (4/1/2026).
Maria menggambarkan YBR sebagai sosok yang ramah. Menurutnya, tidak ada tanda-tanda depresi atau kendala menonjol yang ditunjukkan korban selama mengikuti proses belajar-mengajar di awal semester ini. “Dia anak baik, ramah dengan teman-temannya, dan tidak pernah membuat keributan,” katanya.
Ironi Administrasi: Bantuan yang Terhambat Domisili
Di balik sosoknya yang penurut, YBR ternyata memikul beban hidup yang tidak ringan. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, ia harus tinggal terpisah dari ibunya yang mendiami rumah berbeda bersama kakak-kakaknya, sementara ayahnya telah merantau ke Kalimantan selama 12 tahun.
Keluarga kecil ini juga harus berjuang melawan rumitnya birokrasi. Selama bertahun-tahun, YBR tidak pernah menyentuh bantuan pendidikan seperti Program Indonesia Pintar (PIP). “Sejak kelas satu sampai kelas tiga dia belum menerima bantuan karena belum memiliki Nomor Induk Kependudukan,” kata Maria Ngene menjelaskan.
Meski akhirnya berhasil masuk dalam Kartu Keluarga sang nenek pada kelas tiga, bantuan sebesar Rp 450 ribu yang sebenarnya sudah masuk ke rekening tahun ini tetap tidak bisa dicairkan. Alasannya klasik, KTP ibunya masih tercatat di Kabupaten Nagekeo, sehingga pihak bank tidak dapat memproses pencairan tersebut. “Saat hendak dicairkan, pihak bank tidak bisa memproses karena KTP ibunya berasal dari luar daerah. Ibunya ber-KTP Nagekeo,” ujar Maria.
Firasat Sebelum Kepergian
Ibu korban, Maria Goreti Te’a (47), mengenang momen terakhir bersama putra bungsunya pada Kamis pagi itu. YBR sempat mengeluh pusing dan enggan berangkat sekolah. Namun, karena khawatir sang anak tertinggal pelajaran, Maria Goreti mendorongnya untuk tetap berangkat dan berniat mengantarnya dengan ojek. Tak disangka, dorongan itu menjadi percakapan terakhir mereka. Pada siang harinya, kabar pahit justru datang dari tetangga.
“Saya kaget ada kabar dari tetangga. Saya pikir dia ada pergi sekolah,” tutur Maria Goreti dengan nada pilu di rumah duka, Selasa (3/2/2026). Sang nenek, yang telah mengasuh YBR sejak usia 1 tahun 7 bulan, menyebut cucunya sebagai anak yang sangat rajin. Sebelum sekolah, YBR kerap membantu menjual sayur, ubi, hingga kayu bakar demi menyambung hidup. Keluhannya selama ini sangatlah sederhana, hanya soal buku tulis dan pulpen.
“Kami selalu berusaha penuhi semampu kami,” ujar sang nenek lirih.
Pembelajaran Bagi Semua Pihak
Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi sistem sosial dan kependudukan. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, langsung turun ke lapangan setelah mendengar kabar tersebut. “Setelah membaca berita di media, saya sangat tersentuh. Saya ingin memastikan langsung apakah benar korban tinggal bersama nenek di pondok. Dan setelah saya lihat, itu benar,” ungkap Gerardus, Selasa (3/2/2026).
Gerardus mengakui adanya kendala administrasi yang membuat keluarga ini luput dari jaring pengaman sosial. “Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo. Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai,” tambahnya.
Kini, YBR telah pergi, meninggalkan gubuk bambu dan pohon cengkeh yang menjadi saksi bisu perjuangannya. Kasus ini menjadi pengingat bagi pihak sekolah dan pemerintah untuk lebih peka terhadap kondisi sosial siswa di balik pagar sekolah. “Kejadian ini menjadi pembelajaran bagi kami untuk lebih memperhatikan kondisi sosial peserta didik ke depan,” pungkas Maria Ngene.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."












