Tragedi Siswa SD di NTT Akhiri Hidup Karena Buku Pena Tak Terpenuhi, Tinggalkan Surat untuk Ibu

Tragedi yang Menyentuh Hati

Seorang siswa kelas IV SD berusia 10 tahun, dengan inisial YBR, ditemukan meninggal dunia tergantung di pohon cengkeh pada Kamis, 29 Januari 2026. Kejadian ini terjadi di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Polisi menduga kuat bahwa korban melakukan bunuh diri, diperkuat dengan temuan surat tulisan tangan berisi pesan perpisahan untuk sang ibu.

YBR berasal dari keluarga miskin dan hidup dalam keterbatasan ekonomi. Permintaan sederhana seperti buku tulis dan pena tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan biaya. Sebuah tragedi memilukan terjadi di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur baru-baru ini. Seorang siswa kelas IV berusia 10 tahun di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh, Kamis 29 Januari 2026 lalu.

Korban disebut sempat meminta untuk dibelikan buku tulis dan pena kepada sang ibu sebelum mengakhiri hidupnya. Berdasarkan pemeriksaan polisi, permintaan itu tidak bisa dipenuhi ibunya. Sebab, tidak memiliki uang yang cukup. Saat kejadian, nenek korban tengah mandi di kali yang jaraknya tak jauh dari pondok.

Tidak ada tanda-tanda mencurigakan sebelumnya. Tak ada pertengkaran. Tak ada riwayat perilaku menyimpang. YBR adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu. Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali.

Sehari-hari, selain bersekolah, ia kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering. Menurut keterangan nenek, YBR dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. Ia tak pernah menunjukkan perilaku aneh. Keluhannya hanya sederhana, buku tulis dan pena untuk sekolah.

“Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” tutur sang nenek lirih, saat temu di Sa’o, Selasa 3 Februari 2026. Ibu kandung YBR, Maria Goreti Te’a (47), menceritakan pagi terakhir sebelum tragedi itu. YBR mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. Namun karena khawatir ia tertinggal pelajaran, sang ibu tetap mendorongnya masuk sekolah dan mengantar dengan ojek.

Siang harinya, kabar duka itu datang, menghantam keluarga tanpa peringatan. “Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir anak saya ada pergi sekolah,” ungkap Maria. Dari pantauan lapangan dan keterangan warga, keluarga YBR hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan sejak ditinggalkan kepala keluarga. Kondisi ini membuat pengasuhan anak-anak terpisah, pendampingan emosional minim, dan akses pendidikan terbatas.

Ironisnya, keluarga ini juga tercatat luput dari berbagai bantuan pemerintah, baik bantuan rumah layak huni, pendidikan, maupun bantuan sosial lainnya. Dari 5 anak, hanya 2 yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan.

Pemerintah Desa setempat bersama tokoh masyarakat telah memberikan santunan awal sebagai bentuk kepedulian. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, turun langsung meninjau lokasi dan bertemu keluarga korban pada Selasa 3 Februari 2026. “Setelah membaca berita di media, saya sangat tersentuh. Saya ingin memastikan langsung apakah benar korban tinggal bersama nenek di pondok. Dan setelah saya lihat, itu benar,” ungkap Gerardus Reo.

Ia juga menemukan persoalan administrasi kependudukan yang membuat keluarga ini luput dari sistem bantuan. “Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo, meski sudah 11 tahun tinggal di Desa Naruwolo. Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai,” jelasnya.

Dugaan Korban Bunuh Diri

Pada Senin 2 Februari 2026, Kepala Seksi Humas Polres Ngada Inspektur Dua Benediktus E Pissort menyatakan dugaan sementara kasus ini adalah korban bunuh diri. Meski begitu, Benediktus dalam sambungan telepon menegaskan, pihak kepolisian masih terus melakukan pendalaman untuk mengungkap penyebab kematian korban. Berdasarkan catatan Kompas.id, korban ditemukan tergantung menggunakan seutas tali pada dahan pohon cengkeh. Pohon tersebut berada di dekat sebuah pondok, tempat yang tidak jauh dari tempat tinggalnya bersama sang nenek yang berusia 80-an tahun.

Yang memilukannya lagi, ditemukan surat yang ditinggalkan korban untuk sang ibu di sekitar lokasi kejadian. Sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis oleh korban itu telah dikonfirmasi oleh kepolisian setempat. Benediktus mengatakan konfirmasi tersebut didasari setelah melihat pola tulisan tangan korban. “Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan,” sebut Benediktus.

