Kepentingan Militer dan Diplomasi di Laut Arab
Amerika Serikat mengklaim telah menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati kapal induk AS di Laut Arab. Insiden ini terjadi dalam konteks upaya berkelanjutan oleh kekuatan regional untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran. Dalam pernyataannya, juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) Tim Hawkins menyebutkan bahwa jet tempur AS dari USS Abraham Lincoln “menembak jatuh drone Shahed Iran-139 untuk membela diri dan melindungi kapal induk serta personel di dalamnya.”
Pada saat yang sama, para diplomat sedang berupaya mengatur pembicaraan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat. Ketegangan antara kedua negara mulai mereda setelah ancaman berulang Presiden AS Donald Trump untuk menyerang Iran atas penindakan baru-baru ini terhadap protes anti-pemerintah. Trump juga telah mendorong Iran untuk menyetujui pembicaraan tentang program nuklir negara itu.
Upaya Diplomasi dan Pembicaraan Nuklir
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan instruksi kepada menteri luar negeri negara tersebut untuk melakukan negosiasi yang adil dan merata. Ia menekankan bahwa negosiasi harus dilakukan dalam kerangka kepentingan nasional, dengan prinsip-prinsip martabat, kehati-hatian, dan kelayakan. Meskipun ada insiden penembakan drone, rencana pembicaraan tetap berjalan, dengan harapan akan berlangsung pada Jumat 7 Februari 2026 di Istanbul.
Namun, Iran meminta agar pembicaraan diadakan di Oman, bukan Turki. Selain itu, Iran juga meminta agar cakupan perundingan dipersempit hanya pada isu nuklir. Berbagai pihak regional seperti Turki, Oman, dan negara lain telah menawarkan diri sebagai tuan rumah.
Perubahan Lokasi dan Partisipasi Regional
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa utusan khusus Trump, Steve Witkoff, akan melakukan pembicaraan dengan pihak Iran akhir pekan ini. Para pejabat Iran menyatakan terbuka untuk pembicaraan nuklir, tetapi hanya jika pemerintahan Trump mengakhiri ancamannya terhadap negara tersebut.
Beberapa sumber mengatakan bahwa menantu Trump, Jared Kushner, akan ikut serta dalam pembicaraan bersama Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Menteri dari beberapa negara lain di kawasan juga diharapkan hadir.
Tantangan dan Kekhawatiran
Sebuah sumber diplomatik Iran sebelumnya mengatakan bahwa pandangan Teheran terhadap pembicaraan tersebut tidak optimistis maupun pesimistis. Mereka menegaskan bahwa kemampuan pertahanan Republik Islam tidak dapat dinegosiasikan dan siap untuk skenario apa pun. Sementara itu, CENTCOM menuduh pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengganggu kapal dagang berbendera AS dan berawak AS di Selat Hormuz.
Dalam insiden terpisah, Fars mengutip pejabat Iran yang mengatakan bahwa sebuah kapal telah memasuki perairan teritorial Iran tanpa izin hukum yang diperlukan. Kapal tersebut diperingatkan dan meninggalkan daerah tersebut tanpa kejadian keamanan khusus.
Protes Antipemerintah dan Tindakan Militer
Ketegangan di Selat Hormuz juga terkait dengan tindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah bulan lalu. Trump, meskipun tidak sampai melakukan ancaman intervensi, menuntut konsesi nuklir dari Iran dan mengirimkan armada ke pantainya. Ia mengatakan bahwa Iran “serius berdiskusi,” sementara pejabat keamanan tertinggi Teheran, Ali Larijani, mengatakan pengaturan untuk negosiasi sedang berlangsung.
Prioritas upaya diplomatik adalah untuk menghindari konflik dan meredakan ketegangan. Kekuatan regional seperti Pakistan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, Oman, dan Uni Emirat Arab juga diundang, meskipun tidak jelas apakah partisipasi mereka akan dilanjutkan.
Kekuasaan dan Ancaman Internal
Kepemimpinan Iran diklaim semakin khawatir serangan AS dapat mematahkan cengkeraman kekuasaannya dengan mendorong publik yang sudah marah kembali ke jalanan. Menurut enam pejabat Iran saat ini dan mantan pejabat Iran, rasa takut bukan lagi penghalang.
Pada Juni, Amerika Serikat menyerang target nuklir Iran, bergabung di akhir kampanye pengeboman Israel selama 12 hari. Sejak itu, Teheran mengatakan pekerjaan pengayaan uraniumnya – yang menurut mereka untuk tujuan damai, bukan militer – telah dihentikan.
Persyaratan dan Fleksibilitas
Sumber-sumber Iran mengatakan bahwa Trump telah menuntut tiga syarat untuk dimulainya kembali pembicaraan: Pengayaan uranium nol di Iran, pembatasan program rudal balistik Teheran, dan penghentian dukungannya terhadap proksi regional. Iran mengatakan bahwa ketiga tuntutan tersebut merupakan pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat diterima, tetapi dua pejabat Iran mengatakan bahwa penguasa ulama mereka melihat program rudal balistik, bukan pengayaan uranium, sebagai hambatan yang lebih besar.
Seorang pejabat Iran mengatakan: “Diplomasi sedang berlangsung. Agar pembicaraan dapat dilanjutkan, Iran mengatakan tidak boleh ada prasyarat dan bahwa mereka siap untuk menunjukkan fleksibilitas dalam pengayaan uranium, termasuk menyerahkan 400 kg uranium yang sangat diperkaya (HEU), menerima pengayaan nol di bawah pengaturan konsorsium sebagai solusi.”
Pengaruh Regional dan Stabilitas
Pengaruh regional Teheran telah melemah akibat serangan Israel terhadap proksi-proksinya – mulai dari Hamas di Gaza hingga Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi di Irak – serta penggulingan sekutu dekat Iran, mantan presiden Suriah Bashar al-Assad. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas di kawasan masih menjadi tantangan besar bagi semua pihak terkait.