Isi Surat Korban Memilukan

Dalam sepucuk surat tersebut, korban mengisyaratkan sebuah kalimat “pamitan” kepada sang ibu. Korban seolah meminta ibunya untuk tidak bersedih dan mengikhlaskan kepergiannya. Dia mengucapkan salam perpisahan untuk selamanya. Inilah bunyi surat korban dalam bahasa Ngada:

KERTAS TII MAMA RETI

MAMA GALO ZEE

MAMA MOLO JA’O

GALO MATA MAE RITA EE MAMA

MAMA JAO GALO MATA

MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE

MOLO MAMA

Yang mana memiliki arti sebagai berikut:

SURAT BUAT MAMA RETI

MAMA SAYA PERGI DULU

MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL)

JANGAN MENANGIS YA MAMA

MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL)

TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA

SELAMAT TINGGAL MAMA

Saksi Diperiksa

Untuk menindaklanjuti kasus ini, Benediktus mengatakan, sejumlah saksi sudah diperiksa untuk mengumpulkan informasi. Para saksi yang dipanggil adalah Kornelis Dopo (59), Gregorius Kodo (35), dan Rofina Bera (34). Mereka merupakan masyarakat setempat di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

Pada keterangannya pada pihak berwenang, Kornelis membeberkan bahwa dia pergi menuju area sekitar pondok milik nenek korban pada pukul 11.00 Wita. Ketika masih berada di jarak kejauhan, Kornelis sudah melihat korban dalam kondisi tergantung. Sontak, pria berusia 59 tahun tersebut segera berlari ke arah lokasi sekaligus berteriak meminta pertolongan warga setempat. Setelah mendengar teriakan Kornelis, masyarakat sekitar berbondong-bondong datang melihat kejadian dan menghubungi pihak polisi.

Korban Sempat Murung

Sebelum kejadian tersebut, sejumlah saksi menyaksikan kemurungan terlihat di wajah korban. Waktu menunjukkan sekitar pukul 08.00 Wita, dua saksi Gregorius dan Rofina melihat korban duduk di bale-bale. Bale-bale adalah sebuah tempat duduk yang terbuat dari bahan bambu, lokasinya di luar pondok itu. Keduanya sempat mengajak korban ngobrol. Mereka juga bertanya pada korban, di mana keberadaan sang nenek sekaligus menanyakan kenapa korban tidak sekolah. Mereka melihat korban tampak murung.

Korban sempat minta buku dan pena. Atas kejadian ini, ibu korban MGT (47) juga turut dimintai keterangan secara terpisah. Dia mengatakan, pada malam sebelumnya, korban bermalam di rumah bersama ibu. Tapi besoknya sekitar pukul 06.00 Wita, korban diantar dan dititipkan ke tukang ojek menuju pondok sang nenek. Sebelum berpisah, wanita berusia 47 tahun tersebut sempat menyampaikan nasihat kepada korban. Dia mengatakan supaya korban rajin sekolah.

Di sisi lain, ibu korban juga menyampaikan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, sehingga untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan pun tidak mudah. Korban dikenal periang. Di mata warga setempat, korban merupakan anak yang periang dan cerdas. Hal tersebut dibeberkan oleh Lipus Djio (47). Dia mengungkapkan bahwa dirinya mengenal baik korban karena anak Lipus dan korban berteman.

“Mereka biasa main sama-sama. Anak ini periang. Dia juga anak cerdas,” ucap Lipus. Lipus menuturkan bahwa, kondisi keluarga korban memang memiliki banyak rintangan. Itulah mengapa korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Saat kejadian, nenek korban diketahui sedang berada di rumah tetangga. Menurut Lipus, anak berusia 10 tahun tersebut kurang mendapatkan kasih sayang orang tua.

Orang tua korban hanya tinggal sang ibu. Ayah korban sudah meninggal dunia pada saat korban masih dalam kandungan. Ayah korban diketahui suami ketiga dari ibunya. Sementara ibunya membiayai dan menafkahi lima anak sekaligus, termasuk korban. “Yang bikin kami tidak mengerti adalah mengapa anak sekecil itu bisa bunuh diri? Begitu beratkah beban yang ia pikul?” ucap Lipus.

Anggota DPR Minta Usut Tuntas

Sebelum kejadian bunuh diri, korban diketahui sempat meminta uang untuk membeli buku dan pena kepada sang ibu. Tapi, permintaan itu belum bisa dikabulkan karena ibunya tidak punya uang. Anggota DPR minta usut tuntas. Kasus bunuh diri ini menjadi sorotan. Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief turut buka suara. Dia mendesak Kemendikdasmen untuk mengusut tuntas latar belakang kasus bunuh diri siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kami sangat prihatin. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak kita yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar,” ujar Habib Syarief di Jakarta, Selasa 3 Februari 2026 dikutip dari laman Fraksi PKB DPR RI pada hari yang sama. Menurut Habib Syarief, kejadian tersebut tidak bisa dibiarkan. “Negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar pendidikan terpenuhi tanpa kecuali,” tuturnya.

Dalam hal ini, dia menuntut Kemendikdasmen untuk melakukan investigasi untuk memastikan kelalaian sistemik dalam penyaluran bantuan pendidikan di wilayah tersebut. “Karena sepengetahuan kami anggaran pendidikan dari APBN itu besar, harusnya kebutuhan dasar pendidikan dasar seperti buku dan alat tulis bisa terpenuhi,” ucapnya. “Pengusutan ini penting agar negara tidak abai. Kita perlu memastikan apakah bantuan pendidikan sudah tepat sasaran dan apakah ada pendampingan bagi anak-anak yang mengalami tekanan berat akibat kemiskinan,” tegasnya.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *